Keboncinta.com-- Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya memperluas pemerataan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan keagamaan, termasuk bagi madrasah yang berada di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui keterlibatan Kemenag dalam Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI). Program ini menjadi bagian dari kerja sama untuk memperkuat kualitas pembelajaran, kompetensi pendidik, serta lingkungan pendidikan di daerah yang menghadapi keterbatasan akses dan sumber daya.
KREASI dilaksanakan oleh Save the Children Indonesia bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan dukungan sejumlah mitra pembangunan. Dalam pelaksanaannya, Kemenag ikut mengawal program agar peningkatan mutu pendidikan juga dapat dirasakan oleh madrasah yang masuk dalam wilayah sasaran.
Kasubdit Kurikulum KSKK Madrasah Kemenag, Abdul Basit, mengatakan kementeriannya turut melakukan pengawalan KREASI dalam kapasitasnya sebagai co-chair Mitra Pendidikan Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, 5 September 2026. Menurutnya, keterlibatan Kemenag penting untuk mendukung penguatan pendidikan madrasah, terutama di daerah yang memiliki tantangan geografis maupun keterbatasan sumber daya.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 209 Jadwal di Soekarno-Hatta Dibatalkan
Keterlibatan Kemenag dalam Program KREASI dilakukan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Peran tersebut meliputi pengawasan, pemberian arahan kebijakan, serta keterlibatan sebagai pemangku kepentingan utama pada jenjang Raudhatul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Saat ini, KREASI menjangkau 249 satuan pendidikan yang tersebar di delapan kabupaten pada empat provinsi dengan karakteristik wilayah 3T.
Dari jumlah tersebut, terdapat 140 Madrasah Ibtidaiyah dan 73 Raudhatul Athfal. Wilayah sasaran dipilih dengan memperhatikan kondisi pendidikan yang masih membutuhkan penguatan, khususnya dalam kemampuan dasar peserta didik.
Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Global Partnership for Education (GPE). Save the Children Indonesia berperan sebagai pelaksana teknis atau grant agent yang berkoordinasi dengan delapan mitra lokal di wilayah sasaran.
Program KREASI tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Penguatan kompetensi guru, pengembangan bahan ajar, perbaikan sistem asesmen, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman dan inklusif juga menjadi bagian dari program.
Pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat turut menjadi perhatian sehingga pendidikan di daerah sasaran diharapkan berkembang secara lebih menyeluruh.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Jam Belajar Sekolah Bisa Disesuaikan demi Keselamatan
Chief of Party Program KREASI, Alifah Sri Lestari, menjelaskan bahwa pelaksanaan program mencakup delapan kabupaten di empat provinsi.
Wilayah tersebut meliputi Nias Utara dan Nias Selatan di Sumatera Utara, Pesisir Barat dan Tanggamus di Lampung, Ketapang dan Kayong Utara di Kalimantan Barat, serta Pulau Morotai dan Halmahera Utara di Maluku Utara.
Penentuan lokasi sasaran salah satunya mengacu pada data Rapor Pendidikan pemerintah. Data tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam capaian literasi dan numerasi di sejumlah wilayah sehingga membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Tantangan dalam pelaksanaan KREASI bukan hanya berkaitan dengan kondisi pembelajaran, tetapi juga faktor geografis.
Di beberapa daerah, perjalanan menuju pusat pemerintahan provinsi dapat memakan waktu sekitar tujuh jam melalui jalur darat. Bahkan, ada wilayah yang juga membutuhkan perjalanan menggunakan transportasi laut.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kesempatan guru untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan profesional. Sejumlah guru madrasah dan sekolah dasar yang telah mengajar selama 10 hingga 15 tahun disebut belum memperoleh pengembangan kompetensi secara optimal.
Persoalan ini tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemauan guru untuk belajar. Keterbatasan anggaran pemerintah daerah dalam menyediakan pelatihan juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kesempatan pengembangan profesional belum merata.
Baca Juga: Guru Madrasah Dapat Penguatan Numerasi lewat Program KREASI Kemenag dan Save the Children
Program KREASI memiliki tiga fokus utama dalam memperkuat pendidikan di wilayah sasaran.
Fokus pertama adalah pengembangan kemampuan dasar anak, yang mencakup literasi, numerasi, serta pembentukan karakter. Sasaran utama pada bagian ini adalah peserta didik jenjang PAUD dan SD/MI.
Fokus kedua berkaitan dengan terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh. Perlindungan anak serta kesiapan menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak perubahan iklim, menjadi bagian dari perhatian program.
Adapun fokus ketiga adalah membangun pendidikan yang inklusif. Kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial menjadi aspek yang diperhatikan agar setiap anak memiliki kesempatan yang setara untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Dengan tiga fokus tersebut, KREASI tidak sekadar mengejar peningkatan capaian akademik. Program juga diarahkan untuk membangun ekosistem pembelajaran yang mendukung perkembangan peserta didik secara lebih utuh.
Pengembangan kemampuan pendidik dalam KREASI dilakukan dengan sistem pelatihan secara berjenjang. Salah satu kegiatan yang baru dilaksanakan adalah Peningkatan Kapasitas Pelatih Utama Daerah Modul II Numerasi.
Pelatihan tersebut berlangsung di Jakarta pada 31 Agustus hingga 4 September 2026 dan diikuti Pelatih Utama Daerah (PUD) yang berasal dari wilayah sasaran program.
Setelah mendapatkan pembekalan, para PUD akan meneruskan pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada Fasilitator Daerah (FASDA) melalui mitra lokal.
Selanjutnya, FASDA akan memberikan pelatihan sekaligus pendampingan kepada para guru di satuan pendidikan yang menjadi sasaran KREASI.
Pola cascade training tersebut memungkinkan materi pelatihan yang diberikan di tingkat pusat diteruskan secara berjenjang hingga menjangkau lebih banyak pendidik di daerah.
Pada tahun pertama, yakni Maret hingga Desember 2025, KREASI telah menyelesaikan modul literasi untuk jenjang PAUD/RA dan SD/MI. Memasuki tahun kedua, program memberikan perhatian lebih besar pada jenjang SD dan MI.
Baca Juga: Mahasiswa KIP Kuliah Wajib Tahu, Perubahan Desil Tak Otomatis Hentikan Bantuan
Pendekatan yang dikembangkan dalam KREASI dinilai memiliki kesesuaian dengan arah kebijakan pembelajaran di madrasah.
Abdul Basit menyebut prinsip KREASI sejalan dengan KMA Nomor 1503 Tahun 2025 mengenai Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Keduanya sama-sama menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, relevan dengan konteks, bermakna, serta mendukung penguatan karakter.
Materi dalam KREASI juga telah memasukkan prinsip Kurikulum Berbasis Cinta. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pelaksanaan program agar tetap selaras dengan perkembangan kebijakan pembelajaran madrasah.
Selain itu, KREASI mendukung agenda Teacher Professional Development (TPD) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru.
Meski demikian, penyelarasan secara formal antara modul KREASI dengan kebijakan serta dokumen kurikulum Kementerian Agama masih perlu dibahas lebih lanjut bersama unit teknis terkait.
Program KREASI juga memiliki peluang untuk menjadi semacam laboratorium praktik baik pendidikan bagi RA dan MI.
Berbagai metode maupun pendekatan yang terbukti efektif selama program berlangsung dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung pembinaan guru, komunitas belajar, supervisi, serta pengembangan kurikulum.
Dengan demikian, hasil KREASI diharapkan tidak berhenti ketika masa program selesai. Praktik yang berhasil dapat menjadi bagian dari penguatan sistem pendidikan madrasah secara berkelanjutan.
Sejumlah praktik baik bahkan mulai terlihat di wilayah sasaran.
Di Nias Utara, misalnya, setelah intervensi KREASI pada tahun pertama selesai, Kantor Kemenag setempat mengambil inisiatif mengadakan pelatihan secara mandiri bagi kepala madrasah.
Baca Juga: PPG Daljab 2026 Kembali Jadi Sorotan Guru Ini yang Perlu Disiapkan Sebelum Mengikuti Tahapannya
Pelatihan tersebut menggunakan modul KREASI dengan fasilitator yang sebelumnya telah memperoleh pembekalan melalui program tersebut.
Sementara di Maluku Utara, sejumlah kepala madrasah melaporkan adanya perubahan dalam pendekatan pembelajaran guru.