Inspirasi
Hilmi An Naufal

Kisah Agista, Anak Pemulung yang Kini Sekolah Gratis dan Jago Melukis, Bercita-cita Jadi Seniman atau Polwan

Kisah Agista, Anak Pemulung yang Kini Sekolah Gratis dan Jago Melukis, Bercita-cita Jadi Seniman atau Polwan

28 Oktober 2026 | 21:30

KebonCinta.com — Agista Saputri, anak berusia 10 tahun asal Tangerang, Banten, memiliki kisah perjuangan yang menarik perhatian dalam peringatan satu tahun program Sekolah Rakyat pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Putri pasangan Roni dan Wagiyem yang bekerja sebagai pemulung tersebut kini dapat menikmati pendidikan melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 37 Serang, Banten.

Kisahnya disampaikan saat Agista mengikuti kegiatan perayaan satu tahun Sekolah Rakyat dan Hari Sumpah Pemuda di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

SEBELUMNYA BELUM PERNAH SEKOLAH FORMAL

Agista merupakan anak bungsu dalam keluarganya. Sebelum memperoleh kesempatan mengikuti program Sekolah Rakyat, ia belum pernah mengenyam pendidikan formal.

Kehidupan sehari-harinya dihabiskan bersama keluarga dan mengembangkan kegemaran melukis.

Sejak berusia sekitar empat tahun, Agista menunjukkan ketertarikan terhadap seni gambar. Ia menggunakan berbagai benda yang tersedia di sekitarnya untuk menyalurkan kreativitas.

Kertas, tinta, cat, bahkan kardus bekas menjadi media untuk menghasilkan karya lukisan.

LUKISAN DIJUAL UNTUK MEMBANTU KELUARGA

Karya seni Agista ternyata menarik perhatian sejumlah orang. Beberapa lukisannya dijual dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per lembar.

Gerobak milik sang ayah turut menjadi tempat memamerkan hasil karyanya. Keluarga tersebut biasa beraktivitas di sekitar kawasan Japos, Tangerang, Banten.

Hasil penjualan lukisan membantu keluarga memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli beras.

Bakat yang dimiliki Agista kemudian mendapat perhatian lebih luas setelah sejumlah orang membagikan karya-karyanya melalui media sosial.

MENDAPAT KESEMPATAN MASUK SEKOLAH RAKYAT

Perhatian masyarakat terhadap karya seni Agista menjadi salah satu jalan yang mempertemukannya dengan tim Kementerian Sosial.

Ia kemudian memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 37 Serang.

Perubahan tersebut memberikan pengalaman baru karena Agista harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah, jadwal belajar, dan kehidupan berasrama.

Setelah sekitar delapan bulan mengikuti pendidikan, kemampuan membaca dan menulisnya mengalami perkembangan.

AKTIF MENGIKUTI EKSTRAKURIKULER

Selain kegiatan pembelajaran utama, Agista mulai mengikuti beragam aktivitas ekstrakurikuler yang tersedia di sekolah.

Kegiatan tersebut mencakup seni tari, pencak silat, karate, bahasa Inggris, dan Pramuka.

Partisipasi dalam berbagai kegiatan menjadi kesempatan bagi Agista untuk mengenali kemampuan serta mengembangkan kepercayaan diri.

Meski mengikuti banyak aktivitas baru, kegemarannya terhadap seni lukis tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

BERCITA-CITA MENJADI SENIMAN ATAU POLWAN

Agista menyampaikan bahwa dirinya ingin menjadi seniman lukis atau polisi wanita yang juga memiliki kemampuan menggambar.

Ia bahkan memiliki keinginan untuk melukis Presiden Prabowo Subianto secara langsung.

Agista membayangkan kegiatan melukis tersebut dilakukan di tempat dengan pemandangan yang indah, seperti pantai atau pegunungan.

Cita-cita tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan dapat membuka ruang baru bagi anak untuk mengembangkan minat serta merencanakan masa depannya.

SEKOLAH RAKYAT UNTUK KELUARGA RENTAN

Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah yang ditujukan kepada anak-anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah.

Sasaran program mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya keluarga pada desil satu hingga empat.

Sekolah Rakyat memberikan layanan pendidikan dengan sistem berasrama bagi peserta yang memenuhi kriteria.

Program ini juga berkaitan dengan berbagai dukungan kesejahteraan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik.

PULUHAN RIBU SISWA SUDAH BERSEKOLAH

Berdasarkan data Kementerian Sosial yang dikutip ANTARA pada 28 Oktober 2026, terdapat 182 titik Sekolah Rakyat yang telah beroperasi, baik rintisan maupun terintegrasi.

Sekolah tersebut menampung sekitar 44 ribu siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Dari jumlah lokasi tersebut, 100 Sekolah Rakyat disebut telah memiliki gedung permanen. Pemerintah menargetkan pembangunan 500 sekolah permanen hingga 2029.

KESMPATAN MENGEMBANGKAN MASA DEPAN

Kisah Agista menunjukkan pentingnya akses pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan kesempatan belajar.

Kecintaannya pada seni telah tumbuh bahkan sebelum ia mampu membaca dan menulis secara lancar. Setelah memperoleh kesempatan bersekolah, ia mulai mengembangkan berbagai keterampilan lainnya.

Melalui pendidikan, Agista kini memiliki lebih banyak peluang untuk memperluas kemampuan dan mengejar cita-cita yang telah dibangunnya sejak kecil.

Perjalanannya menjadi contoh tentang bagaimana dukungan keluarga, masyarakat, serta akses pendidikan dapat membantu anak mengembangkan potensi yang sebelumnya belum mendapatkan ruang memadai.

Tags:
kisah inspiratif anak Agista Saputri sekolah rakyat 2026 anak pemulung berprestasi pendidikan gratis kisah perjuangan pelajar cita-cita anak Kementerian Sosial.

Komentar Pengguna