Keboncinta.com-- Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, mulai menjalankan Program Peningkatan Kompetensi Tartil Al-Qur’an bagi Guru PAI.
Pada pelaksanaan angkatan pertama, sebanyak 1.000 guru PAI mengikuti program pembinaan yang sebagian besar dilaksanakan secara daring melalui Zoom.
Peserta tahap awal berasal dari DKI Jakarta, Banten, DI Yogyakarta, serta sebagian wilayah Jawa Barat. Program tersebut berlangsung selama satu bulan dengan dukungan Learning Management System (LMS) CintaQu sebagai media pembelajaran.
Penggunaan LMS memungkinkan peserta mengakses materi dan mengikuti proses pembinaan secara lebih terarah meskipun kegiatan utama berlangsung secara online.
Baca Juga: Guru Non-ASN Penerima Tunjangan Khusus Wajib Tahu, Ini Penyebab Pembayaran Dihentikan
Kemenag merancang pelatihan dengan menggabungkan pembelajaran daring dan evaluasi secara langsung. Selama mengikuti program, peserta tidak hanya mempelajari materi melalui platform digital, tetapi juga memperoleh kesempatan mengikuti sesi review bersama pelatih profesional.
Sesi review tersebut dijadwalkan berlangsung setiap Sabtu melalui pertemuan daring. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam materi sekaligus mendapatkan arahan dari pelatih.
Setelah seluruh rangkaian pembinaan selesai, peserta akan menjalani ujian akhir secara luring. Setiap peserta diperkirakan mendapatkan waktu ujian sekitar lima menit.
Dalam ujian tersebut, kemampuan peserta dinilai oleh dua orang penguji dalam satu majelis. Lokasi pelaksanaan ujian disiapkan di tempat yang berada paling dekat dengan domisili peserta.
Pola pembelajaran ini memungkinkan proses peningkatan kompetensi dilakukan secara digital, sementara kemampuan membaca Al-Qur’an tetap diverifikasi melalui penilaian secara langsung.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan guru PAI memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik.
Kemampuan tersebut dinilai fundamental bagi guru PAI karena Al-Qur’an menjadi salah satu sumber utama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Oleh sebab itu, kompetensi membaca Al-Qur’an menjadi bagian penting yang perlu dimiliki oleh pendidik PAI.
Amien meminta seluruh peserta mengikuti program dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan setiap tahapan pembelajaran secara maksimal. Menurutnya, penggunaan teknologi dalam pelatihan tidak boleh mengurangi kualitas proses pembinaan.
Program peningkatan kompetensi Tartil Al-Qur’an ini juga akan diintegrasikan dengan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB). Dengan integrasi tersebut, peningkatan kemampuan Tartil diharapkan menjadi bagian dari proses pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan.
Baca Juga: Jadwal Tunjangan Khusus Guru Non-ASN, Ini 5 Tahapan dari Update Data hingga Pencairan
Program Tartil Al-Qur’an juga ditempatkan sebagai bagian dari agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kemenag menyebut pelaksanaan program tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama poin keempat yang berkaitan dengan penguatan sumber daya manusia. Di lingkungan Kementerian Agama, program ini juga searah dengan Asta Protas Menteri Agama, khususnya agenda Pendidikan Unggul.
Melalui peningkatan kompetensi guru PAI, kualitas pembelajaran pendidikan agama diharapkan ikut mengalami penguatan. Guru tidak hanya perlu menguasai materi yang disampaikan kepada peserta didik, tetapi juga membutuhkan kompetensi pendukung agar proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal.
Kemampuan Tartil Al-Qur’an menjadi salah satu kompetensi yang diperkuat melalui program tersebut.
Direktur PAI M. Munir menjelaskan bahwa pelaksanaan di sejumlah wilayah tersebut masih berada dalam tahap piloting. Tahap awal ini diharapkan dapat menjadi pijakan untuk memperluas program ke lebih banyak provinsi.
Evaluasi menjadi bagian penting dari pelaksanaan program. Kemenag perlu melihat sejauh mana model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi digital tersebut berjalan efektif dan efisien.
Karena itu, M. Munir meminta jajaran terkait melakukan pemantauan secara berkelanjutan. Hasil pemantauan nantinya dapat digunakan untuk mengetahui kekuatan maupun hal-hal yang masih perlu diperbaiki dalam pelaksanaan program.
Pengalaman dari angkatan pertama diharapkan memberikan gambaran bagi pengembangan pelatihan pada tahap selanjutnya.
Baca Juga: PIP 2026 Naik Level, Sekolah Harus Lebih Teliti Memastikan Bantuan Tepat Sasaran
Keterlibatan 1.000 guru PAI pada angkatan pertama menunjukkan upaya Kemenag memperkuat kompetensi pendidik, khususnya dalam kemampuan membaca Al-Qur’an.
Model pelatihan yang memadukan LMS CintaQu, pembelajaran melalui Zoom, sesi review bersama pelatih profesional, serta ujian akhir secara luring dirancang untuk memberikan pengalaman belajar sekaligus evaluasi kompetensi.
Ke depan, pelaksanaan tahap awal ini diharapkan dapat menjadi bahan pengembangan agar program peningkatan kompetensi Tartil Al-Qur’an menjangkau wilayah yang lebih luas.
Baca Juga: BKN Dorong ASN Lebih Cerdas Kelola Keuangan, Jangan Sampai SK Jadi Jalan Menuju Jeratan Utang
Dengan semakin banyak guru PAI yang memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan, penguatan kompetensi membaca Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan profesional guru secara berkelanjutan.***