5. Kembalikan siswa ke kelompok asal. Setiap anggota mendapat giliran menyampaikan hasil diskusi kelompok ahli. Teman lainnya mendengarkan, mencatat informasi penting, dan mengajukan pertanyaan. Guru dapat menyediakan tabel ringkasan untuk membantu siswa menyatukan seluruh bagian materi.
6. Lakukan pemeriksaan pemahaman individu. Berikan kuis singkat atau pertanyaan lisan yang mencakup seluruh subtopik, bukan hanya bagian yang dipelajari siswa sebagai ahli. Akhiri dengan refleksi tentang materi yang dipahami dan kerja sama kelompok.
Baca Juga: Metode Pembelajaran Terbalik (Flipped Classroom): Ketika Siswa Menjadi Pengajar
Misalnya, guru kelas V ingin membahas sumber energi terbarukan. Dalam kelas berisi 24 siswa, guru membentuk enam kelompok asal, masing-masing beranggota empat orang. Setiap anggota mendapat satu subtopik berikut:
Selanjutnya, enam siswa dari kelompok asal yang berbeda tetapi memegang subtopik sama bergabung dalam satu kelompok ahli. Mereka menyiapkan jawaban atas tiga pertanyaan: dari mana energinya berasal, bagaimana pemanfaatannya, dan apa contoh penerapannya?
Setelah itu, seluruh siswa kembali ke kelompok asal. Setiap “ahli” menjelaskan topiknya selama beberapa menit. Anggota lain mengisi tabel dengan kolom sumber energi, cara pemanfaatan, dan contoh penggunaan. Guru berkeliling untuk memastikan penjelasan akurat serta semua siswa memperoleh kesempatan berbicara.
Untuk dua jam pelajaran masing-masing 35 menit, pembagian waktu dapat dicoba sebagai berikut: 10 menit pengantar dan pembentukan kelompok, 15 menit diskusi ahli, 25 menit berbagi di kelompok asal, 10 menit kuis individu, serta 10 menit refleksi. Ini hanya contoh alokasi yang dapat disesuaikan dengan kondisi kelas.
Penilaian sebaiknya mencakup pemahaman materi dan proses kerja sama. Guru dapat menggunakan kuis individu berisi empat pertanyaan, masing-masing mewakili satu subtopik, untuk melihat apakah siswa memahami seluruh materi.
Selama diskusi, guru juga dapat mengamati kemampuan menjelaskan informasi, mendengarkan teman, mengajukan pertanyaan, serta menghargai giliran berbicara. Catatan pengamatan dapat dibuat sederhana dengan kategori sudah terlihat, mulai berkembang, atau membutuhkan pendampingan.
Penilaian individu penting agar aktivitas Jigsaw tidak berubah menjadi kegiatan ketika satu anak bekerja dan anak lain hanya mengikuti hasilnya.
Jigsaw memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca, berdiskusi, menjelaskan, dan mendengarkan secara aktif. Kegiatan ini juga melatih tanggung jawab atas bagian materi yang diterima. Namun, keberhasilan tidak otomatis terjadi hanya karena siswa dipindahkan ke kelompok.
Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2023, berdasarkan 69 penelitian Jigsaw, menemukan hasil yang bervariasi terhadap capaian belajar, motivasi, dan hubungan sosial. Karena itu, guru perlu menilai dampaknya sesuai keadaan kelas, bukan menganggap satu metode pasti cocok untuk semua materi.
Untuk siswa yang belum lancar membaca, guru dapat memberi teks lebih singkat, ilustrasi, atau kalimat bantu. Jika kelompok ahli terlalu besar, pecah menjadi dua kelompok kecil dengan subtopik sama.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir