Kesepakatan kelas tidak seharusnya berhenti setelah ditempel di dinding.
Guru perlu mengajak siswa merefleksikan pelaksanaannya secara berkala, misalnya melalui diskusi singkat setiap akhir pekan atau akhir bulan.
Tanyakan kesepakatan mana yang sudah berjalan baik, kesulitan apa yang dialami, dan bagian mana yang perlu diperbaiki.
Apabila terdapat kesepakatan yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan kelas, guru dan siswa dapat meninjaunya kembali.
Berikut contoh sederhana yang dapat digunakan sebagai bahan awal diskusi. Setiap sekolah dapat menyesuaikannya berdasarkan usia siswa, karakteristik kelas, dan kebutuhan pembelajaran.
KESEPAKATAN KELAS
Nama Sekolah: ..........................................
Kelas: ..........................................
Tahun Pelajaran: ..........................................
Kami, guru dan seluruh siswa, berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, tertib, dan saling menghargai.
Untuk mewujudkannya, kami menyepakati hal-hal berikut:
Komitmen Bersama
Apabila salah satu kesepakatan belum terlaksana, kami bersedia mengikuti proses pembinaan yang mendidik, menghargai hak setiap orang, dan berupaya memperbaiki keadaan.
Kesepakatan ini dapat dievaluasi dan disesuaikan melalui diskusi bersama.
Tempat dan Tanggal: ..........................................
Guru/Wali Kelas: ..........................................
Perwakilan Siswa: ..........................................
Catatan: Format di atas merupakan contoh praktis, bukan formulir baku yang diwajibkan oleh pemerintah.
Agar mudah diterapkan, guru perlu membedakan tindakan pembinaan dengan hukuman yang hanya menimbulkan rasa takut.
Berikut beberapa contoh penerapannya.
Situasi 1: Siswa sering berbicara saat temannya menyampaikan pendapat
Guru dapat mengingatkan kesepakatan tentang saling menghargai, mengajak siswa memahami dampak tindakannya, lalu memberikan kesempatan untuk memperbaiki perilaku.
Situasi 2: Siswa tidak menyelesaikan tugas
Guru terlebih dahulu mencari tahu penyebabnya. Jika siswa mengalami kesulitan memahami materi, bantuan belajar lebih tepat daripada langsung memberikan hukuman.
Selanjutnya, guru dan siswa dapat menyepakati rencana penyelesaian tugas yang realistis.
Situasi 3: Siswa mengotori ruang kelas
Guru dapat mengajak siswa membersihkan bagian yang dikotori sekaligus mendiskusikan tanggung jawab menjaga fasilitas bersama.
Situasi 4: Terjadi perselisihan antarsiswa
Guru perlu mendengarkan pihak-pihak terkait secara adil, memastikan keamanan siswa, dan membantu menemukan tindakan perbaikan yang sesuai.
Apabila perselisihan melibatkan dugaan kekerasan, ancaman, atau perundungan, masalah harus ditindaklanjuti melalui prosedur sekolah yang berlaku, bukan hanya melalui mediasi informal.
Meskipun terlihat sederhana, penyusunan kontrak belajar dapat kehilangan maknanya apabila hanya dilakukan sebagai formalitas.
Kesalahan pertama adalah guru menetapkan seluruh aturan tanpa mendengarkan pendapat siswa. Akibatnya, siswa tidak mempunyai pengalaman berpartisipasi dalam pembentukan kesepakatan.
Kesalahan kedua adalah membuat terlalu banyak aturan. Daftar yang panjang dan sulit dipahami justru berpotensi membuat siswa tidak mengingat komitmen yang telah dibuat.
Kesalahan ketiga adalah menggunakan ancaman atau hukuman yang tidak mendidik. Kesepakatan kelas seharusnya membantu siswa mengembangkan tanggung jawab, bukan membangun kepatuhan karena ketakutan.
Kesalahan berikutnya adalah guru tidak memberikan keteladanan. Misalnya, siswa diminta menghargai orang yang berbicara, tetapi guru justru sering memotong penjelasan siswa tanpa alasan yang jelas.
Terakhir, kesepakatan tidak pernah dievaluasi. Padahal, kondisi kelas dapat berubah seiring perkembangan siswa dan kebutuhan pembelajaran.
Karena itu, keberhasilan kontrak belajar sangat bergantung pada konsistensi, keteladanan, komunikasi, dan keterbukaan untuk memperbaiki kesepakatan.
Guru dapat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana untuk menjaga keberlangsungan kesepakatan.
Pertama, tempatkan hasil kesepakatan pada lokasi yang mudah dibaca. Poster yang menarik dan ringkas akan memudahkan siswa mengingat komitmen bersama.
Kedua, gunakan kesepakatan sebagai bahan refleksi, bukan sekadar alat menegur siswa. Guru dapat menghubungkannya dengan situasi nyata yang muncul dalam pembelajaran.
Ketiga, berikan apresiasi yang tulus terhadap perilaku positif. Apresiasi tidak harus berupa hadiah, tetapi dapat diberikan melalui pengakuan terhadap usaha dan tanggung jawab siswa.
Keempat, libatkan siswa ketika melakukan evaluasi. Dengan cara ini, mereka belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, dan mengambil keputusan bersama.
Kelima, pastikan penerapannya adil. Kesepakatan harus menghormati kondisi dan kebutuhan setiap siswa, termasuk peserta didik yang memerlukan dukungan khusus dalam pembelajaran.
Melalui langkah-langkah tersebut, kontrak belajar dapat menjadi bagian dari pembiasaan karakter yang berlangsung secara berkelanjutan.
Membuat kontrak belajar bersama siswa bukan semata-mata kegiatan menyusun peraturan kelas. Proses tersebut merupakan kesempatan bagi guru untuk membimbing peserta didik belajar bermusyawarah, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan memperbaiki kesalahan secara sadar.
Ketika kesepakatan dirumuskan secara partisipatif serta dijalankan dengan konsisten, ruang kelas berpeluang menjadi lingkungan yang lebih tertib, inklusif, dan mendukung perkembangan setiap siswa.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir