Keboncinta.com — Kasus smartphone meledak ketika sedang diisi daya menjadi pengingat bahwa pengguna perlu memperhatikan kondisi baterai. Perangkat yang mengalami panas berlebihan, baterai menggembung, atau kerusakan komponen internal berisiko mengalami kebakaran hingga ledakan.
Salah satu kejadian yang pernah menjadi perhatian publik terjadi pada 2022. Seorang bocah kelas 3 SD di Ciamis, Jawa Barat, berinisial IHM, dilaporkan meninggal dunia akibat ponsel yang digunakannya meledak. Saat kejadian, korban diketahui sedang memainkan ponsel sambil mengisi daya.
Peristiwa tersebut menunjukkan pentingnya menggunakan smartphone secara aman, terutama ketika baterai sedang diisi ulang.
Mendiang pengamat gadget Lucky Sebastian pernah menjelaskan bahwa baterai lithium pada smartphone dapat mencapai suhu sangat tinggi ketika mengalami kebakaran akibat fenomena thermal runaway.
Dalam kondisi tersebut, suhu baterai bahkan dikabarkan dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius. Angka ini menggambarkan kondisi ekstrem ketika baterai mengalami reaksi panas yang tidak terkendali, bukan suhu normal saat ponsel digunakan atau dicas.
Lucky menjelaskan bahwa thermal runaway merupakan kondisi ketika reaksi di dalam baterai menghasilkan panas secara berlebihan dan sulit dihentikan. Salah satu pemicunya adalah hubungan arus pendek atau korsleting pada komponen baterai.
Ketika terjadi korsleting, reaksi kimia di dalam baterai dapat berlangsung semakin cepat. Panas yang dihasilkan kemudian memicu reaksi lanjutan sehingga suhu meningkat secara drastis.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan baterai mengeluarkan gas, terbakar, bahkan meledak.
Baca Juga: HP Biasa Mulai Tergeser pada 2026? HP Lipat Diprediksi Meledak, Apple Siap Bikin Kejutan!
Baterai lithium-ion yang digunakan pada sebagian besar smartphone memiliki kepadatan energi tinggi. Teknologi ini memungkinkan perangkat menyimpan energi dalam ukuran relatif kecil.
Namun, baterai lithium-ion juga membutuhkan sistem perlindungan agar proses pengisian dan penggunaannya tetap berada dalam batas aman.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kerusakan baterai antara lain benturan keras, cacat produksi, korsleting internal, penggunaan pengisi daya yang tidak sesuai, serta paparan suhu tinggi.
Pengisian daya yang tidak terkendali juga dapat meningkatkan tekanan dan suhu di dalam sel baterai. Jika sistem perlindungan gagal bekerja, kondisi tersebut berpotensi memicu reaksi berantai.
Fenomena ini dikenal sebagai thermal runaway. Ketika terjadi, suhu baterai dapat meningkat dengan cepat dan memicu kebakaran.
Pertanyaan mengenai suhu maksimal baterai smartphone perlu dijawab dengan hati-hati karena setiap perangkat memiliki spesifikasi berbeda.
Sebagai contoh, Apple menyebutkan bahwa iPhone dirancang untuk digunakan pada suhu lingkungan sekitar 0 hingga 35 derajat Celsius. Apple juga menyarankan pengguna menghindari penggunaan atau pengisian daya dalam lingkungan bersuhu lebih dari 35 derajat Celsius karena dapat mengurangi usia baterai.
Artinya, angka 35 derajat Celsius merupakan batas suhu lingkungan yang direkomendasikan untuk penggunaan perangkat, bukan batas suhu internal baterai yang berlaku untuk semua smartphone.
Suhu perangkat dapat meningkat ketika digunakan untuk bermain game, menjalankan aplikasi berat, melakukan pengisian daya cepat, atau terpapar sinar matahari langsung.
Ponsel yang terasa sedikit hangat ketika dicas masih dapat berada dalam kondisi normal. Namun, jika panasnya berlebihan, sulit disentuh, atau disertai perubahan bentuk baterai, pengguna perlu segera menghentikan aktivitas tersebut.
Suhu sekitar 70 derajat Celsius pada perangkat atau baterai bukan kondisi yang boleh dianggap normal ketika smartphone sedang dicas.
Panas berlebihan dapat disebabkan oleh korsleting internal, kerusakan baterai, pengisi daya yang tidak sesuai, maupun kondisi lingkungan yang terlalu panas.
Jika perangkat menunjukkan peringatan suhu, pengisian daya berhenti secara otomatis, atau bodi ponsel terasa sangat panas, jangan memaksakan penggunaannya.
Perlu dipahami bahwa tidak ada satu angka suhu internal yang bisa dijadikan batas aman universal untuk seluruh merek dan tipe smartphone. Karena itu, pengguna sebaiknya mengikuti panduan suhu dari produsen perangkat masing-masing.
Untuk mengurangi risiko kerusakan baterai, pengguna perlu menerapkan kebiasaan pengisian daya yang aman. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Baca Juga: 6 Cara Mengurangi Ketergantungan Anak pada Handphone Tanpa Harus Melarang Total
Jika smartphone terasa sangat panas ketika sedang diisi daya, hentikan pengisian apabila aman dilakukan. Matikan perangkat jika memungkinkan, kemudian biarkan suhunya turun secara alami di tempat yang sejuk dan jauh dari sinar matahari.
Jangan memasukkan ponsel ke dalam kulkas, menyiramnya dengan air, atau mencoba membuka baterai sendiri.
Apabila perangkat mengeluarkan asap, suara mendesis, atau menunjukkan tanda-tanda terbakar, segera menjauh dan hindari menyentuhnya. Jika terjadi kebakaran, hubungi petugas pemadam kebakaran atau layanan darurat.
Kesimpulan
Panas berlebihan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kerusakan baterai smartphone. Baterai lithium-ion yang mengalami thermal runaway bahkan dapat menghasilkan panas ekstrem hingga memicu kebakaran.
Meski begitu, suhu aman tidak bisa ditentukan hanya dengan satu angka untuk semua jenis HP. Sebagai contoh, Apple merekomendasikan suhu lingkungan penggunaan iPhone antara 0 hingga 35 derajat Celsius.
Karena itu, gunakan charger yang sesuai, hindari mengisi daya di tempat yang panas, dan jangan abaikan tanda kerusakan baterai. Keselamatan harus menjadi prioritas daripada memaksakan smartphone tetap digunakan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir