Keboncinta.com – Meskipun hanya membawahi lima kecamatan dan 22 kelurahan, Kota Cirebon membuktikan bahwa skala wilayah bukan penghalang untuk memainkan peran strategis di tingkat regional maupun nasional. Kelihaian Kota Udang dalam mengelola potensi daerah dan ketahanan publik ini menarik perhatian jajaran pimpinan pertahanan negara.
Sebanyak 24 peserta Kursus Kepemimpinan dan Manajemen Pertahanan (Suspim Kemhan) Tingkat I Tahun Anggaran 2026 memboyong rombongannya untuk "mengaji" tata kelola daerah ke Pemkot Cirebon. Rombongan diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman, didampingi Kepala BKPSDM Suwarso Budi Winarno di Ruang Prabayaksa, Gedung Setda Kota Cirebon, Rabu (24/9/2026).
Dalam pemaparannya, Sekda Iing Daiman menegaskan bahwa Pemkot Cirebon tak pernah memandang pembangunan hanya sebatas garis batas administratif. Sebagai hub transportasi darat, laut, dan udara, Cirebon menempatkan dirinya sebagai jantung pergerakan ekonomi kawasan Cirebon Raya hingga wilayah Kunci Bersama.
"Kota Cirebon memang hanya punya 5 kecamatan dan 22 kelurahan, tapi aksesnya serba mudah. Oleh karena itu, manfaat pembangunan dan pelayanan harus dirasakan lintas batas daerah," ungkap Iing.
Bentuk konkret dari visi interkoneksi ini di antaranya:
Mal UKM: Wadah etalase dan promosi produk UMKM lokal yang kini telah merambah dan menampung produk dari seluruh wilayah Kunci Bersama.
Mobil Pangan Keliling (Mall Pangling): Terobosan pelayanan menjemput bola untuk memastikan keterjangkauan dan ketahanan pangan warga hingga ke tingkat tapak.
Inovasi di Tengah Kerapuhan Fiskal
Kunjungan ini juga menyoroti bagaimana Pemkot Cirebon tetap lincah meluncurkan inovasi ketika transfer keuangan dari pemerintah pusat sedang tidak menentu. Kreativitas pelayanan publik dan kolaborasi dinilai menjadi benteng utama agar roda pembangunan tidak mandek.
Beberapa proyek strategis berbasis kawasan pesisir dan pemberdayaan masyarakat yang tengah dipacu bersama pemerintah pusat meliputi:
1. Peningkatan kapasitas Pelabuhan Perikanan Kejawanan.
2. Pembentukan Kampung Nelayan Merah Putih dan Koperasi Kelurahan Merah Puti.
3. Rencana penataan batas pantai melalui program Giant Sea Wall
Sementara itu, Ketua Kunjungan Kerja Suspim Kemhan, Kolonel CKE Alriyono, menyebut Kota Cirebon dipilih sebagai titik studi karena posisi geopolitik dan ekonominya yang sangat vital di wilayah utara Jawa Barat. Menurutnya, konsep pertahanan negara modern tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi dan pelayanan publik di daerah.
"Ketahanan wilayah pada hakikatnya dibangun dari keterpaduan seluruh potensi nasional—mulai dari Pemda, TNI, masyarakat, hingga pelaku usaha. Apa yang dilakukan Pemkot Cirebon dalam mengelola keterbatasan menjadi inovasi adalah wawasan berharga bagi para calon pimpinan pertahanan," pungkas Alriyono. (swd)