KebonCinta.com - Bekerja selama bertahun-tahun tanpa jeda panjang bukan lagi satu-satunya gambaran perjalanan karier yang diinginkan generasi muda. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan persaingan dunia kerja, sebagian Gen Z justru mulai memikirkan cara untuk mengambil waktu istirahat sebelum memasuki masa pensiun.
Fenomena tersebut dikenal sebagai micro retirement, yaitu keputusan mengambil jeda karier sementara selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Waktu tersebut dapat digunakan untuk bepergian, mengembangkan kemampuan, mengejar minat pribadi, atau sekadar menikmati kehidupan di luar rutinitas pekerjaan.
Meski terdengar menyenangkan, keputusan meninggalkan pekerjaan untuk sementara tentu membutuhkan persiapan. Terlebih, seseorang tetap harus memenuhi kebutuhan hidup meskipun tidak memiliki pemasukan tetap.
Menariknya, tren ini berkembang ketika banyak anak muda juga menghadapi tekanan finansial. Laporan The Motley Fool yang dikutip dalam referensi menyebutkan sekitar 62 persen Gen Z mengalami kecemasan finansial setidaknya tiga hari dalam seminggu.
Lantas, bagaimana cara mempersiapkan micro-retirement tanpa membuat kondisi keuangan berantakan?
Langkah pertama adalah menyiapkan dana khusus yang memang diperuntukkan bagi masa jeda karier. Dana ini kerap disebut freedom fund, yakni tabungan yang digunakan untuk membiayai kebutuhan selama seseorang tidak bekerja.
Besaran tabungan perlu disesuaikan dengan durasi istirahat, biaya hidup, serta kondisi finansial masing-masing. Seseorang yang berencana mengambil jeda selama tiga bulan, misalnya, perlu memperhitungkan biaya makan, tempat tinggal, transportasi, tagihan rutin, dan kebutuhan lainnya.
Selain biaya selama jeda, penting pula menyiapkan dana darurat terpisah. Dengan begitu, tabungan untuk micro retirement tidak menghabiskan seluruh cadangan keuangan yang seharusnya digunakan ketika menghadapi situasi tidak terduga.
Keinginan mengambil jeda karier perlu diikuti perubahan kebiasaan dalam mengelola pengeluaran. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menerapkan gaya hidup lebih sederhana jauh sebelum waktu micro retirementt dimulai.
Mengurangi kebiasaan membeli barang yang tidak diperlukan, memasak sendiri, mengevaluasi biaya berlangganan, dan memilih tempat tinggal sesuai kemampuan dapat membantu memperbesar porsi tabungan.
Kuncinya bukan semata-mata hidup serba kekurangan, melainkan menentukan pengeluaran yang benar-benar memberikan manfaat. Dengan pengelolaan keuangan yang lebih terarah, target mengumpulkan dana untuk jeda karier bisa menjadi lebih realistis.
Micro-retirement tidak selalu berarti seseorang harus sepenuhnya kehilangan pemasukan. Sebagian pekerja dapat mempertimbangkan pekerjaan lepas atau freelance yang memberikan fleksibilitas lebih besar.
Pekerjaan berbasis proyek, konsultasi, maupun layanan digital bisa menjadi alternatif selama sesuai dengan keterampilan dan pengalaman yang dimiliki.
Namun, pekerjaan sampingan tetap membutuhkan komitmen waktu dan tenaga. Jika tujuan utama mengambil jeda adalah memulihkan diri dari kelelahan, seseorang perlu menetapkan batas agar aktivitas tersebut tidak berubah menjadi sumber tekanan baru.
Bagi sebagian orang, mengambil jeda tidak harus selalu dilakukan dengan mengundurkan diri dari pekerjaan. Pilihan lain yang dapat dipertimbangkan adalah mencari pekerjaan jarak jauh atau remote work yang menawarkan fleksibilitas lokasi.
Model kerja ini memungkinkan seseorang menjalankan tanggung jawab profesional dari tempat berbeda, selama perusahaan memberikan kebijakan yang mendukung.
Meski demikian, bekerja secara remote tidak otomatis sama dengan micro-retirement. Perbedaan utamanya terletak pada keberadaan tanggung jawab pekerjaan. Karena itu, pilihan ini lebih tepat bagi mereka yang ingin memperoleh fleksibilitas tanpa sepenuhnya meninggalkan penghasilan rutin.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir