Keboncinta — Upaya meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa tidak hanya dilakukan melalui pelatihan guru. Penguatan peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran juga menjadi bagian penting agar perubahan di ruang kelas dapat berlangsung secara konsisten.
Sejumlah kepala sekolah dari wilayah Kecamatan Wonosobo dan Semaka, Kabupaten Tanggamus, mengikuti agenda Pembelajaran Sejawat Kepala Sekolah II yang dipusatkan di SDN 2 Sedayu, Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program KREASI yang dijalankan LP Ma’arif PBNU bersama Save the Children Indonesia.
Pertemuan ini dirancang sebagai ruang refleksi, pendampingan teknis, dan evaluasi terhadap pelaksanaan supervisi akademik di masing-masing sekolah. Para peserta membahas cara memastikan proses supervisi benar-benar membantu guru memperbaiki kualitas pembelajaran, bukan sekadar memenuhi kelengkapan administrasi.
Dalam forum tersebut, fasilitator kelompok bersama kepala sekolah membedah instrumen supervisi akademik yang menggunakan data hasil observasi kelas. Pembahasan diarahkan pada sejumlah indikator penting dalam pembelajaran literasi, termasuk pelaksanaan membaca terbimbing secara berjenjang dan kemampuan guru menyesuaikan bahan bacaan dengan tingkat kemampuan siswa.
Peserta juga membahas pemanfaatan lingkungan kaya teks melalui penyediaan sudut baca, pajangan karya siswa, serta bahan bacaan yang mudah dijangkau. Lingkungan belajar semacam itu diharapkan dapat mendorong anak lebih akrab dengan kegiatan membaca, menulis, dan menyampaikan gagasan.
Aspek lain yang mendapatkan perhatian adalah kemampuan guru memberikan pertanyaan pemantik. Pertanyaan dalam pembelajaran tidak cukup hanya meminta siswa mengingat isi bacaan, tetapi perlu diarahkan untuk melatih pemahaman, kemampuan menghubungkan informasi, dan nalar kritis.
Pembelajaran sejawat memungkinkan kepala sekolah bertukar pengalaman mengenai persoalan yang benar-benar terjadi di kelas. Mereka dapat membandingkan praktik supervisi, mendiskusikan hambatan yang dihadapi guru, dan menyusun alternatif penyelesaian yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.
Pendekatan tersebut menempatkan supervisi sebagai proses pendampingan. Kepala sekolah diharapkan dapat membangun percakapan yang terbuka dengan guru, memberikan umpan balik secara konstruktif, sekaligus menentukan bagian pembelajaran yang perlu diperbaiki.
Kunjungan tim Save the Children Indonesia dalam kegiatan ini turut digunakan untuk melihat kesesuaian proses pendampingan dengan standar mutu program. Hasil pembahasan kemudian dituangkan dalam rencana tindak lanjut yang mencakup target supervisi berkala dan pendampingan berkelanjutan.
Keberhasilan program pada akhirnya akan ditentukan oleh penerapan setelah kegiatan selesai. Instrumen supervisi perlu digunakan secara konsisten, sementara perkembangan pembelajaran harus dipantau melalui perubahan praktik guru dan kemampuan literasi siswa.
Jika berjalan berkelanjutan, pembelajaran sejawat dapat membantu kepala sekolah membangun budaya evaluasi yang sehat. Guru memperoleh dukungan untuk berkembang, sedangkan siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih terarah, menarik, dan sesuai dengan tingkat kemampuannya.