KebonCinta.com - Peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar secara nasional belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pendidikan di berbagai daerah. Sebuah studi menemukan delapan dari sembilan wilayah yang diteliti justru mengalami penurunan capaian pada kedua indikator tersebut sepanjang 2025.
Temuan ini tertuang dalam penelitian Enuma bersama Telaah Institute bertajuk Membangun Ekosistem Pembelajaran Digital yang Berkelanjutan: Pelajaran dari Sembilan Daerah. Hasil studi tersebut dipaparkan pada Selasa (3/11/2026). Penelitian ini didanai Korea International Cooperation Agency (KOICA) melalui program Inclusive Business Solution (IBS).
Studi tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara tren nasional dan kondisi di sejumlah daerah. Secara nasional, rata-rata nilai literasi pada 2025 mencapai 60,2 atau meningkat 2,8 poin dibandingkan 2024 yang berada di angka 57,4. Sementara itu, rata-rata numerasi naik dari 47,1 menjadi 53,3 atau bertambah 6,2 poin.
Namun, peningkatan tersebut tidak terjadi secara merata. Dari sembilan daerah yang menjadi objek penelitian, hanya DKI Jakarta yang mencatat kenaikan nilai literasi dan numerasi sekaligus. Delapan wilayah lainnya mengalami penurunan pada kedua aspek tersebut.
Baca Juga: PIP Madrasah 2026 Tahap II Dibuka, Siswa MI hingga MA Bisa Terima Bantuan Rp1,8 Juta
Penelitian melibatkan 26 responden dari sembilan wilayah, yaitu Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bogor, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Tangerang, Kota Balikpapan, Kota Denpasar, dan DKI Jakarta.
Penelitiannya berlangsung selama tiga bulan dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif menggunakan data sekunder dari Rapor Pendidikan Daerah, APBD Pendidikan, dan Neraca Pendidikan. Sementara itu, pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam secara daring dengan pemangku kepentingan di dinas pendidikan dan instansi terkait.
Peneliti Telaah Institute, Akbar Dzidan, menjelaskan studi tersebut bertujuan menganalisis kesiapan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan program pembelajaran digital yang berkelanjutan pada jenjang sekolah dasar.
Kesenjangan capaian terlihat pada enam kabupaten yang diteliti, yakni Aceh Utara, Manggarai, Tangerang, PALI, Pelalawan, dan Bogor. Keenam wilayah tersebut mencatat nilai literasi maupun numerasi di bawah rata-rata nasional pada 2025.
Menurut Akbar, daerah dengan capaian di bawah rata-rata nasional tersebut umumnya merupakan kabupaten yang memiliki karakteristik wilayah dengan dominasi kawasan pedesaan.
Pada indikator literasi, Kabupaten Aceh Utara mencatat nilai terendah, yakni 45,8. Angka tersebut turun 1,8 poin dibandingkan 2024 yang mencapai 47,6. Penurunan paling besar terjadi di Kabupaten Bogor, dengan capaian berkurang 3,9 poin dari 61,1 menjadi 57,2.
Sementara itu, Kota Denpasar memperoleh nilai literasi 66,4, disusul Kota Balikpapan sebesar 64,9. Meski berada di atas rata-rata nasional, kedua kota tersebut tetap mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. DKI Jakarta menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami peningkatan, meskipun kenaikannya relatif kecil, yakni dari 71,3 menjadi 71,5.
Kondisi serupa terlihat pada kemampuan numerasi. Kabupaten Aceh Utara kembali menempati posisi terendah dengan nilai 42,0, turun dari 45,8 pada 2024. Penurunan terbesar juga terjadi di Kabupaten Bogor, yakni sebesar 4,4 poin dari 54,1 menjadi 49,7.
Adapun nilai numerasi Kota Denpasar tercatat 53,6, sedangkan Kota Balikpapan sebesar 51,8. Kedua wilayah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Berbeda dengan daerah lainnya, DKI Jakarta mencatat kenaikan numerasi paling tinggi, dari 52,8 menjadi 59,3 atau meningkat 6,5 poin.
Perbedaan capaian antardaerah tersebut menjadi perhatian dalam upaya memperkuat kualitas pendidikan dasar. Peningkatan rata-rata nasional perlu diikuti pemerataan kemampuan belajar agar siswa di berbagai wilayah memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.
Studi Enuma dan Telaah Institute juga menempatkan kesiapan pemerintah daerah sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan pembelajaran digital berkelanjutan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir