Pendidikan
Hilmi An Naufal

Guru SMK Telkom Purwokerto Ciptakan PORTENET STEM dari Bahan Bekas, 117 dari 118 Siswa Tuntas Belajar

Guru SMK Telkom Purwokerto Ciptakan PORTENET STEM dari Bahan Bekas, 117 dari 118 Siswa Tuntas Belajar

06 November 2026 | 10:54

KebonCinta.com — Seorang guru SMK Telkom Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengembangkan perangkat pembelajaran praktis berbasis teknologi jaringan yang membantu siswa memperoleh pengalaman belajar secara lebih merata.

Inovasi tersebut bernama PORTENET STEM atau Portable Network Teaching Kit, yang dikembangkan Agus Prianto untuk mendukung pembelajaran Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT).

Berdasarkan publikasi resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Kamis, 5 November 2026, alat ini telah digunakan dalam pembelajaran bagi 118 siswa.

Hasil implementasinya menunjukkan peningkatan capaian kompetensi serta tingkat ketuntasan belajar yang tinggi pada kelompok peserta yang dilaporkan.

BERAWAL DARI KETERBATASAN PRAKTIK SISWA

Baca Juga: Beasiswa Guru Madrasah Diniyah Jateng 2026 Dibuka hingga 22 November, Bantuan S1 Rp2,5 Juta dan S2 Rp3 Juta per Semester 

Agus Prianto mengembangkan PORTENET STEM setelah memperhatikan persoalan dalam pembelajaran praktik jaringan komputer.

Sebelumnya, pengalaman menggunakan perangkat praktik secara langsung lebih banyak diperoleh siswa yang mengikuti pembinaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS).

Sementara itu, jumlah siswa yang lebih besar, perpindahan ruang belajar, dan kebutuhan menyiapkan banyak peralatan menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Kondisi tersebut membuat pengalaman praktik belum dapat diberikan secara optimal kepada seluruh peserta didik.

Agus kemudian berusaha menghadirkan perangkat yang lebih ringkas, mudah dipindahkan, dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi pembelajaran.

MANFAATKAN BAHAN BEKAS YANG MASIH LAYAK

Salah satu keunikan PORTENET STEM adalah penggunaan material yang berasal dari kegiatan praktik dan perlombaan sebelumnya.

Bahan yang dimanfaatkan antara lain papan tripleks, kabel fiber optik, dan konektor yang masih dapat digunakan.

Komponen tersebut dirangkai menjadi media pembelajaran jaringan yang lebih praktis.

Dengan pendekatan tersebut, guru tidak harus mengandalkan pengadaan peralatan baru yang mahal untuk memulai pengembangan bahan ajar.

Namun, penggunaan material bekas tetap memerlukan pemeriksaan kondisi serta penerapan prosedur keselamatan kerja.

Alat yang digunakan harus layak untuk praktik dan sesuai kebutuhan pembelajaran.

INTEGRASIKAN PENDEKATAN STEM

PORTENET STEM tidak hanya dirancang sebagai alat peraga.

Agus melengkapi perangkat dengan modul dan lembar kerja peserta didik untuk mendukung kegiatan pembelajaran berbasis proyek.

Pendekatan STEM mengintegrasikan unsur sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.

Dalam praktik jaringan komputer, siswa dapat mempelajari konsep teknis melalui kegiatan pengamatan, pengukuran, analisis, serta pemecahan masalah.

Proses tersebut juga memberi kesempatan bagi peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok.

Siswa tidak hanya menerima penjelasan guru, tetapi terlibat langsung dalam menggunakan perangkat dan menguji hasil pekerjaan.

DITERAPKAN DALAM TIGA PERTEMUAN

Menurut laporan Kemendikdasmen, implementasi PORTENET STEM dilakukan dalam tiga pertemuan pada semester genap Tahun Ajaran 2025/2026.

Selama kegiatan tersebut, peserta didik terlibat dalam praktik jaringan komputer secara langsung.

Mereka belajar merakit sambungan kabel fiber optik, melakukan pengukuran, serta memecahkan persoalan ketika hasil pekerjaan belum sesuai harapan.

Pembelajaran ini juga menerapkan pendekatan bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan.

Pengalaman praktik diharapkan membantu siswa memahami hubungan antara teori yang dipelajari di kelas dengan pekerjaan teknis yang digunakan dalam dunia nyata.

KOMPETENSI SISWA MENINGKAT

Kemendikdasmen melaporkan peningkatan capaian kompetensi setelah penerapan perangkat pembelajaran tersebut.

Nilai atau capaian asesmen awal tercatat sebesar 46 persen, kemudian meningkat menjadi 87,98 setelah implementasi.

Selain itu, sebanyak 117 dari 118 siswa mencapai ketuntasan belajar.

Angka tersebut setara dengan tingkat ketuntasan sekitar 99,15 persen.

Data tersebut merupakan hasil pelaksanaan inovasi yang dilaporkan pihak terkait, bukan hasil pengukuran seluruh siswa SMK di Indonesia.

Karena itu, manfaat yang sama pada sekolah lain tetap memerlukan penerapan dan evaluasi sesuai kondisi masing-masing.

RESPONS SISWA DAN GURU

Hasil angket terhadap 80 siswa menunjukkan tingkat penerimaan serta kebermanfaatan sebesar 78,36 persen.

Sementara itu, tiga guru yang bertugas sebagai pengamat memberikan penilaian rata-rata 83,33 persen dengan kategori sangat baik.

Hasil tersebut menjadi salah satu indikator bahwa perangkat pembelajaran mendapat tanggapan positif dalam kelompok yang terlibat.

Namun, angka hasil angket dan penilaian observer perlu dibedakan dari capaian asesmen kompetensi siswa.

Ketiganya merupakan ukuran yang berbeda sehingga tidak dapat dijumlahkan atau dianggap sebagai nilai kelulusan yang sama.

PEMBELAJARAN PRAKTIK LEBIH MERATA

Agus Prianto menilai manfaat penting PORTENET STEM adalah terbukanya kesempatan praktik bagi seluruh peserta didik.

Siswa yang sebelumnya hanya mengamati demonstrasi dapat lebih aktif mengoperasikan perangkat dan menyelesaikan tugas.

Pendekatan tersebut mendukung pemerataan pengalaman belajar pada kelas yang memiliki jumlah siswa cukup besar.

Dalam pendidikan vokasi, pengalaman praktik berperan penting karena peserta didik perlu menghubungkan pengetahuan teori dengan kemampuan teknis.

Pengembangan alat sederhana yang mudah dipindahkan juga dapat membantu guru merancang pembelajaran yang lebih fleksibel.

INSPIRASI BAGI GURU SMK LAINNYA

Inovasi PORTENET STEM menjadi contoh bagaimana guru dapat mengembangkan media pembelajaran dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Meski demikian, publikasi Kemendikdasmen tidak menyatakan bahwa seluruh sekolah sudah menerima perangkat tersebut atau bahwa alat akan diproduksi massal.

Penggunaan di sekolah lain membutuhkan penyesuaian terhadap kurikulum, kondisi sarana, dan kebutuhan peserta didik.

Per 6 November 2026, data yang telah terverifikasi mencakup pelaksanaan inovasi pada 118 siswa, peningkatan capaian kompetensi, serta hasil evaluasi pembelajaran yang disampaikan Kemendikdasmen.

Melalui kreativitas seperti ini, guru diharapkan semakin mampu menghadirkan kegiatan belajar yang bermakna dan memberi kesempatan lebih luas kepada seluruh siswa untuk mengembangkan kemampuan praktis.

Tags:
PORTENET STEM SMK Telkom Purwokerto inovasi guru SMK pembelajaran jaringan komputer Agus Prianto guru SMK praktik fiber optik pendidikan vokasi 2026 media pembelajaran STEM.

Komentar Pengguna