KebonCinta.com – Ketercapaian tujuan pembelajaran merupakan salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan guru ketika mengevaluasi proses belajar. Melalui pemetaan yang teratur, guru dapat mengetahui kompetensi yang telah dikuasai murid, bagian yang masih membutuhkan pendampingan, serta langkah pembelajaran yang perlu diperbaiki.
Dalam praktiknya, penilaian sering kali hanya berakhir pada pemberian angka. Guru memeriksa hasil ulangan, menghitung nilai, kemudian memasukkannya ke dalam daftar penilaian.
Padahal, angka saja belum selalu memberikan gambaran yang cukup mengenai kemampuan peserta didik.
Sebagai contoh, dua murid memperoleh nilai 75 pada asesmen Bahasa Indonesia. Murid pertama mampu menemukan informasi dan menyimpulkan isi bacaan, tetapi masih kesulitan memberikan alasan. Murid kedua justru mampu memberikan tanggapan, tetapi belum tepat mengidentifikasi gagasan utama.
Meskipun memperoleh nilai yang sama, keduanya membutuhkan tindak lanjut pembelajaran yang berbeda.
Karena itu, guru perlu melakukan pemetaan ketercapaian Tujuan Pembelajaran (TP) berdasarkan bukti asesmen, bukan hanya mengandalkan nilai keseluruhan.
Pada tahun ajaran 2026/2027, perencanaan dan evaluasi pembelajaran perlu memperhatikan kurikulum yang berlaku serta Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Panduan tersebut menekankan bahwa pembelajaran dan asesmen merupakan satu siklus. Informasi hasil asesmen digunakan untuk memperbaiki pembelajaran serta membantu murid mencapai kompetensi yang diharapkan.
Pemetaan ketercapaian tujuan pembelajaran merupakan proses mengidentifikasi tingkat penguasaan murid terhadap tujuan pembelajaran berdasarkan bukti yang diperoleh dari kegiatan asesmen.
Pemetaan membantu guru memahami bukan hanya apakah murid telah menunjukkan kemampuan tertentu, tetapi juga bagian mana yang masih memerlukan penguatan.
Sebagai contoh, guru menetapkan tujuan agar murid mampu menemukan gagasan utama dan menjelaskan informasi pendukung dari suatu teks.
Setelah kegiatan pembelajaran, guru memberikan tugas membaca dan meminta murid menjelaskan hasil pemahamannya.
Dari pekerjaan tersebut, guru dapat mengidentifikasi murid yang sudah mampu menemukan gagasan utama dengan tepat, murid yang masih memerlukan petunjuk, dan murid yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Hasil pemeriksaan kemudian dicatat dalam format pemetaan sederhana.
Pemetaan ini merupakan alat bantu analisis pembelajaran. Sekolah dapat mengembangkan format yang sesuai dengan kebutuhan, tanpa harus menggunakan satu tabel nasional yang seragam.
Sebelum menyusun pemetaan, guru perlu memahami hubungan antara beberapa komponen perencanaan.
Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi yang ditargetkan untuk dicapai murid pada akhir fase.
Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan tujuan yang lebih operasional dan konkret, mencakup kompetensi serta lingkup materi.
Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) merupakan urutan tujuan pembelajaran yang disusun secara logis untuk membantu murid mencapai CP.
Pemetaan ketercapaian TP merupakan kegiatan menganalisis bukti perkembangan belajar terhadap tujuan yang direncanakan.
Dengan demikian, CP, TP, dan ATP digunakan dalam perencanaan, sedangkan pemetaan ketercapaian membantu guru mengevaluasi hasil pelaksanaannya.
Pemetaan juga memberikan informasi untuk menyesuaikan kegiatan berikutnya.
Perencanaan dan asesmen pembelajaran perlu mengacu pada beberapa sumber resmi.
1. Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 sebagaimana diubah dengan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025
Peraturan tersebut menjadi bagian dari dasar pengaturan kurikulum pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Guru perlu menggunakan struktur kurikulum serta CP yang berlaku untuk mata pelajaran dan fase masing-masing.
2. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi 2025
Panduan dari Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan menjelaskan hubungan antara perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil asesmen, pelaporan, dan refleksi pembelajaran.
Panduan juga memberikan kebebasan kepada pendidik untuk mengembangkan mekanisme serta contoh format berdasarkan konteks satuan pendidikan tanpa mengurangi standar regulasi.
3. Ketentuan Standar Proses dan Standar Penilaian yang Berlaku
Guru perlu memperhatikan standar pemerintah mengenai perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, asesmen, serta penggunaan informasi hasil penilaian.
Penting dipahami bahwa format pemetaan yang disajikan dalam artikel ini merupakan contoh praktis, bukan formulir wajib nasional.
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran atau KKTP membantu guru mengenali bukti yang menunjukkan bahwa suatu tujuan pembelajaran telah dicapai.
Kriteria sebaiknya dirumuskan berdasarkan kompetensi yang diharapkan, bukan ditentukan hanya melalui angka.
Sebagai contoh, tujuan pembelajaran menyatakan bahwa murid mampu menyampaikan pendapat berdasarkan informasi dalam teks.
Guru kemudian dapat menentukan kriteria berupa:
Kriteria tersebut membantu guru memberikan umpan balik yang lebih jelas.
Murid tidak hanya diberi informasi bahwa jawabannya salah atau nilainya rendah, tetapi dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.
KKTP tidak seharusnya diperlakukan sekadar sebagai pengganti Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam bentuk satu angka yang sama untuk semua tujuan.
Guru dapat menggunakan deskripsi kriteria, rubrik, atau bentuk penilaian lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi.
Pemetaan dimulai dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan berdasarkan CP dan ATP.
Guru perlu memastikan tujuan tersebut cukup jelas untuk diamati melalui kegiatan belajar.
Sebagai contoh, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII, guru menggunakan tujuan pembelajaran berikut:
TP-01: Murid mampu mengidentifikasi informasi utama dalam teks yang dibaca.
TP-02: Murid mampu menjelaskan hubungan informasi utama dan informasi pendukung.
TP-03: Murid mampu menyusun tanggapan terhadap isi teks menggunakan alasan yang relevan.
Ketiga tujuan tersebut merupakan simulasi pengembangan tujuan pembelajaran, bukan kutipan CP atau ATP resmi.
Tujuan yang digunakan sekolah harus disesuaikan dengan dokumen kurikulum dan kemampuan peserta didik.
Baca Juga: Cara Menyusun Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran dengan Benar
Setelah menentukan tujuan, guru perlu menjelaskan kemampuan yang akan diamati.
Misalnya, untuk TP-01 tentang mengidentifikasi informasi utama, guru dapat menggunakan indikator:
Bukti ketercapaian dapat diperoleh dari tugas membaca, jawaban tertulis, diskusi, maupun kegiatan presentasi.
Bukti yang dipilih sebaiknya benar-benar dapat menunjukkan kompetensi yang dinilai.
Jika tujuan pembelajaran berkaitan dengan keterampilan berbicara, asesmen tidak cukup hanya menggunakan soal pilihan ganda mengenai teori berbicara.
Sebaliknya, guru perlu mengamati kemampuan murid dalam kegiatan komunikasi yang relevan.
Asesmen digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kebutuhan serta perkembangan belajar murid.
Dalam praktiknya, guru dapat menggunakan asesmen awal, formatif, dan sumatif sesuai tujuan serta fungsi masing-masing.
Asesmen awal membantu mengetahui kesiapan dan pengetahuan yang telah dimiliki murid.
Asesmen formatif digunakan untuk memantau perkembangan serta memberikan umpan balik selama proses pembelajaran.
Asesmen sumatif digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar pada akhir lingkup materi atau periode tertentu sesuai ketentuan.
Teknik asesmen dapat berupa pertanyaan lisan, tugas tertulis, praktik, proyek, presentasi, pengamatan, atau bentuk lain yang sesuai.
Guru tidak harus menggunakan seluruh teknik tersebut dalam satu pembelajaran.
Pemilihan teknik perlu mempertimbangkan tujuan, karakteristik materi, serta kebutuhan murid.
Sekolah dapat menggunakan format sederhana yang menghubungkan tujuan pembelajaran, bukti asesmen, hasil pemeriksaan, dan tindak lanjut.
Berikut contoh tanpa tabel agar mudah disalin ke CMS.
FORMAT PEMETAAN KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah: SMP Harapan Bangsa (simulasi)
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas/Fase: VII / D
Semester: Ganjil
Tahun Ajaran: 2026/2027
Guru: ....................................
Data Pemetaan Murid 001
Nama: Murid Contoh A
Kode TP: TP-01
Tujuan: Mengidentifikasi informasi utama teks.
Bukti Asesmen: Tugas membaca dan penjelasan tertulis.
Kriteria yang Diamati: Ketepatan menentukan gagasan utama dan membedakan informasi pendukung.
Hasil: Kriteria telah ditunjukkan secara konsisten.
Kategori Internal: Tercapai
Tindak Lanjut: Penguatan melalui teks dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.
Data Pemetaan Murid 002
Nama: Murid Contoh B
Kode TP: TP-01
Bukti Asesmen: Tugas membaca dan diskusi.
Hasil: Murid mampu menemukan informasi tertentu, tetapi masih kesulitan menentukan gagasan utama.
Kategori Internal: Perlu Penguatan
Tindak Lanjut: Latihan identifikasi gagasan utama dengan panduan bertahap.
Data Pemetaan Murid 003
Nama: Murid Contoh C
Kode TP: TP-01
Bukti Asesmen: Pengamatan dan tugas membaca.
Hasil: Murid masih memerlukan bantuan untuk memahami isi teks.
Kategori Internal: Perlu Pendampingan Intensif
Tindak Lanjut: Pembelajaran kelompok kecil dan penggunaan teks sesuai kesiapan membaca.
Nama, kategori, serta hasil di atas merupakan simulasi.
Kategori internal tersebut bukan label permanen terhadap kemampuan murid. Hasil pemetaan harus diperbarui berdasarkan bukti pembelajaran berikutnya.
Kesalahan yang perlu dihindari adalah hanya menghitung nilai rata-rata seluruh soal tanpa memeriksa kompetensi yang sebenarnya diukur.
Sebagai contoh, guru memberikan asesmen yang mencakup tiga tujuan pembelajaran.
Hasil seorang murid adalah:
TP-01 – Mengidentifikasi Informasi
Hasil: Telah menunjukkan kriteria.
TP-02 – Menjelaskan Hubungan Informasi
Hasil: Sebagian kriteria telah ditunjukkan.
TP-03 – Menyusun Tanggapan
Hasil: Masih membutuhkan pendampingan dalam menyampaikan alasan.
Berdasarkan informasi tersebut, guru dapat menentukan bahwa murid membutuhkan penguatan terutama pada penyusunan tanggapan.
Pendekatan ini lebih informatif daripada sekadar mencatat nilai akhir, misalnya 78, tanpa penjelasan kemampuan yang telah dikuasai.
Jika guru menggunakan skor numerik, skor tersebut perlu dihitung berdasarkan instrumen dan rubrik yang telah ditetapkan.
Jangan membuat persentase ketercapaian hanya dengan menjumlahkan kategori deskriptif tanpa aturan pengolahan yang jelas.
Setelah menganalisis hasil setiap murid, guru dapat menyusun rekapitulasi untuk melihat kebutuhan pembelajaran satu kelas.
Sebagai ilustrasi, terdapat 30 murid pada kelas VII.
Guru melakukan pemeriksaan terhadap TP-01 menggunakan kriteria yang telah ditentukan.
Hasil pemetaan menunjukkan:
REKAP KETERCAPAIAN TP-01
Jumlah murid: 30
Murid yang telah menunjukkan seluruh kriteria utama: 18
Murid yang memerlukan penguatan: 8
Murid yang memerlukan pendampingan intensif: 4
Total: 30 murid
Persentase murid yang telah menunjukkan seluruh kriteria:
18 ÷ 30 × 100% = 60%
Persentase murid yang memerlukan penguatan:
8 ÷ 30 × 100% = 26,67%
Persentase murid yang memerlukan pendampingan intensif:
4 ÷ 30 × 100% = 13,33%
Angka tersebut merupakan contoh statistik kelas, bukan batas ketuntasan nasional.
Guru dapat menggunakannya untuk menentukan prioritas pembelajaran berikutnya.
Persentase tersebut tidak sebaiknya digunakan untuk memberikan label tetap kepada murid karena capaian belajar dapat berkembang setelah memperoleh umpan balik dan kesempatan belajar tambahan.
Pemetaan mempunyai manfaat apabila hasilnya digunakan untuk memperbaiki kegiatan belajar.
Tindak lanjut dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan murid.
Murid yang telah menunjukkan ketercapaian
Guru dapat memberikan kesempatan pengayaan, penerapan pengetahuan dalam konteks baru, atau kegiatan pendalaman yang relevan.
Murid yang memerlukan penguatan
Guru dapat memberikan umpan balik khusus, contoh tambahan, latihan bertahap, atau kegiatan diskusi terbimbing.
Murid yang membutuhkan pendampingan intensif
Guru perlu memeriksa hambatan belajar dan menyesuaikan pendekatan, media, serta tingkat dukungan.
Pendampingan tidak harus selalu berbentuk pengulangan tes dengan soal yang sama.
Guru dapat memperbaiki cara menjelaskan, memberikan model, menggunakan media lain, atau menyediakan pengalaman belajar yang lebih sesuai.
Tujuannya adalah membantu murid mengembangkan kompetensi, bukan sekadar menaikkan angka nilai.
PROGRAM TINDAK LANJUT HASIL PEMETAAN TP
Nama Sekolah: ....................................
Mata Pelajaran: ....................................
Kelas: ....................................
Semester: ....................................
Kode TP: ....................................
Kriteria yang Belum Ditunjukkan: ....................................
Jumlah Murid yang Memerlukan Penguatan: ....................................
Jumlah Murid yang Memerlukan Pendampingan Intensif: ....................................
Rencana Kegiatan
Bentuk Pendampingan: ....................................
Strategi Pembelajaran: ....................................
Media atau Bahan Ajar: ....................................
Jadwal Pelaksanaan: ....................................
Penanggung Jawab: ....................................
Pemeriksaan Hasil
Teknik Asesmen Ulang atau Bukti Perkembangan: ....................................
Perubahan yang Diamati: ....................................
Tindak Lanjut Berikutnya: ....................................
Tanggal Evaluasi: ....................................
Format tersebut merupakan contoh administrasi internal. Guru dapat menggabungkan informasi beberapa tujuan dalam satu dokumen jika lebih praktis.
Asesmen formatif berperan penting karena menyediakan informasi selama pembelajaran masih berlangsung.
Sebagai contoh, setelah guru menjelaskan cara menemukan gagasan utama, murid diminta membaca paragraf pendek dan menuliskan kalimat utamanya.
Guru kemudian memeriksa hasil pekerjaan.
Jika sebagian besar murid masih mengalami kesulitan, guru dapat mengubah strategi penjelasan sebelum melanjutkan pembelajaran.
Namun, jika mayoritas murid telah memahami, guru dapat melanjutkan ke tingkat keterampilan berikutnya sambil memberikan dukungan kepada murid yang masih membutuhkan.
Dengan demikian, pemetaan dapat dilaksanakan secara bertahap dan tidak harus menunggu asesmen akhir semester.
Informasi formatif juga sebaiknya diberikan kepada murid dalam bentuk umpan balik yang dapat dipahami.
Baca Juga: Cara Membuat Modul Ajar untuk Guru, Lengkap dengan Komponen, Langkah, dan Contoh Format
Hasil pemetaan dapat dirangkum menjadi laporan singkat bagi guru dan tim kurikulum.
Laporan sebaiknya berfokus pada kebutuhan perbaikan pembelajaran.
CONTOH LAPORAN EVALUASI KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah: SMP Harapan Bangsa (simulasi)
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas: VII
Periode: Oktober 2026
A. Tujuan yang Dievaluasi
TP-01: Mengidentifikasi informasi utama teks.
TP-02: Menjelaskan hubungan informasi.
TP-03: Menyusun tanggapan berdasarkan alasan.
B. Hasil Umum
Sebagian murid telah mampu menemukan informasi utama.
Beberapa murid masih membutuhkan penguatan dalam membedakan gagasan utama dan informasi pendukung.
Pada kegiatan menyusun tanggapan, guru menemukan kebutuhan peningkatan kemampuan memberikan alasan yang relevan.
C. Analisis Kebutuhan
Murid memerlukan lebih banyak kesempatan menganalisis teks dan mendiskusikan alasan.
D. Rencana Perbaikan
Guru akan menggunakan contoh bertahap, diskusi kelompok kecil, dan latihan tanggapan berdasarkan teks.
E. Evaluasi Berikutnya
Perkembangan diperiksa melalui tugas membaca dan tanggapan tertulis dengan kriteria yang telah ditentukan.
F. Pemeriksaan
Guru Mata Pelajaran: ....................................
Tanggal Penyusunan: ....................................
Catatan Koordinasi Kurikulum: ....................................
Laporan tersebut merupakan simulasi, bukan hasil asesmen siswa sebenarnya.
Sekolah dapat menggunakan prosedur berikut untuk mempermudah koordinasi antara guru dan tim kurikulum.
Tahap 1: Persiapan
Guru memeriksa TP serta kriteria yang digunakan untuk menilai ketercapaian.
Tahap 2: Perencanaan Bukti
Guru memilih kegiatan asesmen yang sesuai dengan kompetensi.
Tahap 3: Pelaksanaan
Guru mengumpulkan informasi melalui pembelajaran dan asesmen.
Tahap 4: Pemeriksaan
Bukti dinilai berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan.
Tahap 5: Pemetaan
Guru mencatat kemampuan yang telah ditunjukkan serta kebutuhan pendampingan.
Tahap 6: Analisis Kelas
Guru mengidentifikasi pola kesulitan dan perkembangan belajar.
Tahap 7: Penentuan Tindak Lanjut
Guru merancang penguatan, pendampingan, atau pengayaan.
Tahap 8: Pelaksanaan Perbaikan
Kegiatan tindak lanjut dilaksanakan sesuai kebutuhan.
Tahap 9: Evaluasi Ulang
Guru mengumpulkan bukti perkembangan berikutnya.
Tahap 10: Refleksi dan Pengarsipan
Hasil digunakan untuk memperbaiki perencanaan serta disimpan sesuai ketentuan administrasi sekolah.
SOP ini merupakan contoh operasional, bukan prosedur wajib nasional yang harus diterapkan secara identik.
Beberapa kesalahan dapat mengurangi manfaat pemetaan pembelajaran.
Pertama, menggunakan nilai keseluruhan tanpa memeriksa tujuan yang dinilai.
Kedua, menetapkan kriteria hanya berdasarkan angka tertentu tanpa melihat kompetensi.
Ketiga, menggunakan instrumen yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Keempat, mencampurkan hasil beberapa tujuan sehingga kesulitan murid tidak terlihat.
Kelima, menganggap kategori ketercapaian sebagai label kemampuan yang permanen.
Keenam, memberikan pengulangan soal tanpa memperbaiki proses pembelajaran.
Ketujuh, hanya menggunakan hasil asesmen sumatif dan mengabaikan informasi formatif.
Kedelapan, menggunakan satu bentuk tindak lanjut yang sama untuk semua murid.
Kesembilan, tidak mencatat perubahan kemampuan setelah kegiatan pendampingan.
Kesepuluh, mengumumkan informasi hasil belajar pribadi murid kepada pihak yang tidak berkepentingan.
Hasil asesmen perlu digunakan secara bijaksana dan memperhatikan kerahasiaan informasi pendidikan.
A. Perencanaan
B. Pelaksanaan dan Pengolahan
C.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir