KebonCinta.com – Pertengkaran antara kakak dan adik merupakan keadaan yang cukup sering terjadi dalam keluarga. Perselisihan dapat bermula dari persoalan sederhana, seperti berebut mainan, memilih acara televisi, atau merasa tidak mendapatkan perhatian yang sama.
Kadang-kadang, pertengkaran berlangsung singkat dan berakhir ketika kedua anak kembali bermain. Namun, ada pula konflik yang terus berulang sehingga membuat orang tua kewalahan.
Dalam keadaan tersebut, orang tua mungkin spontan meminta kakak mengalah karena usianya lebih besar.
Sebagian orang tua juga membandingkan perilaku anak, misalnya dengan mengatakan bahwa adik lebih penurut atau kakak lebih pintar.
Padahal, cara menengahi konflik perlu memperhatikan kebutuhan serta perasaan kedua anak.
Child Mind Institute menjelaskan bahwa pertengkaran saudara dapat dipengaruhi oleh perebutan perhatian, barang, ruang, dan kesempatan mengambil keputusan.
Konflik bukan sesuatu yang selalu dapat dihilangkan, tetapi anak dapat belajar menghadapinya secara lebih baik melalui pendampingan.
Anak-anak yang tinggal dalam satu rumah mempunyai banyak kesempatan berinteraksi.
Mereka menggunakan ruang bersama, berbagi perhatian orang tua, serta terkadang menginginkan benda yang sama.
Perbedaan usia dan kemampuan juga dapat menyebabkan salah paham.
Misalnya, kakak ingin menyusun bangunan balok yang rumit, tetapi adik yang masih kecil justru ingin membongkarnya.
Kakak mungkin merasa terganggu, sedangkan adik belum memahami alasan tindakannya membuat kakak kesal.
Dalam situasi lain, adik ingin menggunakan mainan kakak tanpa meminta izin.
Konflik tersebut perlu dipahami berdasarkan penyebabnya, bukan hanya dengan mencari anak yang paling keras menangis.
Jika pertengkaran disertai memukul, mendorong, atau melempar benda, orang tua perlu segera menghentikan tindakan tersebut.
Pisahkan anak secukupnya agar keadaan aman.
Gunakan kalimat singkat seperti:
"Berhenti dulu. Tidak boleh memukul."
Jangan menunggu konflik selesai sendiri jika salah satu anak berada dalam bahaya.
Namun, hindari tindakan kasar atau bentakan yang justru memberikan contoh penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan masalah.
Setelah keadaan aman, barulah orang tua membantu anak memahami apa yang terjadi.
Kalimat "Kamu kan kakak, harus selalu mengalah" dapat terdengar sederhana, tetapi tidak selalu adil.
Kakak memang dapat memiliki kemampuan memahami aturan lebih baik dibandingkan adik yang lebih kecil.
Namun, hal tersebut tidak berarti kebutuhannya boleh diabaikan.
Misalnya, adik mengambil mainan pribadi kakak tanpa izin.
Jika orang tua langsung meminta kakak menyerahkannya, kakak mungkin merasa haknya tidak dihargai.
Lebih baik jelaskan bahwa setiap anggota keluarga mempunyai hak dan tanggung jawab.
Kakak perlu belajar bersabar, sementara adik juga perlu belajar meminta izin dan menghargai barang orang lain.
Setelah emosi mereda, beri kesempatan masing-masing anak menjelaskan kejadian.
Orang tua dapat bertanya:
"Apa yang terjadi sebelum kalian bertengkar?"
Kemudian dengarkan tanpa langsung memotong atau menyimpulkan.
Anak yang lebih kecil mungkin belum mampu menjelaskan dengan rinci.
Sementara itu, anak yang lebih besar mungkin mempunyai sudut pandang berbeda.
Orang tua dapat membantu merangkum informasi.
Misalnya:
"Kakak sedang bermain balok. Adik ingin ikut, tetapi langsung mengambil bangunannya."
Dengan memahami urutan kejadian, solusi dapat lebih sesuai.
Membandingkan saudara dapat memperkuat persaingan yang tidak sehat.
Misalnya, orang tua mengatakan:
"Lihat adikmu, dia lebih sabar daripada kamu."
Atau:
"Kakakmu saja tidak pernah seperti itu."
Kalimat tersebut menggeser perhatian dari perilaku yang sedang dibahas menjadi penilaian terhadap pribadi anak.
Padahal, setiap anak mempunyai kemampuan pengendalian emosi serta kebutuhan perkembangan berbeda.
Lebih baik gunakan kalimat yang membahas tindakan.
Contohnya:
"Tadi kamu mengambil mainan tanpa izin. Lain kali, tanyakan terlebih dahulu."
Dengan demikian, koreksi tetap jelas tanpa merendahkan salah satu anak.
Baca Juga: Mendidik Tanpa Membandingkan
Anak mungkin mengatakan bahwa orang tua tidak adil karena kakak diperbolehkan tidur lebih malam atau adik mendapatkan bantuan lebih banyak.
Dalam keadaan tersebut, jelaskan bahwa kebutuhan dapat berbeda berdasarkan usia dan situasi.
Misalnya, kakak memperoleh tugas rumah yang lebih kompleks karena sudah mampu melakukannya.
Sementara itu, adik memperoleh bantuan lebih banyak karena masih belajar keterampilan dasar.
Namun, perbedaan aturan harus mempunyai alasan yang dapat dijelaskan.
Jangan menggunakan alasan usia untuk terus-menerus membenarkan tindakan salah salah satu anak.
Keadilan dalam keluarga juga berkaitan dengan kesempatan setiap anak merasa dihargai.
Jika sumber pertengkaran adalah mainan atau perangkat yang digunakan bersama, orang tua dapat membuat kesepakatan giliran.
Misalnya, kakak menggunakan permainan selama sepuluh menit, kemudian adik memperoleh giliran berikutnya.
Gunakan pengatur waktu jika membantu.
Namun, aturan tidak perlu diterapkan secara kaku pada semua benda.
Ada barang pribadi yang memang menjadi milik salah satu anak dan penggunaannya memerlukan izin.
Child Mind Institute menyarankan agar keluarga memperjelas mana barang yang digunakan bersama dan mana yang menjadi milik pribadi.
Dengan aturan tersebut, anak mempunyai ekspektasi yang lebih jelas sebelum bermain.
Anak yang kesal kadang langsung merebut barang atau mendorong saudaranya.
Orang tua dapat memberikan contoh kalimat pengganti.
Misalnya:
"Aku belum selesai menggunakan mainan ini."
"Aku ingin bermain setelah kamu."
"Aku tidak suka kalau barangku diambil tanpa izin."
Kalimat tersebut membantu anak menyampaikan kebutuhan tanpa tindakan agresif.
Latihan sebaiknya dilakukan ketika suasana tenang.
Orang tua dapat bermain peran agar anak mencoba mengucapkannya.
Namun, jangan mengharapkan anak langsung menggunakan kalimat tersebut dalam semua konflik.
Keterampilan sosial memerlukan pengulangan.
Sebagian pertengkaran mungkin dipengaruhi kebutuhan memperoleh perhatian.
Anak dapat merasa bahwa saudaranya lebih sering diajak berbicara atau memperoleh waktu bersama orang tua.
Karena itu, sediakan kesempatan berinteraksi secara individual.
Kegiatan tidak harus mahal atau berlangsung lama.
Misalnya, membaca buku bersama kakak atau bermain singkat bersama adik.
Yang terpenting, selama waktu tersebut anak memperoleh perhatian yang utuh.
Namun, waktu khusus bukan hadiah atas pertengkaran.
Jadikan bagian dari kebiasaan keluarga yang dilakukan secara konsisten.
Setelah bertengkar, orang tua mungkin meminta kedua anak berjabat tangan, berpelukan, atau langsung bermain bersama.
Namun, tidak semua anak siap melakukan hal tersebut ketika masih kesal.
Anak perlu diberi kesempatan menenangkan diri.
Setelah itu, orang tua dapat mengajak mereka membicarakan langkah perbaikan.
Jika ada barang yang dirusak, anak yang bertanggung jawab dapat dibantu memperbaikinya.
Jika ada perasaan yang terluka, minta anak memikirkan cara menunjukkan kepedulian.
Permintaan maaf dan penyelesaian konflik sebaiknya mempunyai makna, bukan sekadar ritual yang dipaksakan.
Orang tua sering memperhatikan anak ketika terjadi pertengkaran, tetapi kurang memberikan perhatian saat mereka bermain dengan baik.
Padahal, perilaku positif juga perlu dikenali.
Misalnya:
"Tadi kalian bergantian menggunakan mainan tanpa berebut. Ayah senang melihat kalian bekerja sama."
Pujian tersebut menunjukkan perilaku yang diharapkan.
Namun, hindari pujian yang membandingkan satu anak dengan anak lainnya.
Fokuslah pada tindakan bersama dan usaha yang sudah dilakukan.
Bayangkan kakak sedang bermain mobil-mobilan, kemudian adik mengambilnya.
Kakak marah dan mendorong adik.
Orang tua dapat melakukan langkah berikut.
Pertama: Hentikan dorongan dan pastikan kedua anak aman.
Kedua: Tanyakan apa yang terjadi setelah emosi mereda.
Ketiga: Jelaskan batasan bahwa mengambil barang tanpa izin dan mendorong sama-sama tidak diperbolehkan.
Keempat: Bantu menyepakati giliran atau pengembalian barang sesuai hak pemiliknya.
Kelima: Minta anak memikirkan tindakan yang dapat memperbaiki keadaan.
Dengan pendekatan tersebut, orang tua tidak langsung menetapkan bahwa kakak pasti salah karena lebih besar atau adik pasti benar karena lebih kecil.
Orang tua perlu memperhatikan pola konflik yang berulang.
Jika satu anak selalu diminta mengalah, ia mungkin merasa tidak mempunyai kesempatan mempertahankan kebutuhannya.
Sebaliknya, anak yang selalu diberi prioritas mungkin belum memperoleh kesempatan belajar menghargai batasan orang lain.
Karena itu, perhatikan keputusan yang dibuat dalam beberapa konflik.
Apakah aturan diterapkan konsisten?
Apakah semua anak mempunyai kesempatan menjelaskan pendapat?
Apakah salah satu anak menunjukkan tanda takut terhadap saudaranya?
Pertanyaan tersebut membantu orang tua menilai apakah pendampingan sudah adil.
Pertengkaran biasa berbeda dari pola kekerasan atau intimidasi yang berulang.
Jika seorang anak terus-menerus menyakiti, mengancam, atau membuat saudaranya takut, orang tua perlu mengambil langkah perlindungan lebih lanjut.
Jangan menyebut keadaan tersebut sebagai persaingan saudara yang normal tanpa pemeriksaan.
Apabila konflik menyebabkan cedera, tekanan emosional berat, atau gangguan kehidupan keluarga, konsultasi dengan profesional kesehatan anak atau psikolog dapat dipertimbangkan.
Keselamatan setiap anak harus menjadi prioritas.
Baca Juga: Cara Mengatasi Rasa Cemburu Kakak pada Adik Baru Tanpa Drama
Kakak dan adik tidak harus selalu sepakat atau bermain bersama setiap waktu.
Perbedaan keinginan merupakan bagian dari kehidupan keluarga.
Namun, orang tua dapat membantu mereka belajar memahami batasan, menghormati kepemilikan, mengelola kemarahan, serta menyelesaikan persoalan dengan kata-kata.
Pendampingan yang adil tidak berarti setiap anak selalu mendapatkan hal yang sama, melainkan kebutuhan dan hak mereka dipertimbangkan secara proporsional.
Dengan menghindari perbandingan dan memberikan contoh penyelesaian konflik yang baik, keluarga dapat membangun hubungan saudara yang lebih saling menghargai.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir