keboncinta.com- Kegiatan kokurikuler bertema lingkungan dapat menjadi cara bagi siswa sekolah dasar untuk belajar menjaga kebersihan melalui pengalaman langsung. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan tentang sampah, tetapi mengamati kondisi sekolah, memilah benda, mencatat temuan, dan menyampaikan usulan perubahan sederhana.
Guru dapat menggunakan contoh kegiatan berjudul “Sekolahku Bersih, Tanggung Jawab Kita Bersama” untuk siswa kelas IV atau V. Rancangan berikut bersifat contoh yang dapat disesuaikan, bukan format baku atau kegiatan yang wajib dilakukan semua sekolah.
Dalam Panduan Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan edisi revisi 2025 dari Kemendikdasmen, kokurikuler diposisikan untuk menguatkan, memperdalam, atau memperkaya pembelajaran intrakurikuler serta mengembangkan kompetensi dan karakter murid. Perencanaan dimulai dengan analisis kebutuhan dan sumber daya sekolah, bukan sekadar memilih aktivitas yang sedang populer.
Sebelum kegiatan, guru bersama tim sekolah memastikan kesesuaian dengan kurikulum satuan pendidikan, kondisi usia anak, keselamatan, serta alokasi waktu. Tema lingkungan bisa dipilih ketika persoalan sampah, penggunaan plastik, atau perawatan tanaman dekat dengan kehidupan murid.
Baca Juga: Panduan Lengkap Menyusun Program Kokurikuler Sekolah agar Lebih Terarah dan Bermakna
Sesudah mengikuti kegiatan, murid diharapkan mampu mengidentifikasi dua persoalan kebersihan di lingkungan sekolah, membedakan sampah organik dan anorganik yang aman diamati, menjelaskan alasan memilah sampah, serta bekerja sama menjalankan satu aksi perbaikan.
Hasil kegiatan dapat berupa catatan pengamatan, poster ajakan menjaga kebersihan, laporan kelompok satu halaman, atau presentasi singkat. Sekolah tidak harus mengadakan acara besar; yang dinilai ialah proses belajar dan perubahan perilaku yang dapat diamati.
Tahap 1: Mengamati masalah. Guru mengajak murid berjalan di halaman dan koridor sekolah bersama pendamping. Setiap kelompok mencatat tempat sampah, jenis sampah yang tampak, serta area yang sudah bersih. Hindari meminta anak memungut pecahan kaca, benda tajam, atau sampah berbahaya.
Tahap 2: Menyusun pertanyaan. Murid mendiskusikan temuan dengan pertanyaan sederhana: Sampah apa yang sering terlihat? Mengapa menumpuk di tempat tertentu? Apa yang bisa dilakukan warga kelas agar keadaan membaik?
Tahap 3: Mencoba memilah. Gunakan bahan contoh yang bersih, seperti kertas bekas, daun kering, dan botol plastik kosong. Guru menjelaskan pengelompokan dasar serta mengingatkan bahwa tata kelola sampah sekolah mengikuti fasilitas dan aturan setempat.
Tahap 4: Merancang aksi kelompok. Setiap kelompok memilih satu kegiatan realistis, misalnya memasang petunjuk pemilahan, membuat poster hemat plastik, atau menyusun jadwal merawat tanaman. Guru membantu memperkirakan alat, penanggung jawab, dan batas waktu.
Tahap 5: Melaksanakan dan mendokumentasikan. Murid bekerja sesuai pembagian peran. Dokumentasi cukup berupa catatan, gambar, atau foto kegiatan dengan tetap memperhatikan izin dan privasi anak.
Tahap 6: Merefleksikan hasil. Kelompok membandingkan kondisi sebelum dan setelah kegiatan. Murid menjelaskan satu hal yang berhasil dan satu kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Sebagai gambaran, sekolah dapat membagi kegiatan menjadi empat pertemuan masing-masing 70 menit. Pertemuan pertama diisi observasi dan diskusi masalah; kedua, pemilahan sampah dan perencanaan aksi; ketiga, pelaksanaan aksi; keempat, presentasi hasil serta refleksi.
Contoh durasi tersebut bukan ketentuan jumlah jam pelajaran resmi. Sekolah perlu menyesuaikan rancangan dengan alokasi kokurikuler yang berlaku dan kalender pembelajaran masing-masing.
Baca Juga: Perangkat Kokurikuler 2026/2027 Resmi Tersedia, Guru Bisa Siapkan Administrasi Lebih Cepat
Guru tidak perlu menggunakan tabel rumit. Catatan observasi dapat memuat nama murid, tanggal, aspek yang diamati, bukti perilaku, dan tindak lanjut. Pilih tiga aspek yang sesuai tujuan: kemampuan mengenali masalah lingkungan, kerja sama, dan tanggung jawab menjalankan tugas.
Contohnya, saat kerja kelompok, guru menulis: “Nadia dapat menyebut dua contoh sampah dan menjelaskan alasan pemilahannya; perlu kesempatan lebih banyak menyampaikan hasil di depan kelas.” Kalimat berbasis bukti seperti ini lebih berguna daripada label umum “anak kurang aktif”.
Murid juga dapat mengisi refleksi dengan tiga pertanyaan: Apa masalah lingkungan yang saya temukan? Tindakan apa yang telah saya lakukan? Kebiasaan apa yang akan saya lanjutkan?
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir