Bisuk Abraham Sisungkunon juga disebut memperkirakan bahwa penggunaan galon guna ulang dapat menghindari produksi sekitar 4.152 ton plastik baru atau virgin plastic.
Namun, dampak lingkungan tidak hanya ditentukan oleh proses produksi. Pengangkutan galon, penggunaan air dan energi untuk pencucian, jarak distribusi, serta pengelolaan galon yang sudah tidak layak juga perlu diperhitungkan.
Karena itu, manfaat terhadap jejak karbon perlu dilihat berdasarkan keseluruhan siklus hidup produk, bukan hanya berdasarkan jenis kemasannya.
Jika sistem penggunaan ulang dikelola secara efisien, galon yang tahan lama berpotensi membantu mengurangi kebutuhan produksi kemasan baru dan penggunaan sumber daya.
Penggunaan kemasan guna ulang juga berkaitan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam mengendalikan sampah plastik.
Melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, pemerintah menetapkan arah pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 persen hingga 2029.
Kebijakan tersebut mendorong produsen untuk mengambil peran lebih besar dalam mengurangi sampah yang dihasilkan dari produk dan kemasannya. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah memperkuat sistem penggunaan kembali dan mengurangi ketergantungan pada kemasan sekali pakai.
Pakar teknologi lingkungan ITB, Prof. Enri Damanhuri, juga menekankan pentingnya upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai untuk membantu mengatasi persoalan sampah.
Dalam konteks tersebut, galon guna ulang dapat menjadi salah satu pilihan yang mendukung pengurangan sampah, selama sistem penggunaannya memenuhi aspek keamanan, kebersihan, dan efisiensi lingkungan.
Baca Juga: Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Simpati dan Empati serta Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Keunggulan galon polikarbonat perlu dilihat secara menyeluruh. Ketahanan dan kemampuan digunakan kembali merupakan nilai tambah, tetapi konsumen tetap perlu memperhatikan keamanan produk, kebersihan wadah, serta petunjuk pemakaian dari produsen.
Polikarbonat juga merupakan jenis plastik yang dalam pembuatannya dapat melibatkan bisfenol A (BPA). Karena itu, keamanan tidak sebaiknya disimpulkan hanya berdasarkan ketahanan fisik atau kemampuan material menahan panas. Kepatuhan terhadap standar yang berlaku, kualitas produk, dan cara penggunaan menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Di sisi lain, dampak lingkungan suatu kemasan bergantung pada seberapa sering kemasan tersebut digunakan kembali, proses pencucian, transportasi, dan pengelolaan pada akhir masa pakainya.
Konsumen dapat berkontribusi dengan memilih produk dari produsen tepercaya, memeriksa kondisi galon sebelum digunakan, dan mengikuti petunjuk penyimpanan serta penanganan yang benar.
Pada akhirnya, galon polikarbonat menawarkan sejumlah keunggulan, terutama dari sisi ketahanan dan potensi penggunaan berulang. Jika dikelola dengan baik, sistem ini juga dapat membantu mengurangi sampah kemasan dan kebutuhan bahan baku plastik baru.
Pemilihan kemasan yang tepat perlu mempertimbangkan keamanan air minum sekaligus dampaknya terhadap lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir