Berita
Rahman Abdullah

Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Sekolah Terdampak Erupsi Tak Perlu Paksakan Tatap Muka

Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Sekolah Terdampak Erupsi Tak Perlu Paksakan Tatap Muka

07 September 2026 | 10:10

Keboncinta.com-- Situasi darurat akibat erupsi Gunung Anak Krakatau membuat satuan pendidikan perlu menyesuaikan pelaksanaan kegiatan belajar dengan kondisi lingkungan. Sekolah tidak harus menerapkan pola pembelajaran seperti hari-hari normal apabila keadaan belum memungkinkan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (MendikdasmenAbdul Mu'ti menegaskan bahwa sekolah memiliki fleksibilitas untuk mengatur kembali waktu dan durasi pembelajaran selama kondisi darurat.

Penyesuaian tersebut dapat dilakukan dengan melihat perkembangan situasi di masing-masing wilayah. Kebijakan ini bertujuan agar kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

Baca Juga: Guru Madrasah Dapat Penguatan Numerasi lewat Program KREASI Kemenag dan Save the Children

PJJ Bisa Diterapkan di Wilayah Terdampak

Bagi sekolah yang berada di kawasan dengan dampak erupsi cukup berat, kegiatan pembelajaran dapat dialihkan dari sekolah ke rumah melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Selain belajar dari rumah, sekolah juga dapat memanfaatkan lokasi alternatif yang dinilai aman untuk melaksanakan kegiatan pendidikan. Teknologi pembelajaran jarak jauh dapat digunakan sebagai pendukung agar siswa tetap memperoleh layanan pendidikan.

Dengan pilihan tersebut, proses belajar tidak harus dihentikan sepenuhnya hanya karena lingkungan sekolah belum aman. Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing satuan pendidikan.

Guru Berperan dalam Edukasi Keselamatan Siswa

Kondisi bencana juga membuat tanggung jawab guru tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi akademik. Guru memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai kesehatan dan keselamatan.

Edukasi tersebut diperlukan agar siswa mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi dampak erupsi. Informasi mengenai langkah perlindungan diri juga dapat membantu siswa lebih siap menghadapi situasi darurat.

Guru juga diharapkan mampu membantu menciptakan suasana yang tenang sehingga siswa tidak mudah panik. Dengan komunikasi yang baik, sekolah dapat membantu menjaga kondisi psikologis dan keamanan peserta didik selama masa darurat.

Baca Juga: Sekolah Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Boleh PJJ, Jam Belajar Bisa Disesuaikan

Tatap Muka Tidak Perlu Dipaksakan

Dalam menentukan metode pembelajaran, sekolah perlu mempertimbangkan kondisi aktual di lingkungan masing-masing. Jika situasi belum aman, pembelajaran tatap muka tidak perlu dipaksakan.

Sekolah dapat memilih pembelajaran jarak jauh atau lokasi alternatif hingga kondisi memungkinkan untuk kembali belajar di sekolah.

Sebaliknya, satuan pendidikan yang berada di wilayah yang tidak terdampak langsung masih dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Namun, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan berbagai langkah pencegahan sesuai perkembangan situasi.

Sekolah yang Tetap Tatap Muka Wajib Waspada

Sekolah yang masih menyelenggarakan pembelajaran secara langsung tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Langkah perlindungan kesehatan harus menjadi bagian dari kegiatan belajar selama terdapat potensi dampak abu vulkanik.

Penggunaan masker menjadi salah satu tindakan yang dianjurkan bagi guru dan siswa. Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi apabila kondisi udara belum mendukung.

Selain itu, pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi kemungkinan abu atau material dari udara luar masuk ke dalam ruang kelas.

Dengan demikian, pembelajaran tatap muka tetap dapat dilakukan apabila kondisi memungkinkan, tetapi harus disertai langkah perlindungan yang memadai.

Baca Juga: Mahasiswa KIP Kuliah Wajib Tahu, Perubahan Desil Tak Otomatis Hentikan Bantuan

Pemerintah Terus Memantau Kondisi Sekolah

Pemerintah juga terus memonitor kondisi satuan pendidikan di wilayah yang berpotensi terdampak erupsi. Pemantauan diperlukan karena situasi bencana dapat berubah sewaktu-waktu.

Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut, belum terdapat informasi mengenai kerusakan bangunan sekolah maupun korban jiwa dari kalangan siswa dan guru.

Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu dipantau secara berkala. Sekolah diminta mengikuti perkembangan informasi dari pemerintah dan pihak berwenang sebelum menentukan metode serta jadwal pembelajaran.

Fleksibilitas dalam mengatur jam belajar, penerapan PJJ, maupun penggunaan lokasi alternatif menjadi pilihan yang dapat digunakan agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung dengan mengutamakan keselamatan seluruh warga sekolah.***

Tags:
pendidikan sekolah kemendikdasmen

Komentar Pengguna