Karena itu, sebaiknya daging olahan tidak menjadi satu-satunya andalan untuk memenuhi kebutuhan protein harian.
Untuk menjaga kesehatan jangka panjang, sejumlah organisasi pencegahan kanker menyarankan agar konsumsi daging olahan dibuat sesedikit mungkin, bahkan jika memungkinkan dihindari. World Cancer Research Fund merekomendasikan konsumsi daging olahan yang sangat sedikit, jika ada, karena bukti kaitannya dengan kanker kolorektal tergolong kuat.
Artinya, bukan hanya frekuensi yang perlu diperhatikan, tetapi juga jumlah dan kebiasaan makan secara keseluruhan. Mengonsumsi produk tersebut sesekali tidak sama dengan menjadikannya menu utama setiap hari.
Jika terbiasa makan sosis atau kornet setiap pagi, Anda dapat mulai mengurangi frekuensinya dan mengganti sebagian menu dengan telur, ikan, ayam segar, tahu, tempe, atau kacang-kacangan. Pilih bahan pangan yang sesuai dengan kebutuhan gizi, anggaran, dan kondisi kesehatan.
Mengurangi daging olahan tidak berarti harus menghilangkan protein dari menu. Ada banyak bahan makanan yang dapat diolah secara sederhana dan tetap lezat.
Telur bisa menjadi pilihan praktis untuk sarapan. Ikan dan ayam segar dapat digunakan sebagai lauk, sedangkan tempe, tahu, kacang merah, serta jenis kacang-kacangan lain dapat menjadi sumber protein alternatif.
Lengkapi menu dengan sayuran, buah, dan sumber karbohidrat yang beragam. Usahakan juga membatasi makanan yang terlalu asin serta menjaga keseimbangan porsi.
Jika memilih produk kemasan, jangan hanya berpatokan pada klaim seperti “tinggi protein” atau “praktis”. Periksa komposisi, kandungan natrium, ukuran sajian, dan jenis pengolahannya.
Baca Juga: Mengenal Disleksia pada Anak, Kenali Tanda-Tandanya dan Cara Mendukung Proses Belajarnya
Daging olahan memang praktis, tetapi sebaiknya tidak dijadikan menu harian yang dikonsumsi tanpa batas. Bukti ilmiah mengaitkan konsumsi daging olahan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, sementara kandungan garam pada sebagian produk juga perlu diperhatikan.
Langkah yang lebih bijak adalah mengurangi frekuensi konsumsi, memperbanyak variasi sumber protein, serta membangun pola makan yang kaya sayuran, buah, dan bahan pangan berserat. Dengan perubahan sederhana ini, kebutuhan gizi tetap dapat terpenuhi tanpa terlalu bergantung pada daging olahan.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir