Berita
Hilmi An Naufal

Mahasiswa KKN UGM Olah Air Belerang Lereng Merbabu Jadi Layak Konsumsi

Mahasiswa KKN UGM Olah Air Belerang Lereng Merbabu Jadi Layak Konsumsi

21 Agustus 2026 | 08:43

KEBONCINTA.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada menghadirkan teknologi penyaringan air bagi masyarakat di lereng Gunung Merbabu.

Tim KKN-PPM UGM Ngablak Akara bersama warga mengembangkan sistem filter untuk mengolah sumber air yang mengandung belerang agar dapat dimanfaatkan sebagai tambahan pasokan air bersih.

Program tersebut dilaksanakan di Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Air hasil penyaringan telah menjalani pengujian laboratorium untuk memastikan kualitasnya tidak hanya terlihat bersih secara fisik, tetapi juga memenuhi parameter yang diperlukan sebelum digunakan masyarakat.

Air Melimpah tetapi Mengandung Belerang

Masyarakat Dusun Deles sebenarnya tidak mengalami kesulitan memperoleh air pada sebagian besar waktu.

Jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat atau Pamsimas telah mengalirkan air ke rumah-rumah warga. Sumber air juga dapat ditemukan di sekitar ladang dan lahan pertanian di kaki Gunung Merbabu.

Namun, kekhawatiran muncul ketika memasuki musim kemarau. Ketersediaan pasokan dapat menurun sehingga masyarakat membutuhkan sumber air tambahan.

Warga memiliki sumber air dari titik yang lebih tinggi dan biasa menyebutnya sebagai air Merbabu. Sumber tersebut tersedia cukup melimpah, tetapi mengandung belerang.

Kondisi itu membuat air lebih sering digunakan untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan. Masyarakat jarang memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga, terutama sebagai air konsumsi.

Mahasiswa dan Warga Memasang Filter Air

Melihat potensi tersebut, Tim KKN UGM Ngablak Akara bersama masyarakat menginisiasi pengadaan filter air.

Tujuannya adalah memanfaatkan air Merbabu sebagai cadangan dan tambahan pasokan bagi jaringan Pamsimas, terutama ketika musim kemarau.

Filter ditempatkan di dekat bak penampungan Pamsimas yang telah tersedia. Penempatan tersebut membuat air hasil penyaringan dapat disalurkan melalui jaringan distribusi yang sudah terhubung ke rumah warga.

Cara itu dinilai lebih efisien karena masyarakat tidak perlu membangun seluruh infrastruktur penyaluran air dari awal.

Anggota Tim KKN UGM, Agustina Herawati, menjelaskan bahwa sistem penyaringan diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan sumber air yang sebelumnya terbatas untuk pertanian.

Air Diperiksa di Laboratorium

Sebelum sistem digunakan, Tim KKN Ngablak Akara melakukan pengujian terhadap sampel air sebelum dan sesudah proses penyaringan.

Pengujian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kesehatan Lingkungan Salatiga.

Parameter yang diperiksa meliputi:

  1. Kandungan bakteri Escherichia coli atau E. coli.

  2. Kandungan bakteri Coliform.

  3. Kondisi fisik air.

  4. Kandungan kimia air.

Pemeriksaan laboratorium diperlukan karena air yang tampak jernih belum tentu aman dikonsumsi. Kontaminasi mikrobiologis dan kimia tidak selalu dapat dikenali hanya melalui warna, aroma, atau rasa.

Hasil pengujian menjadi dasar untuk menilai efektivitas filter sekaligus memastikan bahwa air setelah melalui penyaringan layak dimanfaatkan.

Meski telah diuji, kualitas sumber air tetap perlu dipantau secara berkala. Kondisi air dapat berubah akibat musim, lingkungan, perawatan filter, dan kebersihan tempat penampungan.

Melibatkan Masyarakat dan Pemerintah Desa

Pengadaan filter tidak hanya dikerjakan mahasiswa. Program tersebut melibatkan warga Dusun Deles, pengurus Pamsimas, dan Pemerintah Desa Jogonayan.

Kolaborasi diperlukan agar fasilitas dapat terus digunakan setelah periode KKN mahasiswa berakhir.

Masyarakat dan pengurus Pamsimas memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan bak, memeriksa kondisi filter, melakukan penggantian komponen, dan memastikan jaringan distribusi tetap berfungsi.

Pemerintah desa dapat mendukung dari sisi pengelolaan, pembiayaan perawatan, serta pengawasan kualitas air.

Tanpa sistem pemeliharaan yang jelas, efektivitas filter dapat menurun dan kualitas air berisiko berubah.

Teknologi Tepat Guna untuk Kebutuhan Warga

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Ngablak Akara, Dr. Ir. Endy Triyannanto, menilai program tersebut sebagai penerapan sains dan teknologi tepat guna untuk menjawab kebutuhan mendasar masyarakat.

Teknologi tepat guna tidak selalu harus menggunakan peralatan rumit atau berbiaya tinggi. Hal terpenting adalah teknologi sesuai dengan persoalan, dapat digunakan masyarakat, serta mampu dipelihara dalam jangka panjang.

Dalam program ini, mahasiswa tidak membangun sistem air yang sepenuhnya baru. Mereka memanfaatkan sumber air yang tersedia dan menghubungkannya dengan infrastruktur Pamsimas yang telah dimiliki warga.

Pendekatan tersebut membuat hasil program berpeluang memberikan manfaat lebih berkelanjutan.

Menjadi Cadangan Saat Musim Kemarau

Kepala Desa Jogonayan, Tumarno, menyambut positif pengolahan sumber air Merbabu tersebut.

Sebelumnya, warga belum membayangkan air yang mengandung belerang dapat diolah agar lebih bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga.

Keberadaan filter kini memberikan pilihan sumber air tambahan, terutama saat pasokan utama berkurang pada musim kemarau.

Program ini juga menunjukkan bahwa kegiatan KKN dapat menjadi ruang penerapan ilmu mahasiswa untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata.

Tahap berikutnya yang tidak kalah penting adalah memastikan filter dirawat, kualitas air diperiksa secara berkala, dan pengelola lokal mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk mengoperasikan sistem.

Tags:
Mahasiswa

Komentar Pengguna