Keboncinta — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperluas pelatihan Bahasa Inggris bagi guru sekolah dasar menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai tahun ajaran 2027/2028.
Pelatihan tersebut diselenggarakan melalui program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris atau PKGSD-MBI. Setelah sebelumnya dijalankan melalui pelatihan reguler, program kini dikembangkan dalam bentuk pembelajaran mandiri yang dapat diakses guru secara daring.
Guru dapat mengikuti pelatihan melalui platform Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan pada ekosistem Rumah Pendidikan. Mekanisme mandiri diharapkan memberikan kesempatan lebih luas kepada guru yang belum memperoleh kuota pelatihan reguler.
Materi pembelajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan menggunakan Bahasa Inggris. Guru juga memperoleh penguatan pedagogik agar dapat merancang pembelajaran yang sederhana, komunikatif, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan murid sekolah dasar.
Pemerintah menilai persiapan guru menjadi salah satu faktor penting sebelum Bahasa Inggris diterapkan sebagai pelajaran wajib. Tanpa penguatan kompetensi, perubahan kebijakan kurikulum dikhawatirkan hanya menambah beban guru dan murid tanpa meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Data Kemendikdasmen menunjukkan terdapat sekitar 150.447 sekolah dasar di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 90.447 sekolah belum memiliki guru Bahasa Inggris.
Program PKGSD-MBI secara bertahap menyasar satuan pendidikan tersebut. Pada tahap awal, setiap sekolah dapat diwakili guru kelas yang tidak harus mempunyai latar belakang pendidikan Bahasa Inggris, khususnya sekolah yang belum menyelenggarakan mata pelajaran tersebut.
Guru yang telah mengikuti pelatihan diharapkan tidak hanya menggunakan materi untuk kelasnya sendiri. Mereka juga didorong membagikan pengalaman dan praktik pembelajaran kepada guru lain melalui kelompok kerja guru serta forum profesional pendidikan.
Pada pelaksanaan tahap pertama, Kemendikdasmen melibatkan 5.777 guru dari 177 kabupaten dan kota di 34 provinsi. Pelatihan reguler berlangsung sekitar enam bulan dan dijadwalkan selesai pada Agustus hingga September 2026.
Pemerintah menargetkan peningkatan kompetensi dilakukan secara bertahap. Pada 2026, jumlah peserta yang ditargetkan mengikuti pelatihan mencapai 10 ribu guru. Target berikutnya sekitar 30 ribu guru pada 2027, 30 ribu guru pada 2028, dan 20.447 guru pada 2029.
Tahapan tersebut disusun agar kebutuhan guru yang mampu mengajar Bahasa Inggris di sekolah dasar dapat dipenuhi secara lebih merata.
Pelatihan mandiri menjadi penting karena jumlah guru yang harus dipersiapkan jauh lebih banyak dibandingkan kapasitas pelatihan tatap muka. Guru dapat mempelajari modul sesuai waktu yang tersedia tanpa harus meninggalkan tugas mengajar dalam waktu panjang.
Namun, pelatihan daring tetap membutuhkan pendampingan dan evaluasi. Guru tidak cukup hanya menyelesaikan modul, tetapi juga perlu memperoleh kesempatan mempraktikkan metode pembelajaran serta mendapatkan masukan dari fasilitator maupun rekan sejawat.
Pemerintah daerah dan sekolah juga memiliki peran penting. Kepala sekolah perlu memberikan waktu kepada guru untuk mengikuti pelatihan, mengembangkan perangkat ajar, serta mencoba pendekatan baru di ruang kelas.
Sekolah juga perlu memetakan guru yang akan mendapatkan tugas mengajar Bahasa Inggris. Penugasan sebaiknya mempertimbangkan minat, hasil pelatihan, kemampuan komunikasi, dan kesiapan guru, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jam mengajar.
Bagi guru yang belum pernah mengajar Bahasa Inggris, program tersebut dapat menjadi tantangan baru. Akan tetapi, Kemendikdasmen menegaskan bahwa pelatihan dirancang dengan pendekatan praktis agar guru dapat belajar secara bertahap tanpa merasa terbebani.
Keberhasilan kebijakan Bahasa Inggris wajib nantinya tidak hanya ditentukan oleh tersedianya modul. Pemerataan akses internet, perangkat belajar, kualitas pendampingan, kesiapan sekolah, dan kesempatan guru berlatih juga harus mendapatkan perhatian.
Murid di wilayah perkotaan dan daerah terpencil diharapkan memperoleh kualitas pembelajaran yang setara. Karena itu, pemerintah perlu memastikan program pelatihan tidak hanya menjangkau sekolah yang memiliki fasilitas digital memadai.
Guru yang ingin mengikuti pelatihan disarankan memantau akun Ruang GTK pada Rumah Pendidikan serta informasi dari dinas pendidikan dan balai guru di wilayah masing-masing. Informasi pendaftaran dan pelaksanaan hendaknya diperiksa melalui kanal resmi Kemendikdasmen.