Berita
Hilmi An Naufal

Mahasiswa UMY Kembangkan ReBumi, Inovasi Limbah Popok Jadi Pupuk Raih Dana 3.000 Euro

Mahasiswa UMY Kembangkan ReBumi, Inovasi Limbah Popok Jadi Pupuk Raih Dana 3.000 Euro

22 Agustus 2026 | 11:04

Keboncinta.com — Empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengembangkan gagasan pengolahan limbah popok sekali pakai menjadi pupuk organik melalui proyek bernama ReBumi.

Inovasi tersebut memperoleh pendanaan internasional sebesar 3.000 euro melalui program beVisioneers: The Mercedes-Benz Fellowship. Dana itu akan digunakan untuk mengembangkan metode pengolahan, melakukan pengujian, dan menyempurnakan konsep sebelum diterapkan dalam skala lebih luas.

Proyek tersebut memiliki nama lengkap ReBumi: A Systematic Approach to Repurposing Used Diapers into Organic Fertilizer: The Way Forward in Solving Indonesia’s Used Diaper Waste.

Tim ReBumi diketuai Mohamed Baillor Jalloh, mahasiswa Program Studi International Program of Islamic Economics and Finance UMY. Tiga anggota lainnya adalah Muhammad Nabil Adha dan Raffi Ahmad Taupik dari Program Studi Agribisnis, serta Ilman Muhtar dari Program Studi Agroteknologi.

Pengembangan proyek didampingi dosen Agribisnis UMY, Cahyo Wisnu Rubiyanto, yang bertindak sebagai supervisor.

Menghubungkan Persoalan Sampah dan Pertanian

ReBumi berangkat dari persoalan limbah popok sekali pakai yang sulit terurai secara alami. Apabila tidak dikelola dengan tepat, sampah tersebut dapat menambah beban tempat pemrosesan akhir sekaligus berpotensi mencemari lingkungan.

Tim mahasiswa UMY berusaha melihat limbah tersebut bukan hanya sebagai barang yang harus dibuang. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, material yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan akan diarahkan menjadi produk bernilai guna bagi sektor pertanian.

Pendekatan itu menghubungkan dua persoalan sekaligus, yakni meningkatnya limbah rumah tangga dan kebutuhan terhadap produk pendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.

Komposisi tim yang berasal dari tiga program studi memberikan ruang bagi pengembangan proyek secara lintas disiplin. Keahlian ekonomi dan keuangan, agribisnis, serta agroteknologi dapat digunakan bersama untuk menilai kelayakan teknis, manfaat pertanian, dan kemungkinan penerapan model usaha.

Masih Memerlukan Pengujian

Walaupun kerap disebut sebagai inovasi pengolahan popok menjadi pupuk, ReBumi masih berada pada tahap pengembangan. Pendanaan yang diperoleh bukan berarti produk tersebut telah siap diproduksi atau digunakan secara luas.

Tim masih perlu menyempurnakan metode pemilahan, pengolahan, sanitasi, dan pengujian hasil akhirnya. Proses tersebut penting karena popok bekas dapat mengandung material plastik, bahan penyerap, dan kontaminan yang tidak boleh langsung digunakan pada tanaman.

Pengujian juga dibutuhkan untuk memastikan produk yang dihasilkan aman, memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tanaman, serta tidak menimbulkan pencemaran baru pada tanah maupun air.

Informasi teknis terperinci mengenai metode pengolahan yang akan digunakan belum diumumkan. Karena itu, manfaat ReBumi nantinya perlu dinilai berdasarkan hasil pengujian, bukan hanya berdasarkan konsep awalnya.

Tim merencanakan penggunaan dana awal sebesar 3.000 euro untuk melanjutkan penelitian dan menyiapkan implementasi proyek dalam skala lebih besar.

Berawal dari Kepedulian terhadap Limbah Rumah Tangga

Semangat pengembangan ReBumi sejalan dengan kegiatan pengabdian masyarakat yang sebelumnya dilakukan Cahyo Wisnu Rubiyanto di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diajak mengolah popok bekas menjadi pot sebagai bentuk edukasi mengenai pemanfaatan kembali limbah rumah tangga. Kegiatan itu memperlihatkan bahwa perubahan cara pandang terhadap sampah dapat dimulai dari aktivitas sederhana di lingkungan masyarakat.

Namun, pemanfaatan popok sebagai pot berbeda dengan pengolahan material menjadi pupuk. ReBumi memiliki tantangan teknis lebih besar karena produk akhirnya diarahkan untuk berhubungan dengan tanah dan tanaman.

Oleh sebab itu, aspek keamanan, kebersihan, pemisahan material, dan efektivitas produk menjadi bagian penting dalam tahap pengembangan berikutnya.

Didukung Fellowship Lingkungan Global

beVisioneers: The Mercedes-Benz Fellowship merupakan program global bagi inovator muda yang mengembangkan solusi untuk persoalan lingkungan dan keberlanjutan.

Program tersebut didanai oleh Mercedes-Benz dan dijalankan oleh organisasi nirlaba DO School Fellowships. Peserta memperoleh pembelajaran terstruktur, pendampingan dari mentor, akses jejaring, dan dukungan finansial untuk mengembangkan proyek.

Bidang yang menjadi perhatian program antara lain pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular, energi bersih, material alternatif, transportasi berkelanjutan, serta akses energi.

Selain pendanaan awal yang diterima Tim ReBumi, peserta fellowship memiliki peluang memperoleh dukungan proyek hingga 20.000 euro pada tahapan tertentu. Kesempatan tersebut bukan bantuan yang otomatis diterima seluruh peserta karena bergantung pada ketentuan dan perkembangan masing-masing proyek.

Berpeluang Menjadi Model Ekonomi Sirkular

Apabila metode yang dikembangkan terbukti aman dan efektif, ReBumi berpeluang menjadi salah satu alternatif pengelolaan limbah popok di Indonesia.

Penerapannya juga dapat membuka peluang kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, pengelola sampah, dan sektor pertanian. Sistem pengumpulan dan pemilahan limbah perlu dibangun agar popok bekas tidak bercampur dengan sampah rumah tangga lainnya.

Selain aspek teknologi, proyek tersebut perlu mempertimbangkan biaya pengolahan, penerimaan masyarakat, standar keamanan, dan kelayakan penerapan di lapangan.

Keberhasilan ReBumi nantinya tidak hanya diukur dari kemampuan mengubah limbah menjadi produk baru. Inovasi tersebut juga harus mampu memastikan prosesnya aman, ekonomis, dapat diterapkan secara berkelanjutan, dan benar-benar mengurangi beban lingkungan.

Pendanaan internasional yang diterima menjadi modal awal bagi Tim ReBumi untuk membuktikan gagasannya melalui penelitian serta pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna