News
M. Fadhli Dzil Ikram

Kenapa Cuaca Panas Bikin Emosi Mudah Meledak? Ini Temuan Mengejutkan Peneliti Georgetown University

Kenapa Cuaca Panas Bikin Emosi Mudah Meledak? Ini Temuan Mengejutkan Peneliti Georgetown University

06 November 2026 | 08:33

Keboncinta.com — Cuaca panas ekstrem tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi mengganggu kondisi psikologis seseorang. Selain menyebabkan tubuh mudah lelah dan meningkatkan risiko dehidrasi, suhu udara yang terlalu tinggi ternyata dapat memengaruhi kualitas tidur, kestabilan emosi, hingga meningkatkan tekanan mental.

Temuan tersebut terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Georgetown University bersama World Bank di Bangladesh. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara paparan suhu panas ekstrem dengan meningkatnya pikiran terkait bunuh diri melalui dua faktor utama, yakni gangguan tidur dan kesulitan mengendalikan emosi.

Asisten Profesor Kesehatan Global Georgetown University, Syed Shabab Wahid, menjelaskan bahwa perubahan iklim dan peningkatan suhu global dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental masyarakat, terutama di negara-negara yang rentan terhadap cuaca ekstrem.

Dikutip dari Earth.com, Wahid menyebutkan bahwa tekanan akibat suhu panas di negara seperti Bangladesh berpotensi memicu gangguan psikologis yang berat serta meningkatkan risiko pikiran untuk mengakhiri hidup.

Baca Juga: Tertarik Bisnis Pariwisata? Ini Kisah Inspiratif Anak Muda Ubah Passion Jadi Cuan Menjanjikan 

Penelitian di Bangladesh Libatkan 7.500 Orang Dewasa

Penelitian berjudul Climate-induced extreme heat associated with suicide risk mediated by poor sleep and emotional dysregulation: A nationally representative panel study from Bangladesh membahas hubungan antara peningkatan suhu udara dan kondisi kesehatan mental masyarakat.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Volume 310, Part 2, tahun 2026 tersebut melibatkan sekitar 7.500 orang dewasa di Bangladesh. Jumlah responden ini dirancang untuk mewakili populasi nasional.

Para peserta diwawancarai sebanyak dua kali, yakni ketika musim dingin dan musim panas. Pendekatan tersebut digunakan untuk membandingkan perubahan kondisi psikologis responden berdasarkan perbedaan musim dan paparan suhu udara.

Peneliti menggunakan instrumen Brief Suicide Cognitions Scale untuk mengukur pikiran yang berkaitan dengan risiko bunuh diri. Instrumen ini menilai sejumlah perasaan negatif, seperti merasa tidak dicintai, tidak memiliki jalan keluar, dan menganggap penderitaan yang dialami sudah tidak tertahankan.

Selain wawancara, tim peneliti mengumpulkan data suhu udara selama 14 hari sebelum setiap sesi pengumpulan data. Suhu di atas 35 derajat Celsius menjadi salah satu indikator panas ekstrem yang diperhatikan dalam penelitian tersebut.

Hasil analisis menunjukkan hubungan antara suhu udara dan pikiran terkait bunuh diri mulai terlihat signifikan secara statistik pada suhu 28 derajat Celsius. Hubungan tersebut semakin kuat ketika suhu mencapai sekitar 35 derajat Celsius.

Gangguan Tidur dan Emosi Jadi Faktor Penting

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah memburuknya kualitas tidur dan kemampuan mengendalikan emosi ketika suhu udara meningkat.

Setelah membandingkan hasil wawancara pada musim dingin dan musim panas, peneliti menemukan adanya peningkatan skor kognisi bunuh diri pada responden.

Pada musim dingin, skor rata-rata tercatat sebesar 10,99. Sementara itu, ketika memasuki musim panas, angkanya meningkat menjadi 12,96.

Perubahan tersebut juga disertai penurunan kualitas tidur dan memburuknya kemampuan mengatur emosi. Kondisi ini ditemukan pada berbagai kelompok usia, meskipun orang dewasa yang lebih tua menunjukkan dampak yang lebih besar.

Wahid menjelaskan bahwa suhu malam hari yang terlalu tinggi dapat membuat tubuh kesulitan menurunkan temperatur. Akibatnya, waktu istirahat terganggu dan kemampuan mental untuk menghadapi tekanan sehari-hari dapat berkurang.

Ketika seseorang tidak memperoleh tidur yang cukup, pengendalian emosi dan kemampuan menghadapi stres juga berpotensi mengalami penurunan.

Dengan demikian, dampak cuaca panas ekstrem terhadap kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat memengaruhi proses pemulihan tubuh dan keseimbangan psikologis.

Kelompok Masyarakat Ini Lebih Rentan

Penelitian tersebut juga mengidentifikasi sejumlah kelompok masyarakat yang menunjukkan kerentanan lebih tinggi terhadap tekanan psikologis ketika menghadapi suhu panas.

Masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih rendah dan mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan tercatat memiliki risiko lebih tinggi. Keterbatasan ekonomi dapat membuat seseorang kesulitan memperoleh fasilitas pendingin ruangan atau tempat tinggal yang nyaman saat suhu meningkat.

Selain itu, penyandang disabilitas menunjukkan peningkatan risiko pada berbagai musim. Sementara itu, kelompok pengangguran memiliki skor kognisi bunuh diri lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja.

Dari sisi wilayah tempat tinggal, masyarakat perkotaan juga ditemukan lebih rentan dibandingkan penduduk pedesaan.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island. Bangunan beton, jalan beraspal, dan minimnya ruang terbuka hijau membuat kawasan perkotaan cenderung menyimpan panas lebih lama.

Akibatnya, suhu pada malam hari tetap tinggi sehingga masyarakat lebih sulit mendapatkan lingkungan tidur yang nyaman.

Baca Juga: Karhutla Kalbar Meningkat, Kementerian Kehutanan Kerahkan 104 Personel Tambahan dan Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca 

Cara Mengurangi Dampak Panas Ekstrem terhadap Kesehatan Mental

Para peneliti menyoroti pentingnya langkah pencegahan untuk mengurangi dampak suhu panas terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kondisi lingkungan tempat tinggal.

Penerapan atap hijau atau green roof, misalnya, dapat membantu menurunkan temperatur bangunan. Atap yang ditutupi tanaman mampu memberikan efek pendinginan dibandingkan atap konvensional tanpa vegetasi.

Selain itu, penggunaan teknologi pendingin dengan biaya terjangkau juga dapat menjadi alternatif untuk menjaga suhu ruangan tetap nyaman, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pemerintah juga memiliki peran penting dalam menyediakan sistem peringatan dini terhadap gelombang panas. Informasi mengenai prediksi suhu ekstrem dapat membantu masyarakat mempersiapkan kebutuhan air, tempat berteduh, serta fasilitas pendinginan.

Di samping langkah lingkungan, perhatian terhadap kesehatan mental juga perlu ditingkatkan. Gangguan tidur berkepanjangan, tekanan emosional, dan perasaan putus asa sebaiknya tidak diabaikan.

Meski demikian, hasil penelitian ini perlu dipahami secara proporsional. Hubungan statistik antara suhu panas dan pikiran terkait bunuh diri tidak berarti bahwa setiap orang yang terpapar cuaca panas akan mengalami kondisi tersebut.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena tidak memasukkan data kelembapan udara, padahal faktor tersebut dapat memengaruhi tingkat tekanan panas yang dirasakan seseorang.

Temuan di Bangladesh menjadi pengingat bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kenaikan suhu.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Cuaca Panas Ekstrem Kesehatan Mental Perubahan Iklim

Komentar Pengguna