Gaya Hidup
Rahman Abdullah

Benarkah Generasi Z dan Milenial Lebih Lemah? Ini 8 Tantangan yang Membentuk Ketangguhan Mereka

Benarkah Generasi Z dan Milenial Lebih Lemah? Ini 8 Tantangan yang Membentuk Ketangguhan Mereka

02 November 2026 | 18:27

Bisa jadi, mereka sedang mencari pola kerja yang lebih sesuai dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan hidup saat ini.

5. Keseimbangan Hidup Kini Menjadi Prioritas

Bagi sebagian generasi terdahulu, bertahan lama di satu perusahaan dan mengutamakan pekerjaan sering dianggap sebagai bentuk dedikasi. Namun, sebagian anak muda sekarang memiliki pandangan yang lebih luas mengenai arti keberhasilan.

Mereka tidak hanya mempertimbangkan gaji dan jabatan, tetapi juga waktu bersama keluarga, kesempatan beristirahat, lingkungan kerja, serta kesehatan mental.

Keinginan memiliki batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi terkadang disalahartikan sebagai kurangnya loyalitas.

Padahal, menjaga keseimbangan bukan berarti seseorang tidak mau bekerja keras. Hal tersebut dapat menjadi upaya agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan kebutuhan pribadi.

6. Pola Pengasuhan yang Terlalu Melindungi Bisa Mengurangi Pengalaman Menghadapi Kesulitan

Lingkungan keluarga turut membentuk kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah. Sebagian orang tua masa kini lebih terlibat dalam kehidupan anak dan berusaha melindungi mereka dari berbagai risiko.

Pola pengasuhan yang terlalu protektif, sering disebut helicopter parenting, dapat membuat anak memiliki lebih sedikit kesempatan mengambil keputusan sendiri atau belajar dari kesalahan.

Padahal, pengalaman menghadapi tantangan secara bertahap dapat membantu seseorang membangun kemandirian dan kepercayaan diri.

Meski demikian, tidak tepat jika seluruh anak muda dianggap kurang tangguh akibat pola pengasuhan tertentu. Ketahanan diri tetap dapat dikembangkan melalui pengalaman, tanggung jawab, dan kesempatan untuk menyelesaikan persoalan secara mandiri.

7. Tekanan untuk Terlihat Sempurna Dapat Memengaruhi Perilaku

Media sosial membuat kehidupan seseorang semakin mudah dibandingkan dengan orang lain. Foto liburan, pencapaian karier, hubungan romantis, hingga gaya hidup sering ditampilkan dalam versi terbaiknya.

Paparan semacam ini dapat menimbulkan dorongan untuk selalu terlihat berhasil dan mendapatkan pengakuan. Persaingan untuk tampil menonjol juga bisa memengaruhi cara seseorang membangun citra diri.

Sebagian perilaku yang terlihat seperti terlalu mementingkan diri sendiri atau haus perhatian dapat berkaitan dengan tekanan sosial tersebut. Namun, perilaku tertentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik.

Karena itu, penilaian terhadap karakter anak muda perlu dilakukan secara hati-hati. Pengaruh lingkungan digital dan tekanan sosial sebaiknya dipahami tanpa memberikan label secara berlebihan.

Baca Juga: Bukan Hanya Jago Teknologi, Ini Kemampuan yang Dibutuhkan Generasi Z agar Dilirik Perusahaan 

8. Pandangan tentang Hubungan dan Komitmen Ikut Berubah

Generasi muda saat ini memiliki pandangan yang semakin terbuka mengenai hubungan pribadi. Mereka cenderung memberi perhatian lebih besar terhadap komunikasi, kesetaraan, rasa aman, dan penghormatan terhadap batasan masing-masing.

Kesadaran terhadap perilaku manipulatif, kekerasan, atau hubungan yang tidak sehat juga membuat sebagian orang lebih berani mengakhiri hubungan yang merugikan.

Keputusan untuk berpisah terkadang dinilai sebagai bukti bahwa generasi sekarang tidak mampu mempertahankan komitmen. Namun, hubungan yang bertahan lama tidak selalu berarti hubungan tersebut berjalan sehat.

Dahulu, tekanan sosial, ketergantungan ekonomi, dan stigma perceraian dapat membuat seseorang sulit meninggalkan hubungan yang bermasalah. Kini, perubahan pendidikan, kemandirian finansial, dan kesadaran mengenai hak individu turut memengaruhi keputusan dalam hubungan.

Ketangguhan Tidak Bisa Diukur dengan Standar Satu Generasi

Generasi Z dan Milenial bukan berarti lebih lemah hanya karena memiliki kebiasaan dan cara pandang yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka menghadapi persoalan yang sesuai dengan perkembangan zaman, mulai dari tekanan digital hingga ketidakpastian ekonomi.

Di sisi lain, generasi terdahulu juga memiliki pengalaman dan kemampuan bertahan yang patut dihargai. Setiap kelompok usia mempunyai keunggulan sekaligus keterbatasan masing-masing.

Daripada saling membandingkan, setiap generasi dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang berbeda. Anak muda bisa belajar tentang ketekunan dan pengalaman hidup, sementara generasi lebih tua dapat memahami perubahan sosial serta tantangan baru yang dihadapi saat ini.

Pada akhirnya, ketangguhan bukan tentang siapa yang paling jarang mengeluh atau paling lama bertahan dalam keadaan sulit. Ketangguhan terlihat dari kemampuan memahami masalah, mencari solusi, belajar dari pengalaman, dan berani memperbaiki kehidupan.***

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
Generasi Z Milenial Ketangguhan generasi

Komentar Pengguna