Keboncinta.com-Scaffolding dalam pembelajaran adalah cara guru memberi bantuan sementara supaya siswa dapat memahami konsep atau menyelesaikan tugas yang belum mampu dikerjakan secara mandiri. Bantuan diberikan sesuai kebutuhan, lalu dikurangi ketika kemampuan siswa meningkat. Tujuannya bukan membuat siswa terus bergantung pada guru, melainkan membantu mereka belajar hingga percaya diri mengerjakan tugas sendiri.
Di kelas, kemampuan siswa sering berbeda. Ada yang langsung memahami soal setelah membaca petunjuk, sedangkan yang lain membutuhkan contoh, pertanyaan pemandu, atau gambar. Scaffolding membantu guru menanggapi perbedaan tersebut tanpa harus memberikan jawaban jadi kepada semua siswa.
Secara sederhana, scaffolding berarti penyangga belajar. Seperti perancah sementara pada sebuah bangunan, bantuan guru dipakai ketika diperlukan dan dilepaskan setelah siswa mampu melanjutkan sendiri. Education Endowment Foundation (EEF) menjelaskan bahwa bantuan yang baik dapat berbentuk visual, lisan, atau tertulis, dengan kadar dukungan yang disesuaikan terhadap kemampuan siswa.
Scaffolding bukan nama satu metode dengan urutan wajib yang sama untuk setiap pelajaran. Guru dapat menggabungkannya dengan demonstrasi, latihan terbimbing, diskusi, atau tugas individu. Perbedaannya dari sekadar memberi tahu jawaban adalah siswa tetap melakukan proses berpikir dan mencoba menyelesaikan tantangannya sendiri.
1. Bantuan visual. Guru menyediakan gambar, diagram alur, bagan langkah kerja, kartu kosakata, atau contoh hasil tugas. Misalnya, siswa menggunakan gambar pecahan sebelum menjumlahkan pecahan secara simbolis.
2. Bantuan lisan. Guru memberikan pertanyaan pemandu seperti, “Informasi apa yang sudah diketahui?” atau “Langkah mana yang bisa kamu coba lebih dahulu?” Petunjuk bertahap lebih baik daripada langsung menyampaikan seluruh jawaban.
3. Bantuan tertulis. Guru menyiapkan kerangka paragraf, kata kunci, kalimat pembuka, daftar pemeriksaan, atau contoh soal yang sebagian langkahnya sudah terisi. Dukungan ini dapat dipersingkat seiring kemajuan siswa.
Baca Juga: Metode Pembelajaran Terbalik (Flipped Classroom): Ketika Siswa Menjadi Pengajar
Pertama, cek kemampuan awal siswa. Gunakan pertanyaan singkat atau satu tugas sederhana untuk mengetahui bagian yang sudah dikuasai dan bagian yang masih sulit.
Kedua, tentukan hasil belajar. Guru perlu menjelaskan seperti apa pekerjaan yang benar. Dengan begitu, siswa memahami arah kegiatan dan dapat memeriksa kemajuannya.
Ketiga, beri bantuan paling ringan terlebih dahulu. Minta siswa mencoba, kemudian beri petunjuk atau pertanyaan. Jika belum cukup, lanjutkan dengan model pengerjaan atau contoh yang lebih jelas. EEF menyarankan agar dukungan tidak diberikan secara berlebihan sejak awal.
Keempat, dampingi latihan. Berikan kesempatan siswa mempraktikkan langkah yang baru dipelajari. Guru memperhatikan kesalahan yang berulang dan memberi umpan balik yang spesifik.
Kelima, kurangi bantuan secara bertahap. Ketika siswa dapat menjelaskan alasan atau menyelesaikan beberapa soal dengan benar, hilangkan sebagian petunjuk. Periksa lagi melalui tugas mandiri yang sejenis.
Misalnya, siswa kelas IV mempelajari keliling persegi panjang. Guru terlebih dahulu menunjukkan gambar persegi panjang dengan panjang 8 cm dan lebar 5 cm, lalu bertanya sisi mana yang memiliki ukuran sama.
Pada percobaan pertama, guru memberi contoh penjumlahan 8 + 5 + 8 + 5 = 26 cm.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir