Berita
Hilmi An Naufal

ICITEP 2026 di UM Soroti AI, Etika, dan Masa Depan Profesionalisme Guru

ICITEP 2026 di UM Soroti AI, Etika, dan Masa Depan Profesionalisme Guru

02 September 2026 | 05:22

MALANG, KEBONCINTA.COM — Universitas Negeri Malang (UM) menggelar The 5th International Conference on Innovation and Teacher Professionalism atau ICITEP 2026 pada 1–2 September 2026. Konferensi internasional ini membahas perkembangan teknologi pendidikan sekaligus tantangannya terhadap kualitas pembelajaran dan profesionalisme guru.

ICITEP 2026 mengangkat tema “Emerging Technologies in Education: Implications for Teaching Quality, Professional Development, and Ethical Practice”. Tema tersebut menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai perangkat teknis, melainkan bagian dari perubahan besar dalam proses belajar dan pengembangan profesi pendidik.

Forum yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana UM itu mempertemukan pendidik, peneliti, mahasiswa dan praktisi pendidikan dari Indonesia serta sejumlah negara. Kehadiran berbagai kelompok tersebut diharapkan menghasilkan pertukaran gagasan mengenai penggunaan teknologi yang tetap berpihak kepada kepentingan peserta didik.

Sejumlah pembicara nasional hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Prof. Nunuk Suryani, Direktur Sekolah Pascasarjana UM Prof. Syamsul Bachri, serta Direktur Pendidikan Profesi Guru UM Dr. Ferry Maulana Putra.

Pembicara internasional juga berasal dari Philippine Normal University, Beijing Normal University dan University of Newcastle. Konferensi tersebut melibatkan 109 pemakalah dari unsur dosen serta mahasiswa, 150 mahasiswa pendidikan profesi guru, 47 guru pamong dan tiga peserta eksternal.

Wakil Rektor I UM, Ibrahim Bafadal, menekankan bahwa teknologi seperti kecerdasan buatan, pembelajaran mendalam dan platform digital perlu digunakan untuk memperkuat pembelajaran yang bermakna. Teknologi juga diharapkan memperluas akses pendidikan tanpa menghilangkan sisi kemanusiaan dalam hubungan antara guru dan peserta didik.

Perkembangan AI membuat kemampuan profesional guru tidak lagi cukup diukur dari kecakapan menjalankan aplikasi. Guru juga membutuhkan kemampuan pedagogis untuk menentukan kapan teknologi layak digunakan, bagaimana hasilnya dievaluasi dan apakah penggunaannya memberikan manfaat nyata bagi siswa.

Aspek etika menjadi perhatian penting. Pemakaian platform digital membawa persoalan mengenai perlindungan data, keadilan akses, bias algoritma serta ketergantungan terhadap teknologi. Tanpa pemahaman yang memadai, teknologi dapat memperlebar kesenjangan antara sekolah yang memiliki fasilitas lengkap dan sekolah dengan keterbatasan infrastruktur.

Karena itu, pengembangan profesional guru perlu berjalan seiring dengan transformasi teknologi. Pelatihan sebaiknya tidak berhenti pada cara menggunakan perangkat, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, menjaga keamanan data dan mengevaluasi dampak teknologi terhadap proses belajar.

Melalui ICITEP 2026, UM mendorong terciptanya pemanfaatan teknologi pendidikan yang inklusif, bertanggung jawab dan tetap berorientasi pada kualitas manusia. Masa depan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan guru dalam menggunakannya.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna