1. Kegiatan pendahuluan
Guru membuka pelajaran dengan salam dan doa, memeriksa kesiapan siswa, serta mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari. Misalnya, guru mengajak siswa membahas pentingnya berkata jujur, menghormati guru, dan menjaga hubungan baik dengan teman.
Setelah itu, guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan manfaat materi yang akan dipelajari.
2. Kegiatan inti
Guru memberikan pengantar mengenai akhlak terpuji beserta contoh penerapannya. Selanjutnya, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas situasi sederhana, seperti menghadapi teman yang sedang kesulitan, mengakui kesalahan, atau menyikapi perbedaan pendapat.
Setiap kelompok diminta menyampaikan hasil diskusinya dan menjelaskan alasan di balik pilihan sikap yang mereka anggap tepat. Guru memberikan tanggapan, meluruskan pemahaman yang kurang sesuai, dan menegaskan hubungan antara materi dengan perilaku sehari-hari.
3. Kegiatan penutup
Guru bersama siswa merangkum materi yang telah dipelajari. Sebagai refleksi, siswa dapat diminta menyebutkan satu perilaku terpuji yang akan mereka biasakan setelah pembelajaran.
Guru kemudian memberikan tugas atau arahan tindak lanjut sesuai kebutuhan, lalu menutup pelajaran dengan doa.
Penilaian dapat dilakukan melalui pertanyaan lisan, tugas tertulis, hasil diskusi, dan refleksi siswa. Guru dapat menilai pemahaman konsep, kemampuan memberikan contoh, serta partisipasi selama kegiatan pembelajaran.
Penilaian sikap perlu dilakukan secara proporsional melalui pengamatan terhadap perilaku yang relevan selama kegiatan belajar, bukan hanya berdasarkan jawaban tertulis. Hasil asesmen dapat digunakan untuk menentukan apakah siswa membutuhkan penjelasan tambahan, latihan, atau kegiatan pengayaan.
Baca Juga: Cara Menyusun RPP Seni Budaya Kelas 8 Kurikulum Merdeka Lengkap dengan Langkah Pembelajaran
Guru sebaiknya memastikan bahwa tujuan pembelajaran, materi, kegiatan, dan penilaian saling berkaitan. Apabila tujuan pembelajaran menekankan kemampuan menerapkan akhlak terpuji, kegiatan belajar perlu memberi ruang bagi siswa untuk menganalisis situasi dan mempraktikkan perilaku yang sesuai.
Pembelajaran juga akan terasa lebih dekat dengan kehidupan siswa jika disertai contoh nyata. Guru dapat mengangkat situasi yang sering dijumpai di sekolah, seperti kejujuran saat mengerjakan tugas, kesantunan ketika berbicara, tanggung jawab terhadap pekerjaan kelompok, dan sikap menghormati perbedaan.
Selain itu, guru perlu memeriksa kembali format perangkat ajar berdasarkan kebijakan yang berlaku di madrasah. Contoh di atas merupakan referensi awal, bukan dokumen resmi yang otomatis sesuai untuk semua satuan pendidikan.
Pada akhirnya, perencanaan pembelajaran Akidah Akhlak bukan hanya berkaitan dengan kelengkapan administrasi guru. Perencanaan yang tepat dapat membantu menghadirkan kegiatan belajar yang bermakna, memperkuat pemahaman keagamaan, dan mendorong siswa membiasakan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir