Pendidikan
M. Panji Maulana

Cara Membuat Pemetaan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran 2026: Format, Asesmen, dan Tindak Lanjut

Cara Membuat Pemetaan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran 2026: Format, Asesmen, dan Tindak Lanjut

31 Oktober 2026 | 06:31

KebonCinta.com – Ketercapaian tujuan pembelajaran merupakan salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan guru ketika mengevaluasi proses belajar. Melalui pemetaan yang teratur, guru dapat mengetahui kompetensi yang telah dikuasai murid, bagian yang masih membutuhkan pendampingan, serta langkah pembelajaran yang perlu diperbaiki.

Dalam praktiknya, penilaian sering kali hanya berakhir pada pemberian angka. Guru memeriksa hasil ulangan, menghitung nilai, kemudian memasukkannya ke dalam daftar penilaian.

Padahal, angka saja belum selalu memberikan gambaran yang cukup mengenai kemampuan peserta didik.

Sebagai contoh, dua murid memperoleh nilai 75 pada asesmen Bahasa Indonesia. Murid pertama mampu menemukan informasi dan menyimpulkan isi bacaan, tetapi masih kesulitan memberikan alasan. Murid kedua justru mampu memberikan tanggapan, tetapi belum tepat mengidentifikasi gagasan utama.

Meskipun memperoleh nilai yang sama, keduanya membutuhkan tindak lanjut pembelajaran yang berbeda.

Karena itu, guru perlu melakukan pemetaan ketercapaian Tujuan Pembelajaran (TP) berdasarkan bukti asesmen, bukan hanya mengandalkan nilai keseluruhan.

Pada tahun ajaran 2026/2027, perencanaan dan evaluasi pembelajaran perlu memperhatikan kurikulum yang berlaku serta Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Panduan tersebut menekankan bahwa pembelajaran dan asesmen merupakan satu siklus. Informasi hasil asesmen digunakan untuk memperbaiki pembelajaran serta membantu murid mencapai kompetensi yang diharapkan.

Apa Itu Pemetaan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran?

Pemetaan ketercapaian tujuan pembelajaran merupakan proses mengidentifikasi tingkat penguasaan murid terhadap tujuan pembelajaran berdasarkan bukti yang diperoleh dari kegiatan asesmen.

Pemetaan membantu guru memahami bukan hanya apakah murid telah menunjukkan kemampuan tertentu, tetapi juga bagian mana yang masih memerlukan penguatan.

Sebagai contoh, guru menetapkan tujuan agar murid mampu menemukan gagasan utama dan menjelaskan informasi pendukung dari suatu teks.

Setelah kegiatan pembelajaran, guru memberikan tugas membaca dan meminta murid menjelaskan hasil pemahamannya.

Dari pekerjaan tersebut, guru dapat mengidentifikasi murid yang sudah mampu menemukan gagasan utama dengan tepat, murid yang masih memerlukan petunjuk, dan murid yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.

Hasil pemeriksaan kemudian dicatat dalam format pemetaan sederhana.

Pemetaan ini merupakan alat bantu analisis pembelajaran. Sekolah dapat mengembangkan format yang sesuai dengan kebutuhan, tanpa harus menggunakan satu tabel nasional yang seragam.

Perbedaan CP, TP, ATP, dan Ketercapaian Pembelajaran

Sebelum menyusun pemetaan, guru perlu memahami hubungan antara beberapa komponen perencanaan.

Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi yang ditargetkan untuk dicapai murid pada akhir fase.

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan tujuan yang lebih operasional dan konkret, mencakup kompetensi serta lingkup materi.

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) merupakan urutan tujuan pembelajaran yang disusun secara logis untuk membantu murid mencapai CP.

Pemetaan ketercapaian TP merupakan kegiatan menganalisis bukti perkembangan belajar terhadap tujuan yang direncanakan.

Dengan demikian, CP, TP, dan ATP digunakan dalam perencanaan, sedangkan pemetaan ketercapaian membantu guru mengevaluasi hasil pelaksanaannya.

Pemetaan juga memberikan informasi untuk menyesuaikan kegiatan berikutnya.

Dasar Resmi Pemetaan Ketercapaian Pembelajaran Tahun 2026

Perencanaan dan asesmen pembelajaran perlu mengacu pada beberapa sumber resmi.

1. Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 sebagaimana diubah dengan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025

Peraturan tersebut menjadi bagian dari dasar pengaturan kurikulum pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Guru perlu menggunakan struktur kurikulum serta CP yang berlaku untuk mata pelajaran dan fase masing-masing.

2. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi 2025

Panduan dari Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan menjelaskan hubungan antara perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil asesmen, pelaporan, dan refleksi pembelajaran.

Panduan juga memberikan kebebasan kepada pendidik untuk mengembangkan mekanisme serta contoh format berdasarkan konteks satuan pendidikan tanpa mengurangi standar regulasi.

3. Ketentuan Standar Proses dan Standar Penilaian yang Berlaku

Guru perlu memperhatikan standar pemerintah mengenai perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, asesmen, serta penggunaan informasi hasil penilaian.

Penting dipahami bahwa format pemetaan yang disajikan dalam artikel ini merupakan contoh praktis, bukan formulir wajib nasional.

Mengenal Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran atau KKTP membantu guru mengenali bukti yang menunjukkan bahwa suatu tujuan pembelajaran telah dicapai.

Kriteria sebaiknya dirumuskan berdasarkan kompetensi yang diharapkan, bukan ditentukan hanya melalui angka.

Sebagai contoh, tujuan pembelajaran menyatakan bahwa murid mampu menyampaikan pendapat berdasarkan informasi dalam teks.

Guru kemudian dapat menentukan kriteria berupa:

  1. Pendapat sesuai dengan isi teks.
  2. Pendapat disertai alasan yang relevan.
  3. Informasi pendukung digunakan secara tepat.
  4. Penyampaian gagasan dapat dipahami.

Kriteria tersebut membantu guru memberikan umpan balik yang lebih jelas.

Murid tidak hanya diberi informasi bahwa jawabannya salah atau nilainya rendah, tetapi dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

KKTP tidak seharusnya diperlakukan sekadar sebagai pengganti Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam bentuk satu angka yang sama untuk semua tujuan.

Guru dapat menggunakan deskripsi kriteria, rubrik, atau bentuk penilaian lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi.

Langkah 1: Tentukan Tujuan Pembelajaran yang Akan Dipetakan

Pemetaan dimulai dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan berdasarkan CP dan ATP.

Guru perlu memastikan tujuan tersebut cukup jelas untuk diamati melalui kegiatan belajar.

Sebagai contoh, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII, guru menggunakan tujuan pembelajaran berikut:

TP-01: Murid mampu mengidentifikasi informasi utama dalam teks yang dibaca.

TP-02: Murid mampu menjelaskan hubungan informasi utama dan informasi pendukung.

TP-03: Murid mampu menyusun tanggapan terhadap isi teks menggunakan alasan yang relevan.

Ketiga tujuan tersebut merupakan simulasi pengembangan tujuan pembelajaran, bukan kutipan CP atau ATP resmi.

Tujuan yang digunakan sekolah harus disesuaikan dengan dokumen kurikulum dan kemampuan peserta didik.

Baca Juga: Cara Menyusun Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran dengan Benar

Langkah 2: Susun Indikator dan Bukti Ketercapaian

Setelah menentukan tujuan, guru perlu menjelaskan kemampuan yang akan diamati.

Misalnya, untuk TP-01 tentang mengidentifikasi informasi utama, guru dapat menggunakan indikator:

  • Murid dapat menemukan gagasan utama teks.
  • Murid dapat membedakan informasi utama dan rincian pendukung.
  • Murid dapat menjelaskan hasil identifikasinya menggunakan kalimat sendiri.

Bukti ketercapaian dapat diperoleh dari tugas membaca, jawaban tertulis, diskusi, maupun kegiatan presentasi.

Bukti yang dipilih sebaiknya benar-benar dapat menunjukkan kompetensi yang dinilai.

Jika tujuan pembelajaran berkaitan dengan keterampilan berbicara, asesmen tidak cukup hanya menggunakan soal pilihan ganda mengenai teori berbicara.

Sebaliknya, guru perlu mengamati kemampuan murid dalam kegiatan komunikasi yang relevan.

Langkah 3: Tentukan Teknik Asesmen

Asesmen digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kebutuhan serta perkembangan belajar murid.

Dalam praktiknya, guru dapat menggunakan asesmen awal, formatif, dan sumatif sesuai tujuan serta fungsi masing-masing.

Asesmen awal membantu mengetahui kesiapan dan pengetahuan yang telah dimiliki murid.

Asesmen formatif digunakan untuk memantau perkembangan serta memberikan umpan balik selama proses pembelajaran.

Asesmen sumatif digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar pada akhir lingkup materi atau periode tertentu sesuai ketentuan.

Teknik asesmen dapat berupa pertanyaan lisan, tugas tertulis, praktik, proyek, presentasi, pengamatan, atau bentuk lain yang sesuai.

Guru tidak harus menggunakan seluruh teknik tersebut dalam satu pembelajaran.

Pemilihan teknik perlu mempertimbangkan tujuan, karakteristik materi, serta kebutuhan murid.

Langkah 4: Buat Format Pemetaan Ketercapaian TP

Sekolah dapat menggunakan format sederhana yang menghubungkan tujuan pembelajaran, bukti asesmen, hasil pemeriksaan, dan tindak lanjut.

Berikut contoh tanpa tabel agar mudah disalin ke CMS.

FORMAT PEMETAAN KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah: SMP Harapan Bangsa (simulasi)

Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia

Kelas/Fase: VII / D

Semester: Ganjil

Tahun Ajaran: 2026/2027

Guru: ....................................

Data Pemetaan Murid 001

Nama: Murid Contoh A

Kode TP: TP-01

Tujuan: Mengidentifikasi informasi utama teks.

Bukti Asesmen: Tugas membaca dan penjelasan tertulis.

Kriteria yang Diamati: Ketepatan menentukan gagasan utama dan membedakan informasi pendukung.

Hasil: Kriteria telah ditunjukkan secara konsisten.

Kategori Internal: Tercapai

Tindak Lanjut: Penguatan melalui teks dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.

Data Pemetaan Murid 002

Nama: Murid Contoh B

Kode TP: TP-01

Bukti Asesmen: Tugas membaca dan diskusi.

Hasil: Murid mampu menemukan informasi tertentu, tetapi masih kesulitan menentukan gagasan utama.

Kategori Internal: Perlu Penguatan

Tindak Lanjut: Latihan identifikasi gagasan utama dengan panduan bertahap.

Data Pemetaan Murid 003

Nama: Murid Contoh C

Kode TP: TP-01

Bukti Asesmen: Pengamatan dan tugas membaca.

Hasil: Murid masih memerlukan bantuan untuk memahami isi teks.

Kategori Internal: Perlu Pendampingan Intensif

Tindak Lanjut: Pembelajaran kelompok kecil dan penggunaan teks sesuai kesiapan membaca.

Nama, kategori, serta hasil di atas merupakan simulasi.

Kategori internal tersebut bukan label permanen terhadap kemampuan murid. Hasil pemetaan harus diperbarui berdasarkan bukti pembelajaran berikutnya.

Langkah 5: Analisis Hasil Asesmen Per Tujuan Pembelajaran

Kesalahan yang perlu dihindari adalah hanya menghitung nilai rata-rata seluruh soal tanpa memeriksa kompetensi yang sebenarnya diukur.

Sebagai contoh, guru memberikan asesmen yang mencakup tiga tujuan pembelajaran.

Hasil seorang murid adalah:

TP-01 – Mengidentifikasi Informasi

Hasil: Telah menunjukkan kriteria.

TP-02 – Menjelaskan Hubungan Informasi

Hasil: Sebagian kriteria telah ditunjukkan.

TP-03 – Menyusun Tanggapan

Hasil: Masih membutuhkan pendampingan dalam menyampaikan alasan.

Berdasarkan informasi tersebut, guru dapat menentukan bahwa murid membutuhkan penguatan terutama pada penyusunan tanggapan.

Pendekatan ini lebih informatif daripada sekadar mencatat nilai akhir, misalnya 78, tanpa penjelasan kemampuan yang telah dikuasai.

Jika guru menggunakan skor numerik, skor tersebut perlu dihitung berdasarkan instrumen dan rubrik yang telah ditetapkan.

Jangan membuat persentase ketercapaian hanya dengan menjumlahkan kategori deskriptif tanpa aturan pengolahan yang jelas.

Langkah 6: Membuat Rekapitulasi Ketercapaian Kelas

Setelah menganalisis hasil setiap murid, guru dapat menyusun rekapitulasi untuk melihat kebutuhan pembelajaran satu kelas.

Sebagai ilustrasi, terdapat 30 murid pada kelas VII.

Guru melakukan pemeriksaan terhadap TP-01 menggunakan kriteria yang telah ditentukan.

Hasil pemetaan menunjukkan:

REKAP KETERCAPAIAN TP-01

Jumlah murid: 30

Murid yang telah menunjukkan seluruh kriteria utama: 18

Murid yang memerlukan penguatan: 8

Murid yang memerlukan pendampingan intensif: 4

Total: 30 murid

Persentase murid yang telah menunjukkan seluruh kriteria:

18 ÷ 30 × 100% = 60%

Persentase murid yang memerlukan penguatan:

8 ÷ 30 × 100% = 26,67%

Persentase murid yang memerlukan pendampingan intensif:

4 ÷ 30 × 100% = 13,33%

Angka tersebut merupakan contoh statistik kelas, bukan batas ketuntasan nasional.

Guru dapat menggunakannya untuk menentukan prioritas pembelajaran berikutnya.

Persentase tersebut tidak sebaiknya digunakan untuk memberikan label tetap kepada murid karena capaian belajar dapat berkembang setelah memperoleh umpan balik dan kesempatan belajar tambahan.

Langkah 7: Menentukan Tindak Lanjut Pembelajaran

Pemetaan mempunyai manfaat apabila hasilnya digunakan untuk memperbaiki kegiatan belajar.

Tindak lanjut dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan murid.

Murid yang telah menunjukkan ketercapaian

Guru dapat memberikan kesempatan pengayaan, penerapan pengetahuan dalam konteks baru, atau kegiatan pendalaman yang relevan.

Murid yang memerlukan penguatan

Guru dapat memberikan umpan balik khusus, contoh tambahan, latihan bertahap, atau kegiatan diskusi terbimbing.

Murid yang membutuhkan pendampingan intensif

Guru perlu memeriksa hambatan belajar dan menyesuaikan pendekatan, media, serta tingkat dukungan.

Pendampingan tidak harus selalu berbentuk pengulangan tes dengan soal yang sama.

Guru dapat memperbaiki cara menjelaskan, memberikan model, menggunakan media lain, atau menyediakan pengalaman belajar yang lebih sesuai.

Tujuannya adalah membantu murid mengembangkan kompetensi, bukan sekadar menaikkan angka nilai.

Contoh Format Program Tindak Lanjut

PROGRAM TINDAK LANJUT HASIL PEMETAAN TP

Nama Sekolah: ....................................

Mata Pelajaran: ....................................

Kelas: ....................................

Semester: ....................................

Kode TP: ....................................

Kriteria yang Belum Ditunjukkan: ....................................

Jumlah Murid yang Memerlukan Penguatan: ....................................

Jumlah Murid yang Memerlukan Pendampingan Intensif: ....................................

Rencana Kegiatan

Bentuk Pendampingan: ....................................

Strategi Pembelajaran: ....................................

Media atau Bahan Ajar: ....................................

Jadwal Pelaksanaan: ....................................

Penanggung Jawab: ....................................

Pemeriksaan Hasil

Teknik Asesmen Ulang atau Bukti Perkembangan: ....................................

Perubahan yang Diamati: ....................................

Tindak Lanjut Berikutnya: ....................................

Tanggal Evaluasi: ....................................

Format tersebut merupakan contoh administrasi internal. Guru dapat menggabungkan informasi beberapa tujuan dalam satu dokumen jika lebih praktis.

Langkah 8: Menghubungkan Hasil Pemetaan dengan Asesmen Formatif

Asesmen formatif berperan penting karena menyediakan informasi selama pembelajaran masih berlangsung.

Sebagai contoh, setelah guru menjelaskan cara menemukan gagasan utama, murid diminta membaca paragraf pendek dan menuliskan kalimat utamanya.

Guru kemudian memeriksa hasil pekerjaan.

Jika sebagian besar murid masih mengalami kesulitan, guru dapat mengubah strategi penjelasan sebelum melanjutkan pembelajaran.

Namun, jika mayoritas murid telah memahami, guru dapat melanjutkan ke tingkat keterampilan berikutnya sambil memberikan dukungan kepada murid yang masih membutuhkan.

Dengan demikian, pemetaan dapat dilaksanakan secara bertahap dan tidak harus menunggu asesmen akhir semester.

Informasi formatif juga sebaiknya diberikan kepada murid dalam bentuk umpan balik yang dapat dipahami.

Baca Juga: Cara Membuat Modul Ajar untuk Guru, Lengkap dengan Komponen, Langkah, dan Contoh Format

Langkah 9: Menyusun Laporan Evaluasi Ketercapaian TP

Hasil pemetaan dapat dirangkum menjadi laporan singkat bagi guru dan tim kurikulum.

Laporan sebaiknya berfokus pada kebutuhan perbaikan pembelajaran.

CONTOH LAPORAN EVALUASI KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah: SMP Harapan Bangsa (simulasi)

Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia

Kelas: VII

Periode: Oktober 2026

A. Tujuan yang Dievaluasi

TP-01: Mengidentifikasi informasi utama teks.

TP-02: Menjelaskan hubungan informasi.

TP-03: Menyusun tanggapan berdasarkan alasan.

B. Hasil Umum

Sebagian murid telah mampu menemukan informasi utama.

Beberapa murid masih membutuhkan penguatan dalam membedakan gagasan utama dan informasi pendukung.

Pada kegiatan menyusun tanggapan, guru menemukan kebutuhan peningkatan kemampuan memberikan alasan yang relevan.

C. Analisis Kebutuhan

Murid memerlukan lebih banyak kesempatan menganalisis teks dan mendiskusikan alasan.

D. Rencana Perbaikan

Guru akan menggunakan contoh bertahap, diskusi kelompok kecil, dan latihan tanggapan berdasarkan teks.

E. Evaluasi Berikutnya

Perkembangan diperiksa melalui tugas membaca dan tanggapan tertulis dengan kriteria yang telah ditentukan.

F. Pemeriksaan

Guru Mata Pelajaran: ....................................

Tanggal Penyusunan: ....................................

Catatan Koordinasi Kurikulum: ....................................

Laporan tersebut merupakan simulasi, bukan hasil asesmen siswa sebenarnya.

SOP Pemetaan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran

Sekolah dapat menggunakan prosedur berikut untuk mempermudah koordinasi antara guru dan tim kurikulum.

Tahap 1: Persiapan

Guru memeriksa TP serta kriteria yang digunakan untuk menilai ketercapaian.

Tahap 2: Perencanaan Bukti

Guru memilih kegiatan asesmen yang sesuai dengan kompetensi.

Tahap 3: Pelaksanaan

Guru mengumpulkan informasi melalui pembelajaran dan asesmen.

Tahap 4: Pemeriksaan

Bukti dinilai berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan.

Tahap 5: Pemetaan

Guru mencatat kemampuan yang telah ditunjukkan serta kebutuhan pendampingan.

Tahap 6: Analisis Kelas

Guru mengidentifikasi pola kesulitan dan perkembangan belajar.

Tahap 7: Penentuan Tindak Lanjut

Guru merancang penguatan, pendampingan, atau pengayaan.

Tahap 8: Pelaksanaan Perbaikan

Kegiatan tindak lanjut dilaksanakan sesuai kebutuhan.

Tahap 9: Evaluasi Ulang

Guru mengumpulkan bukti perkembangan berikutnya.

Tahap 10: Refleksi dan Pengarsipan

Hasil digunakan untuk memperbaiki perencanaan serta disimpan sesuai ketentuan administrasi sekolah.

SOP ini merupakan contoh operasional, bukan prosedur wajib nasional yang harus diterapkan secara identik.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Beberapa kesalahan dapat mengurangi manfaat pemetaan pembelajaran.

Pertama, menggunakan nilai keseluruhan tanpa memeriksa tujuan yang dinilai.

Kedua, menetapkan kriteria hanya berdasarkan angka tertentu tanpa melihat kompetensi.

Ketiga, menggunakan instrumen yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Keempat, mencampurkan hasil beberapa tujuan sehingga kesulitan murid tidak terlihat.

Kelima, menganggap kategori ketercapaian sebagai label kemampuan yang permanen.

Keenam, memberikan pengulangan soal tanpa memperbaiki proses pembelajaran.

Ketujuh, hanya menggunakan hasil asesmen sumatif dan mengabaikan informasi formatif.

Kedelapan, menggunakan satu bentuk tindak lanjut yang sama untuk semua murid.

Kesembilan, tidak mencatat perubahan kemampuan setelah kegiatan pendampingan.

Kesepuluh, mengumumkan informasi hasil belajar pribadi murid kepada pihak yang tidak berkepentingan.

Hasil asesmen perlu digunakan secara bijaksana dan memperhatikan kerahasiaan informasi pendidikan.

Checklist Pemetaan Ketercapaian TP

A. Perencanaan

  • CP dan fase sesuai.
  • TP telah ditentukan.
  • Kriteria ketercapaian jelas.
  • Teknik asesmen sesuai kompetensi.
  • Instrumen dan rubrik tersedia jika diperlukan.

B. Pelaksanaan dan Pengolahan

  • Bukti belajar telah dikumpulkan.
  • Hasil diperiksa berdasarkan kriteria.
  • Pemetaan dilakukan per TP.
  • Kebutuhan setiap murid diidentifikasi.
  • Rekapitulasi kelas diperiksa.

C.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
ketercapaian tujuan pembelajaran pemetaan TP analisis asesmen KKTP Asesmen Formatif Administrasi Kurikulum

Komentar Pengguna