KebonCinta.com — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membahas pengembangan serta pemanfaatan teknologi pengolahan sampah di Indonesia. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas penerapan hasil penelitian sekaligus melibatkan perguruan tinggi dalam penyelesaian persoalan lingkungan.
Pembahasan dilakukan dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Kepala BRIN Arief Satria di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.
Pemerintah menilai inovasi teknologi memiliki peran penting dalam mengatasi persoalan sampah, baik pada skala rumah tangga, desa, maupun fasilitas pengolahan yang lebih besar.
MAHASISWA BERPELUANG DILIBATKAN
Baca Juga: Contoh RPP Fikih Kelas 10 Semester 2, Lengkap dengan Komponen dan Panduan Penyusunan
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan bahwa perguruan tinggi dapat berperan dalam kegiatan sosialisasi dan pendampingan masyarakat. Pelibatan mahasiswa menjadi salah satu gagasan yang dibahas untuk membantu pelaksanaan program secara berkelanjutan.
Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa berpotensi mendukung penerapan teknologi sekaligus membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah.
Namun, rencana pelibatan mahasiswa tersebut masih merupakan bagian dari pembahasan kerja sama. Pemerintah belum mengumumkan pembukaan pendaftaran peserta atau pembagian lokasi penugasan mahasiswa dalam program ini.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK
Dalam pertemuan tersebut, kedua lembaga membahas penggunaan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah di setiap wilayah.
Untuk limbah organik rumah tangga, salah satu pilihan yang dibahas adalah pengolahan menjadi kompos. Teknologi komposter dapat membantu memanfaatkan sisa bahan organik sehingga tidak seluruh sampah harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
Alternatif lainnya adalah pemanfaatan sampah organik untuk menghasilkan biogas. Penerapan teknologi ini perlu disesuaikan dengan kapasitas fasilitas dan karakteristik bahan baku yang tersedia.
SAMPAH PLASTIK BISA DIOLAH MENJADI BAHAN BAKAR
Selain sampah organik, pembahasan juga mencakup teknologi pengolahan sampah plastik melalui proses pirolisis. Teknologi ini menggunakan pemanasan pada kondisi tertentu untuk mengubah bahan menjadi produk lain yang memiliki nilai guna.
BRIN sebelumnya telah mengembangkan teknologi Fast Pyrolysis 5.0 atau Faspol 5.0. Mesin tersebut digunakan untuk mengolah jenis limbah plastik tertentu menjadi bahan bakar cair alternatif bernama Petasol.
Menurut keterangan BRIN, Petasol mempunyai karakteristik yang dapat digunakan pada aplikasi tertentu sebagai alternatif bahan bakar setara solar. Produk tersebut telah melalui pengujian, termasuk untuk pemanfaatan pada perahu nelayan dan peralatan pertanian.
Meski demikian, tidak semua jenis sampah plastik dapat langsung dimasukkan ke dalam mesin pengolahan tanpa pemilahan. Penerapan teknologi juga memerlukan prosedur operasional dan pengendalian dampak lingkungan yang sesuai.
BRIN PAPARKAN PENERAPAN TEKNOLOGI
Dalam pertemuan dengan Kemdiktisaintek, Kepala BRIN Arief Satria menjelaskan bahwa sejumlah teknologi pengelolaan sampah telah diterapkan di berbagai wilayah.
Contoh penerapan mencakup komposter, pengolahan limbah dapur menjadi biogas, serta teknologi Faspol. BRIN juga menyampaikan pengalaman pemanfaatan bahan bakar hasil pengolahan sampah plastik pada perahu nelayan.
Inovasi tersebut memperlihatkan peluang pengembangan ekonomi sirkular, yaitu pendekatan yang berupaya memanfaatkan kembali sumber daya dan mengurangi jumlah limbah yang terbuang.
PROYEK PERCONTOHAN MASIH DIBAHAS
Kemdiktisaintek dan BRIN juga membahas kemungkinan penerapan proyek percontohan di sejumlah daerah. Langkah tersebut ditujukan untuk menilai kecocokan teknologi terhadap kebutuhan masyarakat serta kondisi wilayah.
Mendiktisaintek menyampaikan rencana pembentukan tim kecil untuk menentukan lokasi dan jenis teknologi yang layak diterapkan. Dengan demikian, tahap berikutnya masih membutuhkan pemilihan lokasi, koordinasi daerah, dan persiapan pelaksanaan.
Penjajakan proyek percontohan ini perlu dibedakan dari teknologi BRIN yang telah lebih dahulu diuji maupun diterapkan di lokasi lain.
TANTANGAN PENERAPAN DI LAPANGAN
Pemanfaatan teknologi pengolahan sampah memerlukan dukungan berbagai pihak. Pemerintah daerah, pengelola fasilitas, pengembang teknologi, dan masyarakat harus memiliki pembagian peran yang jelas agar program berjalan berkelanjutan.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah biaya operasional, perawatan mesin, kebutuhan lahan, ketersediaan bahan baku, serta kemampuan pengelola.
Penggunaan teknologi yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan berisiko menimbulkan fasilitas yang sulit dioperasikan atau tidak memberikan manfaat optimal.
DARI PENELITIAN MENUJU MANFAAT NYATA
Kerja sama Kemdiktisaintek dan BRIN diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan hasil riset nasional dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Pemerintah berharap perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga berkontribusi dalam pendampingan serta penerapan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pengembangan pengolahan sampah melalui inovasi masih memerlukan evaluasi lanjutan. Keberhasilannya akan ditentukan oleh kesiapan teknologi, dukungan pemerintah daerah, dan kemampuan masyarakat mengelola fasilitas secara berkelanjutan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir