KebonCinta.com-- Pernahkah terpikir mengapa air laut terasa asin, sedangkan air sungai dan air hujan umumnya tidak memiliki rasa asin yang kuat? Padahal, air yang mengalir di sungai pada akhirnya juga bermuara ke laut. Jika terus menerima aliran air dari daratan, mengapa laut justru memiliki rasa asin yang khas?
Jawabannya berkaitan dengan perjalanan air di alam yang berlangsung selama jutaan tahun. Air laut mengandung berbagai zat terlarut, terutama garam, yang berasal dari pelapukan batuan di daratan dan aktivitas geologi di dasar laut.
Proses tersebut terjadi secara perlahan, tetapi terus berlangsung. Akibatnya, garam yang terbawa ke laut dapat terkumpul dalam jumlah besar dan membuat air laut terasa asin.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lava dan Abu, Ini 7 Keunikan Gunung Berapi di Bumi
Salah satu sumber utama garam di laut adalah batuan yang mengalami pelapukan. Ketika hujan turun, air yang sedikit asam bersentuhan dengan batuan dan membantu melarutkan sejumlah mineral di dalamnya.
Mineral yang terlarut kemudian terbawa aliran air menuju sungai. Dari sungai, zat-zat tersebut bergerak hingga mencapai laut.
Di antara berbagai mineral itu terdapat ion natrium dan klorida, dua komponen utama yang membentuk garam dapur atau natrium klorida. Ketika berada dalam air, senyawa tersebut terurai menjadi ion-ion yang terlarut.
Proses ini berlangsung terus-menerus di berbagai wilayah Bumi. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, sumbangan mineral dari daratan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kadar garam laut.
Penyebab lain yang menjelaskan rasa asin air laut adalah proses penguapan.
Ketika sinar Matahari memanaskan permukaan laut, sebagian air berubah menjadi uap dan naik ke atmosfer. Uap air tersebut kemudian dapat membentuk awan dan turun kembali sebagai hujan.
Namun, garam terlarut tidak ikut menguap bersama air dalam kondisi penguapan biasa. Sebagian besar garam tetap berada di laut.
Akibatnya, penguapan mengurangi jumlah air tanpa menghilangkan garam dalam jumlah yang sebanding. Proses ini dapat meningkatkan salinitas atau kadar garam, terutama di wilayah yang penguapannya tinggi sementara pasokan air tawarnya relatif sedikit.
Meski demikian, kadar garam laut tidak terus meningkat tanpa batas. Ada berbagai proses yang juga menghilangkan atau memindahkan ion dari air laut, sehingga salinitas dipengaruhi oleh keseimbangan banyak faktor.
Tidak semua garam di laut berasal dari daratan. Dasar laut turut berperan melalui interaksi antara air laut dan batuan di kerak Bumi.
Di sejumlah wilayah, air laut meresap ke dalam retakan kerak samudra, mengalami pemanasan, lalu kembali keluar membawa zat-zat terlarut. Proses ini dapat terjadi di sekitar ventilasi hidrotermal, termasuk kawasan yang dikenal sebagai sumber air panas bawah laut.
Interaksi tersebut dapat menambah atau mengurangi konsentrasi ion tertentu, bergantung pada kondisi geologi dan reaksi kimia yang berlangsung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa laut bukan sekadar tempat berkumpulnya air dari sungai. Laut juga terhubung dengan proses geologi yang berlangsung jauh di bawah permukaannya.
Baca Juga: 7 Manfaat Minum Susu Setiap Hari, dari Menjaga Tulang hingga Memenuhi Kebutuhan Protein
Air sungai sebenarnya juga mengandung mineral dan garam terlarut.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir