Teknologi
Hilmi An Naufal

Hasil PISA 2025: Skor Membaca dan Sains Indonesia Naik, Matematika Justru Turun

Hasil PISA 2025: Skor Membaca dan Sains Indonesia Naik, Matematika Justru Turun

10 September 2026 | 06:27

KEBONCINTA.COM – Kamis, 10 September 2026 – Hasil Programme for International Student Assessment atau PISA 2025 memberikan gambaran terbaru mengenai kemampuan murid Indonesia dalam membaca, matematika dan sains.

Hasil yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD menunjukkan adanya peningkatan pada dua bidang, tetapi masih terdapat tantangan besar pada kemampuan matematika.

Skor sains Indonesia pada PISA 2025 mencapai 389.

Angka tersebut naik enam poin dibandingkan PISA 2022 yang berada pada skor 383.

Kemampuan membaca juga mengalami kenaikan enam poin.

Skor membaca meningkat dari 359 pada 2022 menjadi 365 pada PISA 2025.

Namun hasil berbeda terjadi pada matematika.

Skor matematika Indonesia berada di angka 364.

Angka tersebut turun dua poin dibandingkan PISA 2022 yang mencapai 366.

Hasil tersebut menjadi perhatian karena kemampuan matematika merupakan salah satu kompetensi dasar yang mempunyai hubungan kuat dengan kemampuan bernalar dan memecahkan masalah.

PISA bukan sekadar mengukur apakah siswa hafal rumus atau materi pelajaran.

Asesmen tersebut dirancang untuk mengetahui bagaimana murid usia sekitar 15 tahun menggunakan pengetahuan yang dimiliki ketika menghadapi persoalan nyata.

Murid harus mampu memahami informasi, menganalisis masalah kemudian menentukan penyelesaian.

Karena itu hasil PISA sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat kualitas pembelajaran sebuah negara.

PISA 2025 diikuti 91 negara dan perekonomian.

Lebih dari 760 ribu murid menjadi sampel dalam asesmen global tersebut.

Indonesia sendiri mempunyai perkembangan menarik dari sisi akses pendidikan.

Kemendikdasmen mencatat Coverage Index PISA Indonesia meningkat sangat tajam.

Coverage Index menggambarkan proporsi murid usia 15 tahun yang berada di dalam sistem pendidikan formal dan tercakup dalam populasi PISA.

Pada PISA 2003, Coverage Index Indonesia hanya sekitar 0,46.

Pada PISA 2025, angkanya meningkat menjadi 0,90.

Dengan kata lain, cakupan murid usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal sudah jauh lebih besar dibandingkan dua dekade lalu.

Peningkatan akses tersebut menjadi pencapaian penting.

Indonesia mempunyai kondisi geografis yang sangat luas dengan ribuan pulau serta perbedaan fasilitas pendidikan antarwilayah.

Mempertahankan semakin banyak anak dalam sistem pendidikan hingga usia 15 tahun merupakan tantangan besar.

Namun pemerintah menilai peningkatan akses tidak boleh membuat upaya meningkatkan mutu berhenti.

Skor Indonesia masih menunjukkan adanya ruang yang sangat besar untuk perbaikan.

Terutama pada kemampuan murid mencapai tingkat kompetensi tinggi.

Kemendikdasmen kemudian menetapkan empat pilar utama sebagai tindak lanjut terhadap hasil PISA 2025.

Pilar pertama adalah peningkatan kompetensi guru.

Program yang disiapkan mencakup pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru, pelatihan pedagogik serta peningkatan kemampuan digital.

Guru juga akan didorong memahami pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial.

Pilar kedua adalah peningkatan kualitas pembelajaran dan kompetensi murid.

Pembelajaran mendalam atau deep learning menjadi salah satu pendekatan yang terus dikembangkan.

Konsepnya adalah murid tidak hanya menghafal informasi untuk menjawab ujian.

Siswa diarahkan memahami konsep kemudian mampu menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.

Literasi dan numerasi akan tetap menjadi kemampuan fundamental.

Pemerintah juga memperkuat pembelajaran STEM yang menghubungkan Science, Technology, Engineering dan Mathematics.

Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu siswa terbiasa menggunakan berbagai bidang pengetahuan secara bersamaan.

Pilar ketiga berhubungan dengan sistem asesmen.

Kemendikdasmen berencana terus menyelaraskan Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik dengan kemampuan bernalar yang diukur PISA.

Tujuannya agar evaluasi pembelajaran di Indonesia tidak hanya mengukur kemampuan menghafal.

Soal diharapkan semakin mampu mengukur kemampuan analisis serta penerapan pengetahuan.

Pilar keempat adalah penguatan peran keluarga.

Pemerintah menilai sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Kebiasaan belajar di rumah, lingkungan keluarga serta dukungan orang tua mempunyai pengaruh terhadap perkembangan murid.

Program Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk memperkuat pembentukan karakter dan kebiasaan positif.

Hasil PISA 2025 juga menunjukkan beberapa temuan menarik terkait kemampuan digital murid Indonesia.

Kemendikdasmen menyebut siswa Indonesia menunjukkan capaian yang relatif baik dalam pemecahan masalah komputasional.

Murid Indonesia juga dilaporkan lebih sering mendapatkan pembelajaran mengenai cara menilai kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial dibandingkan murid di banyak negara lain.

Kemampuan tersebut semakin relevan ketika AI generatif berkembang cepat.

Siswa sekarang dapat memperoleh informasi dari chatbot dan berbagai platform digital.

Namun informasi yang diberikan AI tidak selalu benar.

Kemampuan memeriksa sumber serta membedakan informasi valid dan keliru menjadi bagian penting dari literasi modern.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher juga menyoroti tingkat rasa ingin tahu murid Indonesia yang dinilai tinggi.

Curiosity atau rasa ingin tahu merupakan modal penting dalam pembelajaran.

Murid yang mempunyai rasa ingin tahu akan lebih terdorong mencari penjelasan dan mencoba memahami sebuah persoalan.

Namun potensi tersebut tetap harus diikuti lingkungan pendidikan yang mendukung.

Guru perlu mempunyai kemampuan mengubah rasa ingin tahu menjadi aktivitas pembelajaran yang bermakna.

Sekolah juga membutuhkan fasilitas dan sumber belajar yang memadai.

Kemendikdasmen menyediakan sejumlah platform digital yang dapat digunakan secara mandiri oleh guru dan murid.

Di antaranya Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid serta portal simulasi dan latihan asesmen dari Pusat Asesmen Pendidikan.

Berbagai layanan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan bernalar, literasi digital dan kemandirian belajar.

Kenaikan skor sains dan membaca tentu menjadi kabar positif.

Namun turunnya skor matematika menjadi pengingat bahwa perbaikan pendidikan tidak dapat hanya dilihat dari satu indikator.

Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan akses sekolah benar-benar diikuti peningkatan kualitas pembelajaran.

Indonesia kini berhasil mempertahankan jauh lebih banyak anak usia 15 tahun dalam sistem pendidikan dibandingkan dua dekade lalu.

Pekerjaan selanjutnya adalah memastikan mereka tidak hanya berada di sekolah, tetapi juga mendapatkan kemampuan membaca, berhitung, bernalar dan memecahkan masalah yang dibutuhkan untuk menghadapi kehidupan nyata.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna