Ciayumajakuning
Hilmi An Naufal

Hasil Laboratorium MBG Kota Cirebon Temukan Dua Jenis Bakteri pada Makanan, 426 Orang Terdampak Dugaan Keracunan

Hasil Laboratorium MBG Kota Cirebon Temukan Dua Jenis Bakteri pada Makanan, 426 Orang Terdampak Dugaan Keracunan

06 November 2026 | 10:54

KebonCinta.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, Jawa Barat, mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak pada ratusan penerima manfaat.

Hasil pengujian menemukan dua jenis bakteri, yakni Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus, pada sejumlah menu makanan yang diperiksa.

Temuan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. Siti Maria Listiawaty, pada Kamis, 5 November 2026.

Berdasarkan pendataan terakhir yang disampaikan Dinkes, sebanyak 426 orang terdampak dalam kejadian tersebut. Mayoritas merupakan pelajar dari sejumlah sekolah di Kota Cirebon.

DUA JENIS BAKTERI DITEMUKAN

Baca Juga: Sering Diamalkan untuk Ketenangan Hati: Ketahui Keutamaan Luar Biasa di Balik Sholawat Fatih 

Dinas Kesehatan Kota Cirebon menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap sampel makanan yang berkaitan dengan kejadian dugaan keracunan MBG.

Hasilnya menunjukkan keberadaan bakteri Staphylococcus aureus pada sampel sup telur puyuh.

Sementara itu, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada sampel sayur wortel, nasi, dan orek tempe.

Temuan tersebut menjadi petunjuk penting dalam evaluasi keamanan pangan yang disajikan kepada penerima manfaat.

Menurut Siti Maria, hasil pemeriksaan biakan menunjukkan pertumbuhan koloni bakteri yang mendukung penjelasan mengenai gejala gangguan kesehatan yang dialami para korban.

Meski demikian, hasil laboratorium tidak boleh diartikan sebagai kepastian bahwa seluruh tahapan kontaminasi telah diketahui.

PENELITIAN JUGA MENEMUKAN NITRIT

Selain pemeriksaan mikrobiologi, Dinas Kesehatan melakukan pengujian kimia terhadap sejumlah sampel.

Hasil pengujian menemukan kandungan nitrit pada sampel sayuran dan nasi.

Siti Maria menjelaskan bahwa pembentukan nitrit dapat berkaitan dengan aktivitas bakteri yang mengubah nitrat.

Temuan tersebut menjadi bagian dari keseluruhan hasil pemeriksaan yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi keamanan makanan.

Namun, laporan yang diperiksa tidak mencantumkan konsentrasi nitrit pada masing-masing sampel atau rincian interpretasi berdasarkan batas laboratorium tertentu.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan tingkat paparan nitrit atau besarnya risiko pada setiap korban tanpa data tambahan.

SAMPEL SUMBER AIR JUGA DIPERIKSA

Selain sampel makanan, Dinkes melakukan pemeriksaan terhadap sumber air yang digunakan di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut laporan Radar Cirebon, pengujian meliputi air minum galon, air PDAM, dan air tanah.

Pada parameter kimiawi yang diperiksa, sampel air tersebut dilaporkan berada dalam batas normal.

Temuan tersebut membantu mempersempit evaluasi terhadap kemungkinan sumber masalah.

Meski demikian, hasil pemeriksaan air pada parameter tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh aspek sanitasi dan proses produksi sudah memenuhi standar.

Pemeriksaan keamanan pangan tetap memerlukan penilaian terhadap keseluruhan proses penyediaan makanan.

WAKTU PENYIMPANAN MAKANAN JADI PERHATIAN

Siti Maria menduga pertumbuhan bakteri dapat berkaitan dengan lamanya waktu penyimpanan makanan dan pengendalian suhu yang tidak optimal.

Kondisi makanan yang disimpan terlalu lama dapat meningkatkan peluang pertumbuhan mikroorganisme tertentu apabila pengolahan dan penyimpanannya tidak memenuhi persyaratan.

Pengaturan waktu memasak, penyimpanan, serta distribusi menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan makanan yang dikirim kepada penerima manfaat.

Namun, dugaan mengenai lamanya penyimpanan tersebut masih harus dibedakan dari kesimpulan yang telah dibuktikan secara menyeluruh.

Informasi yang tersedia belum memastikan secara terperinci kapan kontaminasi terjadi atau pada tahap mana proses produksi mengalami gangguan.

426 ORANG DILAPORKAN TERDAMPAK

Dinas Kesehatan sebelumnya mencatat sebanyak 426 orang mengalami gangguan kesehatan dalam kasus dugaan keracunan MBG di Kota Cirebon.

Mayoritas penerima manfaat yang terdampak merupakan peserta didik dari sejumlah sekolah.

Para korban dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, dan diare.

Salah satu pasien anak bahkan sempat mengalami penurunan kesadaran sehingga memerlukan penanganan medis.

Kasus tersebut kemudian ditangani melalui fasilitas kesehatan serta koordinasi dengan instansi terkait.

Perlu diperhatikan bahwa angka 426 merujuk pada jumlah keseluruhan orang terdampak yang dilaporkan Dinkes, bukan pernyataan bahwa semuanya merupakan siswa.

SELURUH PASIEN DILAPORKAN PULIH

Siti Maria menyampaikan bahwa kondisi para korban telah membaik setelah memperoleh penanganan.

Pasien yang sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit dilaporkan telah diperbolehkan pulang dalam kondisi sehat.

Anak yang sempat mengalami penurunan kesadaran juga disebut telah pulih setelah memperoleh pertolongan medis.

Keterangan tersebut disampaikan dalam perkembangan kasus pada 5 November 2026.

Meskipun kondisi pasien membaik, penanganan medis yang telah selesai tidak berarti evaluasi keamanan pangan boleh dihentikan.

Pemeriksaan terhadap proses penyediaan makanan tetap diperlukan untuk mengurangi kemungkinan kejadian serupa.

SPPG SEBELUMNYA TELAH DITANGGUHKAN

Kasus ini berkaitan dengan penyediaan makanan MBG di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Setelah dugaan keracunan muncul pada Oktober 2026, pihak pelayanan pemenuhan gizi mengambil langkah penangguhan sementara operasional SPPG terkait.

Penangguhan dilakukan sebagai bagian dari penanganan dan pemeriksaan kejadian.

Namun, laporan hasil laboratorium pada 5 November belum memuat keputusan baru yang memastikan kapan operasional SPPG tersebut dapat kembali berjalan.

Status operasional terbaru harus mengikuti pengumuman instansi yang memiliki kewenangan.

PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN PERLU DIPERKUAT

Temuan laboratorium menjadi bahan penting bagi pelaksana program MBG untuk mengevaluasi pengadaan bahan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan.

Selain itu, kebersihan peralatan, sanitasi dapur, serta pengendalian waktu dan suhu perlu menjadi perhatian.

Sekolah juga memerlukan prosedur pelaporan yang jelas apabila terdapat peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan setelah menerima makanan.

Penanganan harus mengutamakan keselamatan penerima manfaat serta pemeriksaan berdasarkan bukti.

Namun, tidak tepat menyatakan bahwa seluruh dapur MBG di Kota Cirebon memiliki kondisi yang sama hanya berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap kejadian ini.

PERKEMBANGAN KASUS PER 6 NOVEMBER

Berdasarkan laporan yang diperiksa hingga Jumat, 6 November 2026, hasil laboratorium telah menunjukkan keberadaan Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, serta nitrit pada sejumlah sampel makanan.

Dinas Kesehatan juga menyatakan seluruh pasien yang sebelumnya menjalani perawatan telah pulih.

Temuan tersebut menjadi dasar penting bagi evaluasi lanjutan mengenai keamanan pangan dalam program MBG.

Pemerintah dan penyelenggara diharapkan memastikan tindak lanjut pemeriksaan dilakukan secara transparan, berbasis data, serta mengutamakan keselamatan anak dan penerima manfaat lainnya.

Tags:
keracunan MBG Cirebon 2026 hasil laboratorium MBG Dinkes Kota Cirebon Staphylococcus aureus Bacillus cereus SPPG Kalijaga 426 korban MBG keamanan pangan sekolah berita Kota Cirebon.

Komentar Pengguna