Sains
Hilmi An Naufal

BPOM Gandeng 187 Kampus, Dorong Riset Sel Punca dan Obat Terapi Lanjutan Buatan Indonesia

BPOM Gandeng 187 Kampus, Dorong Riset Sel Punca dan Obat Terapi Lanjutan Buatan Indonesia

14 Oktober 2026 | 14:14

KebonCinta.com — Badan Pengawas Obat dan Makanan memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi untuk mendorong lahirnya produk kesehatan hasil riset dalam negeri.

Sebanyak 187 kampus dilibatkan dalam pengembangan ekosistem Advanced Therapy Medicinal Products atau ATMP.

ATMP merupakan kelompok terapi medis lanjutan yang dapat mencakup terapi berbasis gen, sel maupun jaringan.

Teknologi tersebut menjadi salah satu bidang yang berkembang pesat dalam dunia kedokteran modern.

Kolaborasi juga melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Asosiasi Sel Punca Indonesia.

Salah satu fokus kerja sama adalah pengembangan ekosistem terapi sel punca.

“Badan POM ingin menjadi bagian dari penelitian itu,” ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar.

Ia menjelaskan keterlibatan BPOM sejak tahap penelitian diharapkan membantu hasil riset lebih mudah bergerak menuju hilirisasi.

Selama ini, salah satu tantangan penelitian di Indonesia adalah banyak inovasi berhenti pada tahap publikasi maupun prototipe.

Sebuah temuan belum tentu langsung dapat digunakan oleh masyarakat.

Produk kesehatan membutuhkan pembuktian keamanan, mutu serta manfaat sebelum memperoleh izin digunakan secara luas.

Karena itu, BPOM ingin memberikan pendampingan mengenai berbagai tahapan regulasi.

Salah satunya panduan untuk pengujian preklinis.

Baca Juga: Perbedaan Aqiqah dan Kurban dari Tujuan, Waktu, dan Pembagian Daging 

Pendampingan sejak awal diharapkan membuat peneliti mengetahui standar yang harus dipenuhi sebelum produk memasuki tahap berikutnya.

Indonesia saat ini baru memiliki satu jenis ATMP yang telah disahkan.

Namun produk tersebut masih berasal dari impor.

Sebagai perbandingan, BPOM menyebut regulator Amerika Serikat telah memberikan izin terhadap puluhan produk ATMP.

Jepang juga telah mempunyai puluhan produk pada bidang serupa.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi kesehatan sendiri.

Peluang ekonominya juga cukup besar.

Pasar global ATMP pada 2025 disebut mencapai sekitar 50 miliar dolar AS.

Pertumbuhannya diproyeksikan berada di kisaran 14,15 persen setiap tahun.

Namun tujuan pengembangan tidak hanya mengejar nilai ekonomi.

Teknologi terapi lanjutan diharapkan dapat membantu penanganan berbagai kondisi kesehatan yang membutuhkan pendekatan pengobatan baru.

Salah satu produk inovatif yang sedang diuji ditargetkan dapat membantu penanganan osteoarthritis.

Kondisi tersebut berkaitan dengan kerusakan sendi dan cukup banyak dialami masyarakat.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Mohammad Fauzan Adziman menyebut jumlah penelitian kesehatan yang didukung pemerintah juga cukup besar.

Pada 2026 terdapat sekitar 4.000 riset bidang kesehatan yang mendapatkan pembiayaan dari berbagai wilayah Indonesia.

Tantangan selanjutnya adalah memastikan hasil penelitian mempunyai jalur menuju implementasi.

Melalui program Hiliriset, pemerintah ingin membuat inovasi kampus dapat berkembang menjadi produk yang berbasis bukti ilmiah.

Produk yang berhasil melewati pengujian dan regulasi kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut bersama industri.

Kolaborasi 187 kampus membuka peluang bagi dosen, peneliti dan mahasiswa terlibat dalam perkembangan teknologi kesehatan baru.

Namun penelitian terapi sel maupun gen merupakan bidang dengan standar keamanan yang sangat tinggi.

Setiap produk tetap harus melewati tahapan penelitian dan evaluasi yang ketat sebelum dapat digunakan pada pasien.

Karena itu, hilirisasi tidak berarti mempercepat produk dengan melewati proses ilmiah.

Tujuannya justru membantu penelitian memenuhi standar yang diperlukan agar hasilnya aman, efektif dan dapat benar-benar dimanfaatkan masyarakat.

Jika kolaborasi kampus, pemerintah dan industri berjalan baik, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan terhadap teknologi terapi lanjutan dari luar negeri.

Pada saat yang sama, ekosistem penelitian kesehatan nasional dapat berkembang dari sekadar menghasilkan publikasi menjadi menghasilkan inovasi yang benar-benar digunakan.

Tags:
BPOM Sel Punca Stem Cell ATMP Riset Kesehatan Kampus Kemdiktisaintek BRIN Bioteknologi

Komentar Pengguna