JAKARTA, Keboncinta.com — Kesulitan menulis pada anak tidak selalu dapat diselesaikan dengan menambah jumlah latihan. Guru perlu mengenali penyebab masalah dan menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan setiap murid.
Pendekatan tersebut diterapkan oleh Redha, seorang guru kelas III sekolah dasar negeri di Depok. Ia mengubah cara mendampingi murid setelah mempelajari buku Menulis Tanpa Menangis yang diterbitkan Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pengalaman itu disampaikan dalam kegiatan bedah buku yang diselenggarakan di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
Salah satu murid yang didampinginya sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk menulis, kesulitan memberikan jarak antarkata, dan dapat menangis hingga tiga kali dalam sehari ketika harus mencatat materi dari tiga mata pelajaran.
Alih-alih meminta anak tersebut terus berlatih dengan cara yang sama, guru mulai mencari sumber kesulitannya dan mengubah kondisi belajar di kelas.
Murid tersebut kemudian ditempatkan di bagian depan kelas. Materi yang harus disalin dibuat lebih dekat agar ia tidak terus-menerus memindahkan pandangan dari papan tulis menuju buku.
Guru juga memberikan salinan soal secara langsung. Cara ini membantu mengurangi beban anak ketika harus melihat papan tulis, mengingat tulisan, menundukkan kepala, kemudian memindahkannya ke buku.
Untuk membantu memberikan jarak antarkata, guru menggunakan stik es krim atau ruas jari sebagai penanda. Waktu mengerjakan tugas juga disesuaikan dengan kebutuhan murid.
Setelah memperoleh penyesuaian tersebut, perubahan mulai terlihat. Murid yang sebelumnya sering menangis ketika menerima tugas menulis tidak lagi menunjukkan reaksi yang sama.
Ia mulai mampu menyelesaikan sedikitnya setengah bagian catatan pada setiap mata pelajaran. Sebagian tugas memang masih harus dilanjutkan di rumah, tetapi proses menulis di kelas menjadi lebih terkendali.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan anak tidak selalu harus diukur dari kecepatan menyelesaikan seluruh tulisan. Hilangnya rasa takut dan meningkatnya kepercayaan diri juga menjadi perkembangan penting.
Guru tersebut turut mendampingi murid lain yang sering mengeluhkan kelelahan ketika menulis. Setelah diperhatikan, anak itu ternyata menekan pensil terlalu kuat hingga bekas tulisannya menembus beberapa halaman.
Permasalahan tersebut tidak langsung terlihat apabila guru hanya menilai hasil akhir tulisan. Cara memegang alat tulis dan tekanan yang diberikan anak perlu diamati selama proses belajar.
Guru kemudian menempatkan murid itu di depan kelas dan memperbesar bagian pegangan pensil menggunakan kain perca atau pencil grip. Pegangan yang lebih besar membantu anak memegang pensil dengan lebih nyaman.
Dalam waktu sekitar satu bulan, murid tersebut dilaporkan mulai mampu menyelesaikan tugas menulisnya. Tekanan pensil yang sebelumnya meninggalkan bekas hingga enam halaman juga berkurang menjadi sekitar tiga halaman.
Penyesuaian sederhana itu tidak serta-merta menjadi solusi yang sama untuk seluruh anak. Setiap murid dapat mengalami hambatan berbeda sehingga guru perlu melakukan pengamatan terlebih dahulu.
Buku Menulis Tanpa Menangis mengingatkan bahwa anak yang menghindari tugas menulis tidak selalu bersikap malas atau kurang disiplin.
Kesulitan dapat muncul pada tahap memegang pensil, menarik garis, menulis huruf, mengeja, melakukan dikte, menyalin materi, hingga menyusun gagasan dalam bentuk karangan.
Faktor yang memengaruhinya juga beragam. Anak dapat mengalami hambatan pada koordinasi motorik, perkembangan bahasa, kemampuan berkonsentrasi, fungsi eksekutif, atau kondisi belajar di lingkungannya.
Pada beberapa kasus, kesulitan menulis juga dapat berkaitan dengan kebutuhan khusus yang memerlukan pemeriksaan dan pendampingan lebih lanjut. Guru dan orang tua tidak disarankan memberikan diagnosis sendiri hanya berdasarkan tulisan anak.
Apabila hambatan terus terjadi dan mengganggu proses belajar, sekolah dapat berkomunikasi dengan orang tua untuk menentukan apakah anak memerlukan bantuan tenaga profesional.
Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Supriyatno, menilai pembelajaran menulis seharusnya tidak menjadi beban yang menakutkan bagi anak.
Menulis bukan sekadar menghasilkan rangkaian huruf di atas kertas. Kegiatan tersebut melibatkan konsentrasi, koordinasi gerak tangan dan mata, pengolahan bahasa, pemahaman materi, serta kepercayaan diri.
Karena itu, memberikan tugas menyalin dalam jumlah banyak belum tentu memperkuat kemampuan menulis. Anak yang sudah mengalami hambatan justru dapat semakin lelah, frustrasi, atau kehilangan minat belajar.
Guru perlu membedakan antara anak yang belum memahami materi, kesulitan menggerakkan tangan, tidak nyaman menggunakan pensil, lambat memindahkan informasi, atau belum mampu menyusun gagasan.
Setelah sumber kesulitan dikenali, guru dapat menentukan penyesuaian yang tepat. Bentuknya bisa berupa pengurangan materi yang harus disalin, pemberian lembar soal, perubahan posisi duduk, penggunaan alat bantu, pembagian tugas menjadi beberapa tahap, atau tambahan waktu.
Praktik tersebut sejalan dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam yang sedang didorong Kemendikdasmen. Istilah Pembelajaran Mendalam dalam konteks ini merupakan pendekatan pendidikan, bukan teknologi kecerdasan buatan atau deep learning pada sistem komputer.
Pendekatan itu menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.