JAKARTA — Perguruan tinggi didorong mengambil peran lebih besar dalam membantu Jakarta menghadapi persoalan perkotaan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menilai hasil riset kampus dapat dikembangkan dan diuji untuk menjawab kebutuhan pemerintah daerah serta masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam forum International Symposium: Advancing Urban Sustainability pada 22 September 2026. Forum itu mempertemukan unsur pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan mitra pembangunan untuk membahas masa depan Jakarta sebagai kota global yang berkelanjutan.
Menurut Fauzan, kota besar seperti Jakarta menghadapi beragam persoalan yang memerlukan dukungan ilmu pengetahuan. Di antaranya ialah pengelolaan air dan limbah, kualitas udara, banjir, mobilitas warga, penurunan muka tanah, serta ketergantungan pada tempat pemrosesan akhir sampah.
Persoalan tersebut perlu dirumuskan secara jelas sebelum peneliti mengembangkan solusi. Dengan mengetahui kebutuhan di lapangan, perguruan tinggi dapat menentukan arah penelitian, menguji hasilnya, dan melihat apakah solusi tersebut benar-benar dapat diterapkan.
Kemdiktisaintek melihat peluang menjadikan Jakarta sebagai tempat pengujian inovasi atau living lab. Melalui pendekatan ini, solusi berbasis riset dapat dicoba pada persoalan nyata, dievaluasi hasilnya, lalu dikembangkan lebih lanjut apabila terbukti bermanfaat.
Salah satu contoh yang disampaikan dalam forum ialah penjajakan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menangani persoalan TPST Bantar Gebang. Pendekatannya dimulai dengan memetakan masalah secara bertahap, kemudian menghubungkan kebutuhan daerah dengan kemampuan peneliti dan pengembang teknologi.
Perguruan tinggi memiliki sumber daya yang dapat mendukung proses tersebut, mulai dari dosen dan peneliti hingga mahasiswa. Namun, penelitian akan lebih mudah diterapkan apabila pemerintah daerah menyampaikan masalah yang ingin diselesaikan secara terukur. Dari sana, kampus dan mitra lainnya dapat menyusun agenda riset yang relevan.
Kolaborasi juga membutuhkan dukungan di luar lingkungan kampus. Hasil penelitian perlu melalui proses pengembangan, pengujian, dan penerapan agar tidak berhenti sebagai laporan akademik. Dunia usaha dan lembaga pembiayaan dapat terlibat sesuai kebutuhan serta tahap pengembangan solusi.
Melalui kerja sama lintas sektor, Kemdiktisaintek berharap riset dapat memberi manfaat yang terlihat dalam penanganan persoalan kota. Bagi mahasiswa, keterlibatan kampus dalam upaya tersebut juga membuka kesempatan untuk belajar dari tantangan nyata yang dihadapi masyarakat.