Keboncinta.com-- Kemampuan memahami angka dan berhitung merupakan salah satu keterampilan dasar yang dapat mulai dibangun sejak anak masih berusia dini. Namun, proses mengenalkan matematika kepada anak tidak harus selalu berlangsung seperti kegiatan belajar formal di sekolah.
Pada usia 5-6 tahun, orangtua dapat mengenalkan konsep numerasi melalui permainan, aktivitas keluarga, maupun berbagai kegiatan sederhana yang dilakukan setiap hari. Cara seperti ini membuat anak lebih mudah memahami angka karena mereka berhadapan langsung dengan situasi yang dekat dengan kehidupannya.
Numerasi pada usia dini bukan sekadar kemampuan menyebutkan angka atau melakukan penjumlahan sederhana. Pengalaman tersebut juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir logis, mengenali pola, membandingkan sesuatu, hingga mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, orangtua tidak perlu menunggu anak masuk sekolah untuk mulai memperkenalkan konsep bilangan. Berbagai kegiatan sederhana di rumah pun dapat menjadi kesempatan belajar yang menyenangkan.
Baca Juga: Berikut Daftar Lengkap Libur Nasional 2027 dan Cuti Bersama, Total Ada 26 Hari
Anak usia 5-6 tahun dapat diperkenalkan pada berbagai konsep matematika dasar secara perlahan. Misalnya mengenali simbol angka, menghitung benda, memahami jumlah, mengurutkan sesuatu berdasarkan ukuran, serta membedakan mana yang lebih banyak atau lebih sedikit.
Proses tersebut akan menjadi bekal ketika anak memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Namun, kegiatan belajar numerasi tidak harus selalu menggunakan buku latihan atau lembar kerja.
Permainan justru dapat menjadi salah satu cara yang lebih menarik. Anak dapat belajar tanpa merasa sedang menjalani pelajaran matematika karena konsep angka diperkenalkan melalui kegiatan yang mereka sukai.
Mainan di rumah dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperkenalkan konsep matematika. Orangtua bisa meminta anak mengumpulkan beberapa benda seperti mobil-mobilan, balok, boneka, atau mainan lainnya.
Setelah terkumpul, anak dapat diajak menyusun benda tersebut berdasarkan ukuran. Misalnya, mulai dari benda yang paling besar kemudian dilanjutkan hingga yang paling kecil.
Kegiatan tersebut mengajarkan anak tentang urutan dan perbandingan secara konkret. Anak juga belajar mengamati karakteristik benda sebelum menentukan posisi masing-masing.
Belajar mengenali bentuk angka juga bisa dilakukan melalui aktivitas menulis yang sederhana.
Orangtua dapat membuat sepuluh kotak pada selembar kertas. Kemudian, anak diminta mengisi setiap kotak dengan angka secara berurutan, mulai dari 1 sampai 10.
Selain membantu anak mengingat bentuk lambang bilangan, kegiatan tersebut juga dapat melatih koordinasi antara mata dan tangan. Agar lebih bermakna, orangtua bisa menghubungkan setiap angka dengan jumlah benda yang sesuai.
Misalnya, setelah menulis angka 3, anak diminta mengambil tiga buah balok. Dengan cara tersebut, anak tidak hanya mengenali simbol angka, tetapi juga memahami makna jumlah di balik simbol tersebut.
Baca Juga: Jadwal PPG Daljab PAI 2026 Resmi Disiapkan, Guru Cek 5 Ketentuan Ini
Belajar numerasi tidak selalu membutuhkan alat khusus. Orang-orang yang berada di sekitar anak juga dapat menjadi bagian dari permainan matematika.
Orangtua bisa mengajak anak menghitung jumlah anggota keluarga di rumah. Setelah itu, permainan dapat dilanjutkan dengan mengurutkan anggota keluarga berdasarkan usia, dari yang paling muda sampai yang paling tua.
Dari kegiatan tersebut, anak dapat dikenalkan dengan berbagai konsep perbandingan seperti lebih tua, lebih muda, lebih banyak, lebih sedikit, atau sama.
Karena menggunakan situasi yang benar-benar mereka kenal, anak biasanya lebih mudah memahami konsep tersebut secara konkret.
Lagu anak yang berisi hitungan atau urutan angka dapat digunakan untuk memperkenalkan numerasi dengan cara yang menyenangkan.
Orangtua dapat mengajak anak bernyanyi bersama sambil mengikuti angka yang disebutkan dalam lagu.