Berita
Hilmi An Naufal

KKN Gentaskin Batch 2 Berakhir, Mahasiswa Mengabdi di 13 Kabupaten NTT

KKN Gentaskin Batch 2 Berakhir, Mahasiswa Mengabdi di 13 Kabupaten NTT

02 September 2026 | 18:38

KEBONCINTA.COM – Mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik Generasi NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif Batch 2 menyelesaikan masa pengabdian setelah sekitar dua bulan menjalankan program di desa-desa sasaran.

Penarikan mahasiswa dilaksanakan di Kampus Institut Pendidikan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, pada Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan tersebut sekaligus digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan program bersama perguruan tinggi, pemerintah daerah, dosen pembimbing, dan masyarakat.

Program yang dikenal dengan nama Gentaskin itu berfokus pada penanganan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem. Mahasiswa terlibat dalam edukasi kesehatan, kegiatan mengajar, pendampingan warga, serta pengembangan potensi lokal.

Penarikan dilakukan secara serentak di 13 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk wilayah Flores, penarikan dilaksanakan lebih awal karena gempa bumi berdampak terhadap sejumlah lokasi pengabdian.

Sebagian mahasiswa yang bertugas di wilayah terdampak turut membantu kegiatan kemanusiaan sebagai relawan. Keterlibatan itu menjadi bentuk penyesuaian program terhadap kebutuhan mendesak masyarakat setelah bencana.

Kepala LLDIKTI Wilayah XV Adrianus Amheka menilai Gentaskin tidak semestinya dipandang hanya sebagai kewajiban akademik. Program tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepemimpinan, kepedulian sosial, kemampuan bekerja dalam tim, dan kepekaan terhadap persoalan warga.

Mahasiswa berhadapan langsung dengan kondisi yang berbeda dari lingkungan kampus. Mereka perlu memahami kebiasaan masyarakat, berkomunikasi dengan pemerintah desa, serta menyesuaikan program dengan sumber daya yang tersedia.

Pengalaman lapangan tersebut membantu mahasiswa melihat bahwa penyelesaian masalah tidak cukup dilakukan melalui teori. Program kesehatan atau pemberdayaan membutuhkan kepercayaan masyarakat, data yang tepat, komunikasi yang mudah dipahami, serta pendampingan berkelanjutan.

Berakhirnya masa penugasan tidak berarti seluruh kegiatan yang dirintis ikut berhenti. Pemerintah desa dan masyarakat diharapkan dapat meneruskan praktik yang dinilai bermanfaat, sementara perguruan tinggi tetap melakukan pemantauan dan pendampingan.

Keberlanjutan menjadi tantangan utama dalam program KKN. Kegiatan yang bergantung sepenuhnya pada mahasiswa berisiko berhenti ketika peserta kembali ke kampus. Oleh karena itu, warga dan perangkat desa perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi.

Program penanganan stunting juga membutuhkan koordinasi dengan tenaga kesehatan karena penyebabnya berkaitan dengan banyak faktor. Kondisi ekonomi keluarga, asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, serta akses pelayanan kesehatan perlu ditangani secara terpadu.

Dokumentasi dan data hasil kegiatan mahasiswa dapat digunakan untuk melihat perubahan yang terjadi. Perguruan tinggi juga dapat menjadikannya sebagai dasar untuk menyusun program pengabdian berikutnya yang lebih tepat sasaran.

KKN Gentaskin menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam pembangunan daerah ketika program disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat. Dampaknya akan lebih kuat jika kolaborasi antara kampus, pemerintah, tenaga kesehatan, desa, dan masyarakat tetap berjalan setelah masa KKN selesai.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna