keboncinta.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami penguatan pada perdagangan saham Senin, 2 November 2026, setelah mengalami tekanan jual cukup besar sepanjang pekan sebelumnya. Peluang pemulihan indeks menjadi perhatian investor, terutama setelah IHSG mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan mingguan.
Analis memperkirakan IHSG berpotensi bergerak menuju kisaran 5.456 hingga 5.564 dalam skenario penguatan. Namun, investor tetap perlu mewaspadai kemungkinan koreksi lanjutan apabila tekanan jual kembali meningkat.
Sejumlah saham dari sektor telekomunikasi, energi, pertambangan, perkebunan, properti, rokok, dan infrastruktur masuk dalam daftar rekomendasi analis. Saham EXCL, MEDC, SQMI, TAPG, CTRA, HMSP, dan JSMR menjadi pilihan yang dapat dicermati pelaku pasar.
Meski demikian, kondisi pasar yang masih berfluktuasi membuat investor perlu memperhatikan level support, resistance, target harga, serta batas penghentian kerugian atau stoploss sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga: Usai Bertemu MSCI, BEI Siapkan Keterbukaan Afiliasi Saham dan Penataan IHSG
Pergerakan IHSG masih menunjukkan tekanan setelah indeks mengalami penurunan pada akhir perdagangan Oktober 2026.
Pada Jumat, 30 Oktober 2026, IHSG melemah 0,80 persen dan ditutup di level 5.057. Tekanan jual bahkan semakin meningkat menjelang penutupan perdagangan.
Jika dilihat dalam periode mingguan, IHSG mengalami koreksi sebesar 7,03 persen. Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa sentimen negatif masih cukup kuat memengaruhi aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meskipun demikian, peluang penguatan pada awal pekan masih terbuka. Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG memiliki peluang melanjutkan penguatan menuju area 5.456 hingga 5.564 dalam skenario terbaik.
Prediksi tersebut didasarkan pada analisis teknikal menggunakan pendekatan Elliott Wave. Dalam skenario positif, IHSG diperkirakan masih berada dalam bagian gelombang koreksi keempat sebelum berpotensi melanjutkan pergerakan naik.
Namun, Herditya juga mengingatkan adanya kemungkinan skenario negatif. Apabila tekanan jual semakin kuat, IHSG berpotensi melanjutkan penurunan menuju kisaran 4.763 hingga 4.845.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan IHSG masih berada dalam fase yang membutuhkan perhatian ekstra dari investor. Peluang penguatan jangka pendek belum sepenuhnya menghilangkan risiko koreksi lebih dalam.
Selain memproyeksikan arah pergerakan indeks, Herditya Wicaksana juga memberikan sejumlah level teknikal yang dapat menjadi acuan investor.
IHSG diperkirakan memiliki level support di posisi 5.012 dan 4.915. Sementara itu, area resistance berada pada level 5.328 dan 5.460.
Level support merupakan area harga yang berpotensi menahan penurunan indeks. Sebaliknya, resistance menjadi area yang berpotensi menghambat penguatan.
Apabila IHSG mampu menembus resistance terdekat dengan dukungan volume transaksi yang memadai, peluang penguatan menuju level berikutnya dapat semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila indeks gagal mempertahankan area support, investor perlu mengantisipasi kemungkinan tekanan jual lanjutan.
Pandangan yang lebih berhati-hati disampaikan PT Pilarmas Investindo Sekuritas. Dalam risetnya, perusahaan sekuritas tersebut memperkirakan IHSG berpotensi mengalami pelemahan terbatas dengan kisaran support dan resistance pada level 4.815 hingga 5.185.
Perbedaan proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian dalam menentukan arah indeks. Oleh karena itu, strategi transaksi jangka pendek perlu mempertimbangkan perubahan momentum pasar.
Di tengah kondisi IHSG yang masih berfluktuasi, sejumlah saham masuk dalam daftar rekomendasi perdagangan dari dua perusahaan sekuritas.
PT Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan tiga saham, yaitu PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
Ketiga saham tersebut berasal dari sektor berbeda sehingga dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin mencermati peluang perdagangan di tengah ketidakpastian pasar.
Sementara itu, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memilih empat saham, yakni PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Empat saham tersebut juga dilengkapi rekomendasi teknikal berupa area pembelian, target harga, serta batas stoploss.
Baca Juga: Membaca Peluang dari Arah IHSG dan Cara Petik Cuan dari BMRI hingga TLKM
Berikut rincian rekomendasi teknikal MNC Sekuritas untuk perdagangan Senin, 2 November 2026.
XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)
Saham EXCL mencatatkan penguatan sebesar 5,85 persen ke level 1.720 pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut didukung oleh munculnya volume pembelian yang menunjukkan adanya peningkatan minat transaksi.
Secara teknikal, EXCL diperkirakan sedang berada pada gelombang kelima dari gelombang koreksi C. Kondisi tersebut membuka peluang bagi saham ini untuk melanjutkan penguatan apabila momentum pembelian tetap terjaga.
Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Saham MEDC mengalami kenaikan sebesar 3,73 persen ke level 1.390. Penguatan tersebut disertai peningkatan volume pembelian sehingga memberikan sinyal positif terhadap aktivitas perdagangan.
MNC Sekuritas memperkirakan pergerakan MEDC sedang berada pada bagian gelombang B dari gelombang koreksi sebelumnya.
Strategi trading buy dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan area pembelian yang telah ditentukan.
Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI)
Berbeda dengan EXCL dan MEDC, saham SQMI mengalami koreksi sebesar 5,71 persen ke level 66.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir