Maka, yang terpenting dalam berbahasa bukanlah keteraturan gramatikal semata, tetapi etikanya. Etika dalam memahami, dalam menerima bahwa tidak semua harus literal. Bahwa kadang, yang paling benar justru yang tidak terlalu tepat. Kata-kata, seperti pagi yang tak butuh diselamatkan, tak menuntut pembenaran. Ia hanya perlu diterima sebagai isyarat, sebagai ungkapan yang menyampaikan lebih dari sekadar makna. Ungkapan yang merangkul, menghangatkan, meski tak selalu logis. Seperti "selamat pagi," yang tak bermaksud menyelamatkan waktu, melainkan menghangatkan hati.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir