keboncinta.com- Mengapa ada pelajar yang rajin mengikuti pengajian, tetapi kesulitan mengamalkan ilmunya? Mengapa banyaknya pelajaran yang dihafal belum tentu membuat seseorang lebih bijaksana?
Pertanyaan tentang hubungan antara belajar, perilaku, dan manfaat ilmu menjadi perhatian dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Kitab yang dikenal di lingkungan pesantren ini membicarakan cara menuntut ilmu sekaligus sikap yang perlu dibangun oleh seorang pelajar.
Pesan pentingnya adalah bahwa keberhasilan belajar berkaitan dengan tujuan, cara, ketekunan, serta adab selama menjalani prosesnya. Karena itu, pembahasannya tetap menarik dibaca ketika pelajar menghadapi tugas sekolah, ujian, maupun derasnya informasi digital.
Kitab ini dikenal dengan judul Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum. Secara sederhana, judul tersebut dapat dipahami sebagai pengajaran kepada penuntut ilmu mengenai jalan atau cara belajar.
Isinya menggabungkan dimensi etika dan strategi belajar. Pembaca diajak memperhatikan niat, memilih guru dan teman, menghormati ilmu, bersungguh-sungguh, mengatur waktu, serta mengambil manfaat dari pelajaran.
Kajian Yundri Akhyar dalam jurnal Al-Fikra menyoroti bahwa kitab tersebut juga memuat metode seperti mengulang pelajaran dan berdiskusi. Dengan demikian, mempelajarinya tidak cukup hanya dengan mengingat nasihat tentang sopan santun.
Ada perhatian terhadap bagaimana ilmu dipahami, dipelihara, dan dipergunakan.
Pengarangnya dikenal sebagai Syekh Az-Zarnuji, yang dalam berbagai literatur disebut dengan gelar Burhanuddin atau Burhan al-Islam. Ia dikenal sebagai ulama yang berafiliasi dengan mazhab Hanafi.
Namun, keterangan mengenai nama lengkap, tempat kelahiran, serta tahun lahir dan wafatnya tidak seluruhnya seragam.
Kajian dalam jurnal Briliant membahas perbedaan riwayat tersebut dan menempatkannya dalam lingkungan keilmuan sekitar abad ke-12 hingga ke-13 Masehi. Karena keterbatasan data biografis, tanggal-tanggal tertentu sebaiknya tidak disebut sebagai kepastian tanpa penjelasan sumber.
Hal yang lebih jelas adalah keterkaitan nama Az-Zarnuji dengan karya tentang etika dan metode menuntut ilmu ini.
Dalam pembahasan mengenai latar penulisannya, Az-Zarnuji menyoroti pelajar yang bersungguh-sungguh mencari ilmu tetapi belum memperoleh manfaat sebagaimana diharapkan, termasuk dalam pengamalan dan penyebarannya.
Perhatian tersebut mengarahkan pembahasan pada cara belajar dan ketentuan yang perlu dijaga selama menuntut ilmu.
Persoalannya dekat dengan pengalaman sehari-hari. Seseorang bisa selesai membaca satu bab, tetapi belum mampu menjelaskan isinya. Ia juga dapat memahami suatu nasihat, tetapi belum membiasakannya dalam perilaku.
Kitab ini mengajak pembaca memeriksa proses di balik hasil belajar.
Baca juga: Adab Guru dan Murid dalam Islam
Secara umum, pembahasan Ta’lim Muta’allim terbagi dalam 13 pasal. Redaksi judul dalam terjemahan dapat berbeda, tetapi pokoknya meliputi:
Daftar tersebut memperlihatkan luasnya perhatian kitab, dari tujuan batin hingga kebiasaan belajar.
Salah satu pokok ajarannya adalah menata niat. Menuntut ilmu diarahkan untuk mencari rida Allah, menghilangkan kebodohan, dan menghadirkan manfaat.
Dalam penerapan sekarang, seorang pelajar dapat bertanya kepada dirinya: setelah memahami materi ini, apa yang bisa saya perbaiki atau kerjakan dengan lebih baik?
Misalnya, belajar fikih membantu memperbaiki ibadah. Belajar bahasa memudahkan memahami bacaan dan berkomunikasi. Belajar matematika membantu menyelesaikan persoalan secara teratur.
Contoh tersebut merupakan penerapan masa kini, bukan kutipan langsung dari kitab. Tujuannya membantu pelajar menghubungkan kegiatan belajar dengan manfaat yang konkret.
Penghormatan terhadap ilmu dan guru merupakan tema penting dalam kitab ini.
Dalam kegiatan belajar, penghormatan dapat diwujudkan dengan menyimak penjelasan, menjaga buku, mempersiapkan pelajaran, dan mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang baik.
Adab dapat berjalan bersama keaktifan berpikir. Santri yang belum memahami penjelasan dapat mencatat kesulitannya, lalu menanyakan alasan atau contoh pada kesempatan yang tepat.
Diskusi juga diarahkan untuk memperjelas persoalan, bukan mempermalukan teman atau sekadar memenangkan perdebatan.
Dengan cara tersebut, hubungan yang baik mendukung keberanian belajar sekaligus menjaga suasana pengajian.
Baca juga: Mengenal Metode Sorogan dan Bandongan dalam Pendidikan Pesantren
Ta’lim Muta’allim juga menaruh perhatian pada kesungguhan serta pemilihan teman yang mendukung proses belajar.
Penerapannya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: mengulang pelajaran setelah pengajian, mencatat bagian yang belum jelas, dan berdiskusi dengan teman yang mau saling membantu.
Sebagai contoh, setelah mempelajari satu paragraf kitab, santri dapat mencoba menjelaskan kembali maksudnya tanpa langsung melihat catatan. Bagian yang masih kabur dibawa kepada guru untuk diperiksa.
Latihan tersebut merupakan contoh pengembangan kegiatan belajar sekarang. Ia membantu mengubah nasihat umum tentang ketekunan menjadi tindakan yang dapat dilakukan.
Tawakal pun ditempatkan bersama usaha belajar. Pelajar tetap membaca, berlatih, dan meminta penjelasan sambil menyerahkan hasil kepada Allah.
Bagi pemula, kitab ini sebaiknya dipelajari bertahap dengan bimbingan guru. Catat perbedaan antara teks utama, penjelasan pensyarah, dan contoh yang diberikan pengajar.
Langkah ini penting karena sebuah nasihat klasik memiliki konteks bahasa dan tradisi keilmuan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir