Kuptsikevich menjelaskan bahwa koreksi harga emas saat ini sudah mencapai sekitar 61,8 persen dari keseluruhan kenaikan yang terjadi sejak titik terendah empat tahun sebelumnya hingga mencapai puncak pada Januari dan Februari.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tren kenaikan emas sebelumnya sedang mengalami koreksi cukup dalam. Investor pun perlu memperhatikan apakah harga mampu membentuk area dukungan baru atau justru melanjutkan penurunan.
Menurutnya, emas tidak selalu bergerak berlawanan dengan pasar saham ketika terjadi aksi jual besar-besaran. Dalam situasi tertentu, logam mulia justru dapat mengalami tekanan bersamaan dengan aset berisiko lainnya.
Emas berpotensi kembali memperoleh dukungan apabila bank sentral memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter. Sebab, perubahan arah suku bunga dapat memengaruhi daya tarik emas dibandingkan instrumen investasi lain yang memberikan imbal hasil.
Harga Minyak dan Kebijakan Suku Bunga Menekan Emas
Selain faktor teknikal, pergerakan harga minyak dunia menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan investor emas pekan ini.
Kuptsikevich melihat adanya hubungan antara kenaikan harga minyak dan pelemahan emas. Dalam kondisi ekonomi saat ini, minyak memiliki pengaruh besar terhadap inflasi sehingga kenaikan harganya dapat memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan harga barang dan jasa.
Ketika harga energi meningkat, peluang bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi juga dapat semakin besar. Situasi tersebut berpotensi mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan bunga maupun dividen.
Perkembangan kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan juga menjadi perhatian pasar.
Meskipun ketiga bank sentral tersebut tidak menaikkan suku bunga pada pekan sebelumnya, keputusan dan pernyataan mereka justru memperkuat ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi pada Desember.
Ekspektasi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi harga emas. Sebab, suku bunga yang relatif tinggi biasanya meningkatkan daya tarik instrumen berbasis imbal hasil, sementara biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar.
Kombinasi antara kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan prospek kebijakan moneter ketat membuat investor perlu lebih berhati-hati. Jika tekanan tersebut berlanjut, pemulihan harga emas kemungkinan membutuhkan waktu lebih panjang.
Pemilu Paruh Waktu AS dan Data Ekonomi Jadi Penentu
Selain faktor moneter, perkembangan politik Amerika Serikat menjadi perhatian utama pasar keuangan pada pekan pertama November 2026.
Pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections berpotensi memengaruhi sentimen investor. Hasil pemilu dapat membawa perubahan terhadap arah kebijakan pemerintahan, hubungan politik, serta prospek ekonomi Amerika Serikat.
Ketidakpastian politik biasanya mendorong investor menyesuaikan portofolio untuk mengantisipasi perubahan kondisi pasar. Dalam situasi tertentu, emas dapat memperoleh keuntungan sebagai aset lindung nilai. Namun, pengaruhnya tetap bergantung pada respons pasar terhadap perkembangan politik tersebut.
Selain pemilu, laporan ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls Oktober juga menjadi agenda penting. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat sekaligus menjadi pertimbangan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Rangkaian agenda ekonomi pekan ini dimulai pada Senin melalui publikasi ISM Manufacturing PMI Oktober. Data tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas sektor manufaktur Amerika Serikat.
Pada Selasa, perhatian pasar tertuju pada laporan lowongan pekerjaan JOLTS. Pada hari yang sama, pemungutan suara pemilu paruh waktu AS juga menjadi sorotan utama.
Selanjutnya, Rabu akan diwarnai publikasi laporan ketenagakerjaan sektor swasta ADP dan ISM Services PMI. Kedua data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi dunia usaha dan perkembangan tenaga kerja.
Pada Kamis, investor akan mencermati keputusan kebijakan moneter Bank of England serta laporan mingguan klaim tunjangan pengangguran Amerika Serikat.
Sementara itu, Jumat menjadi salah satu hari terpenting dengan dirilisnya data nonfarm payrolls Oktober. Publikasi tersebut akan dilanjutkan dengan survei awal sentimen konsumen dari University of Michigan.
Baca Juga: Kuningan Raih Penghargaan OJK SimPel 2026, Sebanyak 600 Rekening Pelajar Dibuka dalam Sehari di MTsN 3 Kuningan
Investor Perlu Mencermati Pergerakan Emas Pekan Ini
Berbagai faktor tersebut membuat prospek harga emas pada pekan ini masih dibayangi ketidakpastian. Penembusan level US$ 4.000, tekanan teknikal, kenaikan harga minyak, serta ekspektasi kebijakan suku bunga menjadi tantangan bagi pemulihan logam mulia.
Meskipun mayoritas analis Wall Street memperkirakan harga emas melemah, investor ritel masih menyimpan harapan terhadap potensi kenaikan.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bahwa pasar belum sepenuhnya memiliki kesepakatan mengenai arah pergerakan emas selanjutnya.
Investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada prediksi harga, tetapi juga memperhatikan perkembangan data ekonomi, kebijakan bank sentral, serta situasi geopolitik. Dengan memahami berbagai faktor tersebut, keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih terukur di tengah volatilitas pasar.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir