Berita
Hilmi An Naufal

Kementerian PANRB Ubah Cara Ukur Kinerja ASN, Banyak Kegiatan Tak Lagi Cukup jika Tak Berdampak

Kementerian PANRB Ubah Cara Ukur Kinerja ASN, Banyak Kegiatan Tak Lagi Cukup jika Tak Berdampak

14 September 2026 | 06:41

KEBONCINTA.COM – Pemerintah terus mendorong perubahan dalam cara instansi menilai kinerja organisasi dan aparatur. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) memperkuat akuntabilitas melalui redesign atau penyusunan ulang Pohon Kinerja.

Langkah tersebut diarahkan agar keberhasilan instansi pemerintah tidak lagi sekadar dinilai berdasarkan banyaknya kegiatan, rapat, laporan maupun dokumen administrasi yang berhasil diselesaikan.

Pemerintah ingin memastikan penggunaan anggaran dan pekerjaan ASN menghasilkan dampak yang benar-benar dapat diukur.

Kementerian PANRB melalui Inspektorat membahas Redesign Pohon Kinerja dalam rangka optimalisasi tata kelola kinerja sekaligus persiapan pengawasan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah atau AKIP.

Pohon Kinerja merupakan instrumen yang menggambarkan hubungan antara tujuan utama organisasi dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh unit-unit di bawahnya.

Dengan sistem tersebut, setiap pekerjaan seharusnya memiliki hubungan yang jelas terhadap hasil akhir yang ingin dicapai.

Sebagai contoh, keberhasilan program pemerintah tidak cukup hanya dilihat dari berapa kali kegiatan sosialisasi diselenggarakan.

Pemerintah juga perlu mengetahui apakah sosialisasi tersebut benar-benar meningkatkan pemahaman masyarakat atau menghasilkan perubahan yang menjadi tujuan program.

Begitu pula dengan pelatihan ASN.

Jumlah pegawai yang mengikuti pelatihan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Instansi juga perlu memastikan kompetensi peserta benar-benar meningkat dan kemudian digunakan untuk memperbaiki kualitas pelayanan maupun pekerjaan.

Inspektur Kementerian PANRB Dadan Kusnindar menjelaskan penyusunan ulang Pohon Kinerja menjadi bagian dari penguatan fungsi pengawasan internal.

Inspektorat tidak lagi semata-mata berorientasi pada pemeriksaan kepatuhan.

Pengawasan juga diarahkan menjadi sistem yang dapat memberikan peringatan dini ketika pelaksanaan program mulai menyimpang dari tujuan yang telah direncanakan.

Konsep tersebut dikenal sebagai early warning system.

Dengan mekanisme tersebut, persoalan diharapkan dapat diketahui sebelum menjadi lebih besar.

Pohon Kinerja juga diharapkan menggambarkan hubungan sebab-akibat mulai dari proses, keluaran, dampak hingga manfaat.

Pendekatan ini membuat setiap unit organisasi harus mampu menjelaskan mengapa suatu program perlu dilakukan dan hasil apa yang sebenarnya ingin diwujudkan.

Perubahan tersebut memiliki dampak langsung terhadap pola kerja ASN.

Pegawai tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas administratif.

Pekerjaan yang dilakukan harus memberikan kontribusi terhadap indikator kinerja organisasi.

Kondisi tersebut juga dapat mengurangi munculnya kegiatan yang sekadar dilakukan untuk memenuhi rutinitas atau menyerap anggaran.

Jika kegiatan tidak memiliki hubungan yang jelas dengan sasaran organisasi, instansi perlu melakukan evaluasi.

Kementerian PANRB meminta seluruh unit kerja meninjau kembali Pohon Kinerja masing-masing serta menentukan prioritas berdasarkan indikator yang jelas, terukur, realistis dan relevan.

Perencanaan juga harus mempertimbangkan ketersediaan sumber daya, risiko serta perubahan lingkungan strategis.

Kebijakan tersebut sejalan dengan arah reformasi birokrasi yang menempatkan dampak sebagai salah satu ukuran utama.

Masyarakat pada akhirnya tidak menilai pemerintah dari banyaknya laporan yang dihasilkan.

Masyarakat lebih merasakan apakah pelayanan menjadi lebih cepat, bantuan lebih tepat sasaran, perizinan lebih mudah, pendidikan dan kesehatan semakin baik serta berbagai persoalan publik dapat diselesaikan.

Karena itu, akuntabilitas kinerja menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan birokrasi.

ASN dan instansi pemerintah harus mampu menunjukkan hubungan antara anggaran yang digunakan, pekerjaan yang dilakukan dan manfaat yang diterima masyarakat.

Kementerian PANRB juga menargetkan mulai 2027 hubungan antara perencanaan dan Pohon Kinerja dapat semakin kuat.

Program dan kegiatan diharapkan semakin fokus terhadap pencapaian outcome serta dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Hasil redesign juga akan digunakan sebagai bagian dari Audit Universe Inspektorat Kementerian PANRB.

Melalui pendekatan tersebut, pengawasan dapat diarahkan terhadap area yang memiliki risiko tinggi maupun memiliki pengaruh besar terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Perubahan paradigma dari administrasi menuju dampak menjadi tantangan bagi seluruh birokrasi.

ASN harus mampu memahami bahwa penyelesaian sebuah tugas tidak selalu berarti tujuan organisasi telah tercapai.

Ke depan, pertanyaan yang semakin penting bukan hanya mengenai kegiatan apa yang sudah dilakukan, tetapi perubahan apa yang berhasil dihasilkan.

Apabila pendekatan ini diterapkan secara konsisten di berbagai instansi pusat maupun daerah, masyarakat diharapkan memperoleh pelayanan publik yang lebih efektif sekaligus melihat penggunaan anggaran pemerintah yang semakin terarah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna