Pengumpulan data tanpa persetujuan, pelacakan perilaku secara berlebihan, penyalahgunaan wajah dan suara, hingga pembuatan deepfake dapat menjadi ancaman apabila teknologi tidak digunakan secara bertanggung jawab.
Karena itu, pemanfaatan AI harus tetap menghormati hak privasi serta menjaga martabat setiap individu.
Nilai terakhir adalah larangan membuat kerusakan sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-A’raf ayat 56.
AI tidak semestinya digunakan untuk menghasilkan hoaks, fitnah, penipuan, ujaran kebencian, manipulasi opini publik, maupun berbagai konten yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
Manusia sebagai pengguna tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi tidak diarahkan pada aktivitas yang merugikan orang lain maupun kehidupan sosial.
Baca Juga: Dapodik 2026 Segera Cut Off, Jangan Lewatkan Pengecekan Data Siswa dan Guru
Dalam bidang dakwah, AI memiliki berbagai potensi pemanfaatan. Teknologi tersebut dapat membantu memetakan tema, menyusun bahan awal, melakukan penerjemahan dan transkripsi, hingga membantu produksi serta penyebaran konten keislaman.
Namun, penggunaan AI tidak berarti menggantikan peran seorang dai. Kedalaman ilmu, keteladanan, hikmah, dan kemampuan memahami kondisi sosial tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas dakwah.
Hal serupa berlaku dalam pendidikan Al-Qur’an. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu latihan membaca dan menghafal, mendeteksi kesalahan bacaan pada tahap awal, memberikan pembelajaran yang lebih adaptif, serta membantu memetakan tema ayat.
Meski demikian, teknologi tidak dapat menggantikan guru maupun proses talaqqi. Informasi yang diberikan AI mengenai Al-Qur’an juga perlu diverifikasi dan tidak dapat langsung dianggap sebagai tafsir yang memiliki otoritas keilmuan.
Perkembangan AI membuka peluang besar bagi kemajuan pendidikan, dakwah, dan pelayanan publik. Namun, teknologi yang semakin canggih juga membutuhkan pengawasan dan tanggung jawab yang semakin kuat.
Enam nilai Qur’ani berupa tabayyun, keadilan, amanah dan akuntabilitas, kemaslahatan, perlindungan privasi serta martabat manusia, dan larangan menimbulkan kerusakan dapat menjadi landasan etis dalam memanfaatkan AI.
Baca Juga: Jangan Panik Jika Dana BOSP Diretur, Sekolah Wajib Ikuti Tahapan Perbaikan Ini
Pada akhirnya, AI hanyalah alat yang dikembangkan dari kecerdasan manusia. Arah penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia. Karena itu, kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan nilai moral agar kecerdasan buatan benar-benar menjadi sarana membangun peradaban digital yang bermanfaat, beretika, dan tetap menghormati martabat manusia.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir