KebonCinta.com - ChatGPT dan berbagai teknologi kecerdasan buatan kini semakin mudah diakses. Banyak orang memanfaatkannya untuk mencari penjelasan mengenai gejala penyakit, memahami obat, hingga memperoleh informasi seputar kesehatan.
Meski praktis, penggunaan AI untuk persoalan medis tidak boleh dilakukan tanpa kehati-hatian. Jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu sesuai dengan kondisi kesehatan seseorang, terlebih jika berkaitan dengan penggunaan obat.
Pentingnya hal tersebut kembali menjadi perhatian setelah kasus Bowen Wan, wanita berusia 31 tahun asal China yang meninggal dunia di Seattle, Amerika Serikat, pada Februari 2026.
Menurut laporan NYPost, Bowen meninggal akibat komplikasi epilepsi setelah mengubah dosis obatnya. Keluarga kemudian menemukan bahwa sebelum meninggal, ia sempat berkonsultasi dengan ChatGPT mengenai cara mengurangi dosis obat.
Kasus ini juga berujung pada gugatan keluarga terhadap OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman. Gugatan tersebut menyoroti dugaan peran respons chatbot dalam keputusan medis yang diambil Bowen.
Baca Juga: Rumah Terasa Sempit Padahal Luas? Bisa Jadi 6 Kebiasaan Ini Bikin Barang Menumpuk
Bowen diketahui mulai menggunakan ChatGPT pada 2023 ketika bekerja sebagai insinyur perangkat lunak di Amerika Serikat.
Pada awalnya, chatbot tersebut digunakan untuk membantu berbagai kebutuhan sehari-hari. Ia meminta saran mengenai hubungan pribadi serta mencari penjelasan tentang asuransi dan tunjangan disabilitas.
Namun, penggunaan AI tersebut dilaporkan semakin intensif. Pada 2025, Bowen disebut mengirimkan sekitar 1.500 pesan setiap minggu.
Menurut keterangan keluarganya, Bowen juga mulai membicarakan persoalan kesehatan, termasuk efek samping obat yang dikonsumsi dan keinginannya untuk mengubah dosis.
Ia diketahui memiliki riwayat epilepsi yang selama lebih dari 10 tahun berhasil dikendalikan dengan pengobatan.
Salah satu persoalan yang dibicarakan Bowen dalam percakapan dengan ChatGPT adalah efek samping pengobatan. Ia dilaporkan mengeluhkan penurunan energi dan kemampuan kognitif.
Pada Januari 2026, Bowen disebut meminta informasi mengenai rencana menurunkan dosis obat epilepsi dari 400 miligram menjadi 300 miligram, lalu 200 miligram per hari.
Menurut gugatan keluarga, percakapan dengan chatbot kemudian berisi tanggapan yang dinilai mendukung pengurangan dosis tanpa melibatkan dokter.
Keluarga juga mengaku menemukan rencana penurunan dosis secara bertahap hingga penghentian obat dalam beberapa minggu.
Seiring perubahan tersebut, Bowen dilaporkan mengalami kebingungan dan kesulitan mengingat kejadian tertentu. Ia juga disebut berulang kali menyampaikan kekhawatirannya melalui percakapan dengan chatbot.
Meski demikian, seluruh dugaan mengenai respons AI tersebut merupakan bagian dari klaim dalam gugatan keluarga dan tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan hukum yang telah diputuskan.
Teknologi AI dapat membantu menjelaskan istilah medis atau memberikan gambaran umum mengenai suatu penyakit. Namun, chatbot tidak memiliki akses otomatis terhadap seluruh informasi klinis yang dibutuhkan untuk menentukan pengobatan seseorang.
Ada beberapa alasan mengapa keputusan medis tidak sebaiknya hanya didasarkan pada jawaban AI.
1. Tidak mengetahui kondisi pasien secara menyeluruh
Setiap pasien memiliki riwayat kesehatan, jenis penyakit, respons terhadap obat, dan kebutuhan pengobatan yang berbeda. Informasi yang disampaikan melalui percakapan belum tentu cukup untuk menggambarkan kondisi tersebut.
2. Jawaban AI bisa keliru atau tidak sesuai konteks
Chatbot dapat menghasilkan informasi yang terdengar masuk akal, tetapi belum tentu tepat secara medis. Karena itu, jawaban yang diberikan tetap perlu diperiksa melalui sumber kesehatan tepercaya atau dikonsultasikan kepada tenaga medis.
3. Tidak dapat menggantikan pemeriksaan langsung
Dokter dapat melakukan pemeriksaan, menilai perkembangan kondisi pasien, serta mempertimbangkan hasil pemeriksaan penunjang. Kemampuan tersebut tidak dimiliki chatbot berbasis teks.
4. Perubahan pengobatan membutuhkan pertimbangan medis
Mengurangi dosis atau menghentikan obat tertentu dapat menimbulkan risiko, terutama pada penyakit yang membutuhkan pengobatan teratur. Penyesuaian harus dilakukan berdasarkan evaluasi dokter.
Merasa tidak nyaman setelah mengonsumsi obat merupakan hal yang perlu diperhatikan. Namun, mengubah dosis sendiri bukan solusi yang aman.
Jika mengalami efek samping, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir