KebonCinta.com — Kabar menarik datang bagi pelajar Indonesia yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan tinggi ke Australia.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sedang menjajaki peluang perluasan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan di Negeri Kanguru.
Salah satu opsi yang dibahas adalah dukungan beasiswa untuk jenjang sarjana atau S1.
Peluang tersebut dibicarakan dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu Siswo Pramono.
Pertemuan berlangsung di kantor Kemdiktisaintek pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Dalam pembahasan awal, Kemdiktisaintek berharap kerja sama beasiswa dapat mencakup sekitar 20 hingga 25 mahasiswa Indonesia.
Namun masyarakat perlu memperhatikan bahwa program tersebut belum memasuki tahap pendaftaran.
Kementerian menegaskan jumlah maupun mekanismenya masih berupa penjajakan dan membutuhkan tindak lanjut.
Artinya, saat ini belum ada formulir pendaftaran, jadwal seleksi maupun persyaratan resmi yang diumumkan untuk program tersebut.
Calon mahasiswa karena itu disarankan tidak mempercayai pihak yang mengaku dapat mendaftarkan peserta ke program ini dengan meminta sejumlah pembayaran.
Pertemuan Indonesia dan Australia tersebut tidak hanya membahas pendidikan.
Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan TKA Bukan Penentu Kelulusan, Pengawas Sekolah Diminta Aktif Dampingi Guru
Kedua pihak juga mendiskusikan peluang kerja sama penelitian terkait pemanfaatan batang kelapa sawit.
Batang dari tanaman sawit yang memasuki masa peremajaan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Peneliti sedang mempelajari kemungkinan pemanfaatannya untuk berbagai produk industri, termasuk produksi etanol dan energi alternatif.
“Kalau memang nanti bisa, segera kita laksanakan pilot-nya,” ujar Brian Yuliarto.
Ia menjelaskan pemerintah ingin penelitian yang memiliki potensi tidak berhenti pada karya akademik.
Hasil riset perlu diuji dari sisi teknis maupun keekonomian sebelum masuk ke tahap proyek percontohan dan pemanfaatan yang lebih luas.
Kerja sama riset dengan Australia diharapkan mempertemukan pengetahuan akademik, teknologi serta kebutuhan industri.
Pada saat yang sama, jalur pendidikan dapat digunakan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia Indonesia.
Australia selama ini menjadi salah satu tujuan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Berbagai skema studi dan kerja sama akademik antara kedua negara juga telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Karena itu, penjajakan program baru untuk mahasiswa S1 berpotensi menambah pilihan apabila nantinya benar-benar disepakati.
Meski jumlah awal yang dibicarakan masih sekitar 20 sampai 25 mahasiswa, peluang tersebut tetap menarik karena membuka akses pendidikan internasional sejak jenjang sarjana.
Kemdiktisaintek belum menjelaskan universitas tujuan, jurusan, komponen biaya maupun mekanisme seleksinya.
Semua rincian tersebut baru dapat dipastikan setelah proses kerja sama dilanjutkan.
Pelajar yang berminat sebaiknya memantau informasi melalui laman resmi Kemdiktisaintek dan kanal resmi pemerintah.
Jangan menganggap unggahan mengenai penjajakan ini sebagai pengumuman pembukaan beasiswa.
Untuk saat ini, kabar yang sudah dapat dipastikan adalah pemerintah sedang membahas kemungkinan memperluas kesempatan studi ke Australia bagi sekitar 20 hingga 25 mahasiswa Indonesia.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir