Berita
Hilmi An Naufal

Gempa M7,7 NTT Berdampak pada 1.378 Sekolah, 502 Dilaporkan Rusak Berat

Gempa M7,7 NTT Berdampak pada 1.378 Sekolah, 502 Dilaporkan Rusak Berat

21 Agustus 2026 | 08:20

Keboncinta.com – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, memberikan dampak besar terhadap sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak bencana tersebut.

Dari jumlah itu, 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Dampak bencana mencakup 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.

Data tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat dalam konferensi pers pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Perlu dicatat, angka 1.378 menunjukkan jumlah satuan pendidikan yang terdampak dengan tingkat gangguan berbeda-beda. Angka itu tidak berarti seluruh sekolah mengalami kerusakan berat.

Ribuan Ruang Kelas Mengalami Kerusakan

Kemendikdasmen mencatat sebanyak 8.664 ruang kelas telah masuk dalam pendataan. Dari jumlah tersebut, 5.521 ruang kelas atau sekitar 63,7 persen dilaporkan mengalami kerusakan.

Sebanyak 2.229 ruang kelas di antaranya berada dalam kategori rusak berat atau rusak total.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada ruang kelas. Sejumlah laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, dan rumah dinas guru juga terdampak.

Kondisi bangunan yang rusak membuat sebagian besar sekolah belum dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara normal. Risiko gempa susulan juga menjadi pertimbangan utama untuk tidak menggunakan gedung yang mengalami keretakan atau kerusakan struktur.

Pembelajaran Lebih dari 116 Ribu Murid Terganggu

Selain menyebabkan kerusakan fasilitas pendidikan, gempa mengganggu proses pembelajaran sekitar 116.328 murid.

Pemerintah Provinsi NTT mengarahkan pelaksanaan pembelajaran dari rumah dan tempat pengungsian untuk menghindari bangunan yang berpotensi roboh akibat gempa susulan.

Berdasarkan laporan sementara, sebanyak 923 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran dari rumah. Sebanyak 171 satuan pendidikan menggunakan pola pembelajaran lainnya, sedangkan 35 sekolah telah memanfaatkan kelas darurat.

Sementara itu, sebanyak 30 sekolah masih dapat menyelenggarakan kegiatan belajar secara tatap muka.

Pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan kondisi keamanan setiap wilayah. Sekolah tidak diwajibkan mengejar seluruh materi kurikulum ketika keselamatan murid dan guru belum dapat dipastikan.

Pemerintah Siapkan 100 Tenda Kelas Darurat

Untuk membantu pemulihan kegiatan belajar, Kemendikdasmen menyiapkan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas darurat.

Tenda tersebut diprioritaskan untuk sekolah yang bangunannya mengalami kerusakan berat atau belum aman digunakan. Pemerintah juga memperkuat pos pendidikan di setiap kabupaten terdampak untuk memetakan kebutuhan sekolah secara berkala.

Selain tenda, bantuan yang disiapkan meliputi 5.000 paket perlengkapan sekolah atau school kit, 1.500 family kit, 3.196 papan tulis, serta 123.522 buku.

Bantuan tersebut diharapkan membuat proses belajar dapat kembali berjalan secara bertahap, terutama bagi murid yang berada di lokasi pengungsian.

Pendataan dampak dan kebutuhan pendidikan masih terus dilakukan melalui sistem pemantauan Kemendikdasmen. Karena proses verifikasi belum selesai, jumlah sekolah, ruang kelas, murid, dan tenaga pendidik terdampak masih dapat berubah.

Materi Belajar Disederhanakan

Kemendikdasmen juga telah menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat. Panduan tersebut memberikan fleksibilitas kepada sekolah dalam memilih metode dan materi pembelajaran.

Pada masa tanggap darurat, pembelajaran diarahkan pada materi esensial dengan penguatan kemampuan literasi dan numerasi dasar.

Sekolah juga diminta memberikan dukungan psikososial kepada murid, guru, dan tenaga kependidikan yang mengalami ketakutan atau trauma akibat gempa dan gempa susulan.

Dukungan psikososial menjadi penting karena proses pemulihan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali gedung sekolah. Kondisi mental warga sekolah juga perlu mendapatkan perhatian agar mereka dapat kembali mengikuti kegiatan belajar secara aman.

Gempa Utama Terjadi pada 15 Agustus

Berdasarkan pemutakhiran BMKG, gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WIB.

Gempa memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Gempa dangkal tersebut berasal dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik. Guncangan juga memicu tsunami yang terdeteksi di sejumlah wilayah pesisir.

BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada hari yang sama setelah tidak lagi ditemukan kenaikan muka air laut yang membahayakan. Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena rangkaian gempa susulan masih berlangsung.

BMKG secara khusus mengimbau warga menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.

Warga Sekolah Menjadi Korban

Bencana tersebut juga menimbulkan korban dari kalangan warga sekolah. Kemendikdasmen melaporkan terdapat tiga murid dan satu guru yang meninggal dunia.

Pemerintah telah menyalurkan santunan dan bantuan kepada sejumlah murid, guru, serta keluarga warga sekolah yang terdampak.

Pemulihan pendidikan di NTT membutuhkan kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, relawan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

Dalam jangka pendek, pemerintah harus memastikan tersedianya tempat belajar yang aman, perlengkapan sekolah, serta pendampingan psikososial. Sementara dalam jangka panjang, pembangunan kembali sekolah perlu memperhatikan standar bangunan tahan gempa agar risiko serupa dapat dikurangi.

Keselamatan murid dan guru tetap menjadi prioritas sebelum pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan secara penuh.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna