MEDAN, KEBONCINTA.COM — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperkuat pemulihan pendidikan vokasi dengan menyalurkan bantuan kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan yang terdampak banjir di Aceh dan Sumatra Utara. Pemerintah juga menyelenggarakan peningkatan kompetensi bagi 118 guru sekolah menengah kejuruan dari 11 provinsi.
Program peningkatan kompetensi guru SMK berlangsung pada 20 Agustus sampai 2 September 2026. Memasuki hari terakhir pelaksanaan, para peserta telah mengikuti rangkaian lokakarya, kunjungan industri dan uji kompetensi keahlian di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bangunan dan Listrik, Medan.
Pelatihan difokuskan pada tiga bidang keahlian, yakni Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor serta Teknik Komputer dan Jaringan. Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga kompetensi pedagogik, kewirausahaan dan kemampuan menerapkan pembelajaran berbasis proyek.
Guru turut dibekali pemahaman mengenai pembelajaran mendalam, teknologi digital, pengodean dan kecerdasan buatan. Penguasaan tersebut dinilai penting karena perkembangan teknologi industri berlangsung cepat, sementara lulusan SMK diharapkan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan vokasi tidak boleh hanya diarahkan agar siswa mencari pekerjaan. Sekolah juga perlu membangun kreativitas, kemampuan beradaptasi dan keberanian peserta didik untuk menciptakan peluang usaha.
Selain meningkatkan kompetensi guru, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu sebesar Rp4,18 miliar kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan. Sebanyak 49 lembaga penerima berada di Aceh, sementara 22 lembaga lainnya berada di Sumatra Utara.
Di Aceh, bantuan menjangkau LKP di Kabupaten Bireuen, Aceh Tamiang, Kota Langsa dan Kota Lhokseumawe. Sementara penerima di Sumatra Utara tersebar di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang.
Banjir sebelumnya merendam bangunan serta merusak mesin dan peralatan praktik. Kondisi tersebut mengganggu keberlangsungan pelatihan, termasuk program keterampilan menjahit, tata busana dan tata rias yang selama ini menjadi bekal kemandirian bagi masyarakat serta anak putus sekolah.
Bantuan pemerintah dapat digunakan untuk memulihkan sarana pembelajaran, memperkuat tata kelola dan menyediakan kembali media praktik. Pemulihan dinilai mendesak karena lembaga kursus menjadi jalur alternatif bagi masyarakat yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal.
Penguatan guru SMK dan pemulihan lembaga kursus memperlihatkan pentingnya menjaga seluruh jalur pendidikan vokasi. Keberhasilan program selanjutnya perlu diukur melalui peningkatan kualitas pembelajaran, keberlanjutan lembaga penerima bantuan serta kompetensi nyata yang diperoleh peserta didik.