Keboncinta.com-- Oksigen menjadi salah satu unsur penting yang memungkinkan kehidupan berlangsung di Bumi. Setiap hari manusia menghirup udara secara otomatis tanpa banyak menyadari betapa vitalnya kandungan oksigen bagi tubuh dan lingkungan.
Lantas, apa yang akan terjadi jika oksigen di atmosfer Bumi tiba-tiba menghilang, bahkan hanya dalam hitungan beberapa detik?
Skenario tersebut memang terdengar sederhana, tetapi dampaknya berkaitan dengan berbagai proses biologis, fisik, dan kimia yang berlangsung di planet kita. Meski begitu, sejumlah gambaran populer tentang hilangnya oksigen selama lima detik perlu dilihat kembali berdasarkan penjelasan ilmiah.
Baca Juga: Lulusan SMA 2024, 2025, 2026 Bisa Daftar KIP Kuliah Jalur Mandiri, Ini Tahapannya
Tubuh manusia memerlukan oksigen untuk menjalankan respirasi seluler. Proses tersebut menghasilkan energi yang dibutuhkan sel agar berbagai fungsi tubuh dapat berlangsung.
Hal serupa juga berlaku pada banyak hewan yang menggunakan oksigen untuk mendukung metabolisme dan mempertahankan fungsi tubuhnya.
Di luar tubuh makhluk hidup, oksigen juga berperan dalam berbagai proses di atmosfer, biosfer, serta lingkungan Bumi. Karena itu, perubahan besar terhadap jumlah oksigen di atmosfer tentu dapat menimbulkan konsekuensi yang luas.
Namun, tidak semua efek yang kerap disebut dalam skenario “oksigen hilang selama lima detik” akan otomatis terjadi seketika. Beberapa klaim populer justru mencampurkan karakteristik oksigen atmosfer dengan sifat unsur oksigen yang terdapat dalam senyawa lain.
Salah satu anggapan yang sering muncul adalah langit akan berubah menjadi gelap total ketika oksigen menghilang dari atmosfer.
Secara ilmiah, warna biru langit tidak hanya ditentukan oleh keberadaan oksigen. Warna tersebut terutama muncul akibat proses hamburan cahaya Matahari oleh molekul-molekul gas di atmosfer, termasuk nitrogen dan oksigen.
Artinya, hilangnya oksigen saja tidak serta-merta membuat langit berubah menjadi hitam seperti malam.
Meski demikian, apabila komposisi atmosfer berubah secara drastis, kondisi fisik atmosfer Bumi juga akan mengalami perubahan besar. Jadi, dampaknya tetap sangat serius, hanya saja tidak selalu sesuai dengan gambaran populer yang beredar.
Baca Juga: Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027: Catat 26 Tanggal yang Sudah Ditetapkan Pemerintah
Oksigen dan ozon memang memiliki hubungan kimia, tetapi keduanya merupakan molekul yang berbeda.
Oksigen yang biasa terdapat di atmosfer berbentuk O₂, sedangkan ozon tersusun atas tiga atom oksigen atau O₃. Ozon berada terutama di lapisan stratosfer dan memiliki peranan penting dalam menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet berbahaya dari Matahari.
Karena itu, hilangnya oksigen atmosfer dalam waktu singkat tidak dapat disamakan begitu saja dengan hilangnya lapisan ozon secara instan.
Jika lapisan ozon mengalami kerusakan dalam jangka panjang, radiasi ultraviolet yang mencapai permukaan Bumi dapat meningkat dan memberikan dampak terhadap manusia serta berbagai organisme.
Dengan demikian, oksigen dan ozon saling berkaitan, tetapi keduanya tidak dapat dianggap sebagai hal yang sama.
Skenario lain yang sering dikaitkan dengan hilangnya oksigen adalah air di Bumi akan langsung berubah atau lenyap.
Anggapan ini juga perlu diluruskan. Air memiliki rumus kimia H₂O, yang berarti satu molekul air terdiri atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen.
Akan tetapi, oksigen yang menjadi bagian dari molekul air berbeda dengan oksigen bebas berupa O₂ yang berada di atmosfer dan digunakan manusia untuk bernapas.
Oleh karena itu, jika oksigen bebas di atmosfer berkurang atau menghilang untuk beberapa detik, lautan, sungai, dan air di permukaan Bumi tidak otomatis berubah menjadi gas atau menghilang.
Hal tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara oksigen sebagai unsur penyusun senyawa dengan oksigen bebas yang terdapat di udara.
Baca Juga: Guru Peserta PPG Tahap 3 2026 Wajib Tahu, Ini Urutan dan Jadwal Setiap Tahapannya
Atmosfer Bumi pada masa awal pembentukannya tidak memiliki komposisi yang sama dengan atmosfer saat ini.
Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, kondisi atmosfer Bumi sangat berbeda. Kandungan oksigen bebas kemudian meningkat secara bertahap, salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas organisme fotosintetik, termasuk sianobakteri.
Salah satu tonggak penting dalam sejarah atmosfer Bumi adalah Great Oxidation Event atau Peristiwa Oksidasi Besar. Peristiwa ini berlangsung sekitar 2,4 miliar tahun lalu dan ditandai dengan peningkatan kadar oksigen di atmosfer secara signifikan.
Perubahan komposisi atmosfer tersebut turut mengubah lingkungan Bumi dan menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan kehidupan.
Pertanyaan mengenai kemungkinan habisnya oksigen di Bumi juga sering muncul ketika membahas masa depan planet kita.
Dalam rentang waktu miliaran tahun, Matahari akan mengalami perubahan yang memengaruhi kondisi Bumi. Peningkatan luminositas Matahari pada masa depan dapat memengaruhi iklim serta siklus karbon.
Dalam jangka yang sangat panjang, perubahan tersebut berpotensi membuat kondisi Bumi semakin tidak sesuai untuk mempertahankan kehidupan seperti yang ada sekarang.
Namun, waktu dan proses pasti yang berkaitan dengan perubahan kadar oksigen sangat bergantung pada model ilmiah yang digunakan. Karena itu, pernyataan mengenai oksigen akan habis pada tanggal atau tahun tertentu tidak seharusnya dianggap sebagai kepastian mutlak.
Baca Juga: Aturan Baru Tenaga Sekolah 2026: Ini Syarat Pendidikan dan Kompetensi Guru hingga Operator
Terlepas dari berbagai skenario ekstrem mengenai hilangnya oksigen, menjaga kondisi lingkungan tetap sehat tetap menjadi hal yang penting dilakukan.
Pelestarian hutan, perlindungan ekosistem, penambahan ruang terbuka hijau, serta pengurangan pencemaran udara merupakan sejumlah upaya yang dapat membantu mempertahankan kualitas lingkungan.
Penggunaan kendaraan pribadi secara lebih bijak, memilih transportasi umum ketika memungkinkan, dan mengurangi aktivitas yang menghasilkan polusi juga dapat berkontribusi terhadap kualitas udara.
Oksigen mungkin terasa sebagai sesuatu yang biasa karena selalu tersedia dalam udara yang kita hirup. Namun, keberadaannya merupakan bagian dari sistem Bumi yang kompleks dan telah berkembang selama miliaran tahun hingga mampu menopang kehidupan seperti sekarang.***