News
M. Fadhli Dzil Ikram

Ilmuwan China Temukan Cara Ubah Udara Mars Jadi Bahan Bakar Roket, Ini Teknologinya

Ilmuwan China Temukan Cara Ubah Udara Mars Jadi Bahan Bakar Roket, Ini Teknologinya

02 November 2026 | 08:28

Keboncinta.com – China terus mengembangkan teknologi antariksa untuk mendukung rencana pengiriman manusia ke Mars. Salah satu terobosan yang sedang diteliti adalah kemampuan memproduksi bahan bakar langsung dari atmosfer planet merah tersebut.

Para ilmuwan China mengembangkan katalis khusus yang mampu mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi metanol atau bahan bakar cair. Teknologi ini diharapkan dapat membantu astronaut memenuhi kebutuhan energi ketika menjalankan misi jangka panjang di Mars.

Dikutip dari South China Morning Post, Minggu (1/11/2026), penelitian tersebut dilakukan oleh tim dari Deep Space Exploration Laboratory yang didanai pemerintah dan berbasis di Hefei, China.

Atmosfer Mars diketahui mengandung lebih dari 95 persen karbon dioksida. Kandungan tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan berbagai kebutuhan selama eksplorasi antariksa.

Baca Juga: Posisi Geografis dan Astronomis ASEAN yang Mempengaruhi Hubungan Regional 

China Kembangkan Katalis Pengubah CO2 Menjadi Metanol

Penelitian yang dipimpin Zhang Zhe bersama sejumlah ilmuwan lainnya berfokus pada pengembangan katalis berbahan tembaga dan natrium. Material tersebut disusun dalam struktur kristal menyerupai spons untuk membantu proses reaksi kimia.

Katalis ini memungkinkan karbon dioksida bereaksi dengan hidrogen sehingga menghasilkan metanol. Hidrogen yang dibutuhkan dalam proses tersebut berpotensi diperoleh melalui pengolahan es air yang tersedia di Mars.

Dalam pengujian laboratorium di Bumi, teknologi tersebut mampu menghasilkan metanol hingga 11 kali lebih banyak dibandingkan penggunaan tembaga tanpa kombinasi material tambahan.

Selain meningkatkan produksi, katalis tersebut juga membantu mengurangi terbentuknya produk sampingan yang tidak diinginkan.

Berdasarkan hasil pengujian, setiap kilogram katalis dapat menghasilkan sekitar 245 gram metanol per jam. Material tersebut juga mampu mempertahankan kinerjanya secara stabil selama pengujian selama 12 jam.

Metanol Bisa Digunakan untuk Kebutuhan Astronaut

Metanol memiliki sejumlah kegunaan yang dinilai penting untuk mendukung kehidupan manusia di Mars.

Bahan bakar cair tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, menyediakan pemanas, hingga menggerakkan rover atau kendaraan penjelajah.

Selain itu, metanol juga berpotensi menjadi bahan baku industri kimia sederhana, seperti pembuatan cairan antibeku dan material bangunan.

Keunggulan lainnya adalah metanol tetap berbentuk cair pada suhu ruangan. Kondisi ini membuat penyimpanan dan pemanfaatannya relatif lebih mudah dibandingkan metana yang memerlukan suhu sangat rendah agar tetap cair.

Dengan memproduksi bahan bakar langsung di Mars, kebutuhan pengiriman pasokan dari Bumi dapat dikurangi. Hal ini berpotensi menekan biaya misi sekaligus meningkatkan kemandirian pangkalan manusia di masa depan.

Baca Juga: NASA Kabarkan Voyager 1 Kembali Terhubung, Penghematan Daya Bantu Pertahankan Misi 

Strategi China Berbeda dengan NASA dan SpaceX

Pengembangan bahan bakar dari atmosfer Mars sebenarnya bukan gagasan baru. NASA sebelumnya telah menguji teknologi MOXIE yang dipasang pada rover Perseverance.

Perangkat tersebut berhasil menghasilkan oksigen dari karbon dioksida di atmosfer Mars selama periode pengujian 2021 hingga 2023.

Sementara itu, NASA dan SpaceX juga memiliki perhatian terhadap produksi metana sebagai bahan bakar roket untuk mendukung perjalanan pulang dari Mars.

Berbeda dengan pendekatan tersebut, tim ilmuwan China memilih mengembangkan metanol karena lebih mudah disimpan dan memiliki kegunaan yang lebih beragam.

China Siapkan Misi Pengambilan Sampel Mars

Keseriusan China dalam eksplorasi Mars juga terlihat melalui keberhasilan misi Tianwen-1 yang mendaratkan wahana tanpa awak di planet tersebut pada 2021.

Selanjutnya, China merencanakan misi Tianwen-3 yang ditargetkan meluncur sekitar 2028. Misi tersebut bertujuan membawa sampel material Mars ke Bumi dengan target kedatangan sekitar 2031.

Meski demikian, teknologi produksi metanol masih membutuhkan penelitian lanjutan. Zhang Zhe dan timnya menyebutkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah mengumpulkan serta memadatkan atmosfer Mars yang sangat tipis agar dapat diproses secara optimal.

Jika berhasil dikembangkan lebih lanjut, teknologi ini berpotensi menjadi bagian penting dalam mendukung eksplorasi manusia di Mars, terutama untuk memenuhi kebutuhan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari Bumi.

Tags:
Astronomi NASA

Komentar Pengguna