Keboncinta.com-- Ketika membicarakan pencemaran pantai, sebagian besar orang langsung membayangkan botol plastik, kantong belanja, atau bungkus makanan yang berserakan di pesisir. Namun, di balik sampah-sampah yang mudah terlihat, terdapat ancaman lain yang ukurannya jauh lebih kecil tetapi jumlahnya sangat besar dan dampaknya tidak kalah serius, yaitu puntung rokok.
Penelitian internasional terbaru mengungkap bahwa limbah rokok kini menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan di kawasan pantai dunia.
Selain sulit terurai, puntung rokok juga menjadi sumber mikroplastik dan mengandung berbagai zat beracun yang dapat mencemari laut, mengganggu kehidupan biota, hingga berpotensi membahayakan kesehatan manusia.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah One Earth dengan judul Food and Beverage Plastics Dominate Global Shorelines: A Harmonized Rank-Based Assessment of Usage Types to Guide Interventions.
Riset tersebut menganalisis lebih dari 5.300 survei sampah pantai yang dilakukan di 112 negara, termasuk melibatkan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bidang mikroplastik, Muhammad Reza Cordova.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan makanan dan minuman, kantong plastik, serta puntung rokok menjadi kelompok sampah yang paling banyak ditemukan di garis pantai dunia.
Bahkan, puntung rokok masuk dalam tiga besar jenis sampah pantai di sekitar 38 persen negara yang menjadi objek penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa limbah rokok telah berkembang menjadi persoalan lingkungan berskala global.
Muhammad Reza Cordova menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa filter rokok dibuat dari selulosa asetat, yaitu salah satu jenis plastik yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai secara alami.
Karena ukurannya kecil, puntung rokok sering dianggap tidak berbahaya dan akan hilang begitu saja setelah dibuang.
Padahal, di lingkungan terbuka, filter tersebut perlahan akan pecah akibat paparan sinar matahari, ombak, serta gesekan pasir hingga berubah menjadi partikel mikroplastik. Partikel berukuran sangat kecil inilah yang kemudian menyebar di lingkungan pesisir dan laut.
Baca Juga: Digitalisasi Program Makan Bergizi Gratis Hadirkan Kemudahan Akses Informasi bagi Orang Tua Siswa
Ancaman puntung rokok tidak hanya berasal dari kandungan plastiknya.
Sisa pembakaran tembakau yang masih menempel pada filter mengandung berbagai zat kimia berbahaya seperti nikotin, arsenik, timbal, dan logam berat lainnya.
Saat puntung rokok masuk ke laut, zat-zat tersebut dapat larut ke dalam air dan mencemari ekosistem perairan.
Organisme laut seperti plankton, kerang, ikan kecil, hingga berbagai biota lainnya berpotensi terpapar racun maupun mengonsumsi partikel mikroplastik tersebut.
Dalam jangka panjang, mikroplastik yang telah memasuki rantai makanan laut berisiko kembali ke manusia melalui konsumsi hasil perikanan.
Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa kondisi pencemaran pantai di Indonesia memiliki pola yang serupa dengan banyak negara lainnya.
Kemasan makanan sekali pakai, botol plastik, kantong plastik, serta puntung rokok masih mendominasi sampah yang ditemukan di kawasan pesisir.
Menurut Reza Cordova, kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya mengatasi pencemaran tidak cukup hanya melalui kegiatan pengangkutan atau pembersihan sampah.
Diperlukan perubahan pola konsumsi masyarakat, pengurangan penggunaan produk sekali pakai, serta pembenahan sistem produksi dan pengelolaan kemasan agar jumlah sampah yang masuk ke lingkungan dapat ditekan sejak awal.
Di kawasan wisata pantai, puntung rokok termasuk limbah yang paling sulit diatasi.
Ukurannya yang kecil membuat sampah ini mudah terselip di antara pasir sehingga sering luput dari proses pembersihan.
Akibatnya, jumlahnya terus bertambah setiap hari, terutama karena masih banyak pengunjung yang membuang puntung rokok langsung ke pasir maupun ke laut.
Meskipun terlihat sepele jika dilakukan oleh satu orang, kebiasaan tersebut akan memberikan dampak besar apabila terjadi secara terus-menerus oleh ribuan orang.
Menurut Muhammad Reza Cordova, aksi bersih pantai tetap memiliki manfaat, tetapi bukan solusi utama untuk mengatasi persoalan ini.
Langkah yang paling efektif adalah mengurangi sampah sejak dari sumbernya melalui perubahan perilaku masyarakat.
Ia menilai puntung rokok sudah seharusnya diperlakukan sebagai limbah plastik sekali pakai yang membutuhkan perhatian khusus.
Selain itu, penelitian ini juga memperkuat pentingnya penerapan kebijakan seperti pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan kembali kemasan (reuse), penerapan tanggung jawab produsen (Extended Producer Responsibility atau EPR), serta penguatan sistem pengelolaan sampah nasional.
Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi pencemaran akibat puntung rokok.
Selama ini, kampanye lingkungan lebih banyak menyoroti sampah plastik berukuran besar seperti botol atau sedotan, sementara puntung rokok masih jarang menjadi perhatian utama.
Padahal, jumlahnya sangat besar dan tersebar luas di kawasan pesisir dunia.
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang panjang, Indonesia memerlukan kerja sama antara pemerintah, pengelola kawasan wisata, komunitas lingkungan, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menekan pencemaran dari limbah rokok.
Penyediaan tempat pembuangan khusus puntung rokok, edukasi kepada pengunjung pantai, serta penerapan aturan kebersihan menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Di sisi lain, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui kebiasaan sederhana, seperti membawa wadah khusus untuk menyimpan puntung rokok sebelum membuangnya ke tempat yang semestinya.
Penelitian internasional ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap ekosistem laut tidak selalu berasal dari sampah yang berukuran besar. Puntung rokok yang sering dianggap sepele justru menjadi salah satu penyumbang pencemaran paling masif di kawasan pesisir dunia.
Jika kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan terus berlangsung, akumulasi mikroplastik dan zat berbahaya di laut akan semakin meningkat. Dampaknya tidak hanya mengancam biota laut, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hasil perikanan dan kesehatan manusia.
Oleh karena itu, perubahan perilaku, edukasi yang berkelanjutan, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada pengurangan limbah menjadi langkah penting untuk menjaga kelestarian laut dan pesisir bagi generasi mendatang.***