KebonCinta.com — Guru SMK Negeri 1 Rembang, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi pembelajaran kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) melalui pemanfaatan motif Batik Lasem sebagai bahan praktik.
Inovasi tersebut dikembangkan Anisa Rahmanti dengan nama TILAS atau TinyML-based Identification of Lasem Batik Motifs.
Melalui pendekatan ini, sebanyak 108 siswa dilibatkan dalam kegiatan pengembangan sistem yang dapat mengenali berbagai motif batik menggunakan teknologi AI.
Informasi inovasi pembelajaran tersebut dipublikasikan melalui situs resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 5 November 2026.
BATIK LASEM MENJADI SUMBER BELAJAR
Anisa menjelaskan bahwa gagasan pengembangan TILAS berawal dari keinginannya memperkenalkan cara kerja AI kepada siswa.
Menurutnya, peserta didik semakin terbiasa menggunakan teknologi kecerdasan artifisial dalam kegiatan sehari-hari.
Namun, kemampuan menggunakan aplikasi belum tentu disertai pemahaman mengenai bagaimana sistem AI dibuat.
Karena itu, Anisa mengembangkan pembelajaran yang mengajak siswa membangun model AI sederhana.
Ia memilih Batik Lasem sebagai objek penelitian karena mempunyai ragam motif yang dapat diamati dan dibedakan secara visual.
MENGENALKAN BUDAYA JAWA DAN TIONGHOA
Baca Juga: Kemendikdasmen Targetkan Layanan PAUD Jangkau 14 Ribu Desa yang Belum Punya TK hingga Akhir 2026
Batik Lasem merupakan salah satu warisan budaya khas pesisir utara Jawa yang memiliki unsur akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa.
Keanekaragaman motif tersebut memberikan kesempatan kepada siswa mengenal budaya daerah melalui kegiatan teknologi.
Beberapa motif yang digunakan sebagai objek pembelajaran antara lain Latohan, Burung Hong, Sekar Jagad, Gunung Ringgit, dan Watu Pecah.
Siswa diajak mempelajari perbedaan bentuk dan karakteristik visual motif sebagai bahan pengembangan model pengenalan gambar.
Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga mengenalkan kekayaan budaya setempat.
108 SISWA MENGIKUTI PENGEMBANGAN TILAS
Dalam penerapan inovasi tersebut, sebanyak 108 siswa terlibat dalam proses pembelajaran.
Mereka tidak hanya melihat contoh penggunaan aplikasi AI, tetapi mengikuti proses membangun sistem pengenalan motif.
Kegiatan dimulai dari memotret kain batik, mengelompokkan gambar, memberikan label data, melatih model, hingga menguji hasil prediksi.
Proses tersebut membantu siswa memahami bahwa kemampuan AI mengenali gambar bergantung pada data yang digunakan.
Kesalahan pengelompokan atau kualitas foto dapat memengaruhi hasil pengenalan motif.
TEKNOLOGI TINYML MENJADI DASAR INOVASI
Anisa menggunakan pendekatan TinyML untuk menjalankan model kecerdasan artifisial pada perangkat berukuran kecil.
TinyML merupakan pendekatan penerapan model pembelajaran mesin pada perangkat dengan sumber daya komputasi terbatas.
Dalam kegiatan TILAS, model dijalankan melalui ESP32-CAM, yaitu perangkat mikrokontroler yang dilengkapi kamera.
Perangkat tersebut digunakan untuk membantu sistem mengenali motif berdasarkan data yang telah dipelajari.
Pemanfaatan perangkat sederhana menunjukkan bahwa pembelajaran AI tidak selalu harus menggunakan komputer dengan spesifikasi sangat tinggi.
AKURASI PENGENALAN MOTIF SEKITAR 90 PERSEN
Berdasarkan publikasi Kemendikdasmen, sistem TILAS dilaporkan mampu mengenali motif Batik Lasem dengan tingkat ketepatan sekitar 90 persen.
Pengujian tersebut dilakukan dalam konteks inovasi pembelajaran yang dikembangkan Anisa bersama siswanya.
Sistem juga disebut dapat digunakan tanpa memerlukan koneksi internet saat menjalankan proses pengenalan motif.
Namun, angka 90 persen bukan jaminan bahwa sistem akan selalu memperoleh hasil yang sama ketika digunakan untuk seluruh jenis batik atau kondisi pencahayaan.
Akurasi model dapat dipengaruhi kualitas gambar, jenis motif, serta kesesuaian data yang digunakan dalam pelatihan.
SISWA BELAJAR DARI KESALAHAN
Salah satu pengalaman penting dalam pembelajaran TILAS adalah ketika siswa menemukan hasil prediksi yang kurang tepat.
Foto yang terlalu gelap dan kesalahan memberikan label dapat memengaruhi pengenalan motif.
Melalui persoalan tersebut, siswa belajar mengevaluasi data dan memperbaiki proses pengembangan model.
Pengalaman ini membantu peserta didik memahami bahwa teknologi tidak selalu menghasilkan jawaban yang benar.
Mereka juga dilatih berpikir kritis serta mencari penyebab ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
INOVASI MENGGABUNGKAN SAINS DAN BUDAYA
Anisa ingin menunjukkan bahwa pembelajaran teknologi dapat dikembangkan melalui kekayaan budaya yang dekat dengan kehidupan siswa.
Penggunaan Batik Lasem membantu peserta didik mempelajari AI sambil mengenal nilai budaya daerah.
Pendekatan tersebut dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dibandingkan pembelajaran yang hanya berfokus pada teori.
Siswa memperoleh kesempatan mempraktikkan pengetahuan sekaligus memahami persoalan nyata yang dihadapi dalam proses pengembangan teknologi.
BUKAN APLIKASI KOMERSIAL YANG SUDAH DILUNCURKAN NASIONAL
TILAS merupakan inovasi pembelajaran yang dikembangkan di SMKN 1 Rembang.
Publikasi Kemendikdasmen belum menyebut bahwa teknologi tersebut telah diproduksi secara massal atau menjadi aplikasi wajib yang harus digunakan seluruh sekolah.
Belum ada pula pengumuman mengenai penjualan perangkat TILAS secara nasional.
Karena itu, keberhasilannya perlu dipahami sebagai capaian inovasi pembelajaran dalam lingkungan sekolah yang dilaporkan.
GURU LAIN DAPAT MENGAMBIL INSPIRASI
Pengalaman Anisa memberikan contoh bagaimana kekayaan daerah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan pembelajaran teknologi.
Guru dapat mempertimbangkan penggunaan objek budaya maupun persoalan lokal yang sesuai dengan mata pelajaran.
Namun, setiap kegiatan harus memperhatikan keselamatan penggunaan perangkat, kemampuan siswa, serta tujuan pembelajaran.
Melalui pengalaman tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya mendorong siswa menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara kerjanya.
Informasi lengkap mengenai inovasi TILAS dapat diperiksa melalui situs resmi https://www.kemendikdasmen.go.id.
Pengembangan sistem pengenal motif Batik Lasem menjadi salah satu contoh kreativitas guru yang menggabungkan pendidikan vokasi, kecerdasan artifisial, dan pelestarian budaya daerah.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir