Berita
Hilmi An Naufal

Mahasiswa Teknokrat Tembus Enam Besar Kompetisi Keamanan Siber Nasional

Mahasiswa Teknokrat Tembus Enam Besar Kompetisi Keamanan Siber Nasional

28 Agustus 2026 | 17:39

Keboncinta — Tim mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia berhasil masuk jajaran enam besar nasional dalam kompetisi keamanan siber Rise The Ranger 2. Kompetisi kategori Attack and Defense tersebut diselenggarakan Satuan Siber Tentara Nasional Indonesia.

Tim yang mewakili Divisi Keamanan Siber Unit Kegiatan Mahasiswa Programming Teknokrat itu diperkuat tiga mahasiswa. Mereka adalah Erwin Wijaya dan Rizki Dwi Saputra dari Program Studi Informatika, serta Angelica Christiani Susanto dari Program Studi Sistem Informasi.

Ketiganya mendapatkan pendampingan dari dosen Universitas Teknokrat Indonesia, Yuri Rahmanto. Pendampingan dilakukan sejak persiapan teknis hingga tim mengikuti rangkaian kompetisi.

Pada tahap penyisihan, tim Teknokrat berhasil menduduki peringkat pertama. Hasil itu mengantarkan mereka menuju babak final yang diselenggarakan di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, pada 24 Agustus 2026.

Kompetisi diikuti 60 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Universitas Teknokrat kemudian masuk enam besar bersama Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Politeknik Siber dan Sandi Negara, serta Institut Teknologi Bandung.

Kategori Attack and Defense menuntut peserta menjalankan dua tugas dalam waktu bersamaan. Tim harus menemukan celah pada sistem lawan, tetapi pada saat yang sama wajib mempertahankan sistemnya sendiri dari serangan peserta lain.

Karakter kompetisi tersebut berbeda dari ujian teori biasa. Peserta membutuhkan kemampuan menilai kerentanan, memahami jaringan, mendeteksi serangan, memantau sistem, dan menentukan tindakan pertahanan dalam waktu terbatas.

Selain keterampilan teknis, komunikasi dan pembagian tugas menjadi faktor penting. Setiap anggota harus memahami perannya karena keterlambatan mengambil keputusan dapat memengaruhi kondisi sistem dan perolehan nilai tim.

Keberhasilan menembus enam besar menunjukkan pentingnya ruang belajar di luar perkuliahan. Melalui UKM dan kompetisi, mahasiswa dapat menguji kemampuan menggunakan persoalan yang lebih dekat dengan situasi keamanan digital di dunia nyata.

Pengalaman tersebut juga dapat membantu mahasiswa mengenali bagian kompetensi yang masih perlu dikembangkan. Hasil kompetisi seharusnya tidak berhenti menjadi penghargaan, tetapi dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi, riset, dan pengembangan latihan berikutnya.

Keamanan siber kini menjadi salah satu bidang yang semakin dibutuhkan seiring meningkatnya penggunaan sistem digital. Layanan pemerintah, pendidikan, perbankan, kesehatan, dan dunia usaha membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjaga kerahasiaan, keutuhan, dan ketersediaan data.

Perguruan tinggi memiliki peran menyiapkan talenta tersebut melalui pembelajaran, laboratorium, organisasi mahasiswa, riset, dan kerja sama dengan institusi terkait. Latihan juga perlu dilaksanakan dalam lingkungan yang sah dan beretika agar kemampuan teknis digunakan untuk melindungi sistem.

Prestasi tim Teknokrat diharapkan mendorong mahasiswa lain untuk mendalami keamanan jaringan, pengujian keamanan, respons insiden, analisis kerentanan, dan pertahanan siber. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal akademik sekaligus modal memasuki industri teknologi.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna